Polisi Tampik Masuk Angin

Polisi Tampik Masuk Angin

  Selasa, 3 November 2015 08:30

Berita Terkait

   JAKARTA – Kepolisian membantah “masuk angin” mengusut kasus dugaan pembakaran hutan dan lahan yang melibatkan perusahaan. Sejumlah penyidikan terhadap perusahaan terkesan jalan di tempat dan lamban.  “Insyaallah tidak. Cuma ban yang “masuk angin”,” kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Charliyan di Mabes Polri, Senin (2/11).   Meski membantah “masuk angin”, Polri mengakui ada keterlambatan dalam mengusut kasus dugaan pembakaran hutan dan lahan yang melibatkan korporasi. “Mohon maaf, kalau ada keterlambatan kami akui,” ungkap jenderal bintang dua ini.

   Berdasarkan data Polri hingga  30 Oktober 2015, jajaran  Polri menangani 276 laporan polisi, terdiri dari  216 perorangan dan 60 korporasi termasuk enam perusahaan asing. Kasus yang masih diselidiki ada 28, penyidikan 116 terdiri dari 60 perorangan dan 51 korporasi.Kemudian, yang sudah tahap satu ada 67 kasus, terdiri dari 59 perorangan dan delapan korporasi. Yang sudah dinyatakan lengkap atau P21 ada tiga, terdiri dari dua perorangan dan satu korporasi. Tahap dua ada 67 perorangan.Total tersangka yang dijerat ada 258, terdiri dari 241 perorangan dan 17 korporasi. Tersangka yang ditahan ada 83, terdiri dari 78 perorangan dan lima korporasi.

Dari jumlah Kalbar menangani 31 laporan polisi. Yang masih penyidikan ada 15, terdiri dari 11 perorangan. Sejauh ini, empat  perusahaan yang masih disidik Polda Kalbar belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Kasus yang sudah tahap satu ada 12 perorangan. Tahap dua ada empat perorangan.Anton mengakui memang banyak kendala dalam menangani kasus karhutla yang berkaitan dengan perusahaan. Menurut dia, setiap kasus memiliki kesulitan sendiri. Namun, dia meminta masyarakat untuk tidak underestimate atas upaya yang tengah dilakukan Polri.  

Dijelaskan Anton, dalam menentukan apakah lahan sengaja atau tidak sengaja dibakar, atau menjadi korban pembakaran merupakan hal yang tak sederhana.  Perusahaan tentu juga melakukan pembelaan. “Jadi, bukan masalah (polisi) berani atau tidak berani,” kata dia.Pihaknya tidak ingin asal-asalan menjerat korporasi. Polisi menghindari jangan sampai muncul rekayasa menjerat korporasi. Dalam penegakan hukum membutuhkan bukti dan fakta yang kuat. “Kami tidak ingin terjebak kriminalisasi. Kami mengedepankan istilah keadilan hukum, bukan masalah berani atau tidak berani,” katanya.

Lebih jauh dia mengatakan, asap di beberapa wilayah sudah agak berkurang. Namun, tim masih disiagakan di masing-masing daerah.  Termasuk tim pemadaman dan kemanusiaan.Pada bagian lain, pemerintah diminta fokus menangani bencana asap dan tidak terganggu dengan manuver politik pembentukan panitia khusus asap di DPR. “Pemerintah fokus saja ke penanganan bencana asap,” ujar Wakil Ketua Fraksi Nasdem Johnny G Plate, Senin (2/11).  

Sedangkan setiap anggota yang daerah pemilihannya terbakar, Johnny berharap bisa turun langsung ke lapangan guna mengecek langsung kondisi masyarakat yang menjadi korban. Pengamat sosial politik Arief Nuralam  mengatakan system tata kelola hutan dan lingkungan dari pemeirntah rapuh sehingga 70 persen lahan yang dibakar adalah lahan yang ada dalam perlindungan pemerintah.  Karenanya, kata dia, ke depan Presiden Joko Widodo harus mampu membuat road map dan menggerakan segala sumber daya, terutama Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup bekerja secara berkelanjutan agar  antisipasi dapat dirancang dan bencana asap tak terulang lagi. “Pada saat yang sama juga harus tegas dalam reward and punishment," kata Arief.

    Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono berharap adanya transparansi dalam proses penegakan hukum yang dilakukan kepolisian dalam menindak pelaku pembakaran lahan dan hutan yang berasal dari korporasi. “Ya, yang penting proses penegakan hukumnya harus dijalankan dengan transparan dan cermat, diproses yang baiklah. Jangan sampai nanti ada motivasi yang berbeda," jelas Joko.Menurut Joko, sejumlah perusahaan sawit seharusnya tak bisa disalahkan menjadi penyebab kebakaran hutan. Pasalnya, banyak lahan yang terbakar di area lahan sawit yang tak diketahui siapa pembakarnya. (ody)

Berita Terkait