Polisi Sita 15 Ekor Trenggiling

Polisi Sita 15 Ekor Trenggiling

  Jumat, 14 Oktober 2016 18:07

Berita Terkait

PONTIANAK- Sebanyak 15 ekor Trenggiling disita dari rumah salah satu warga bernama Ben alias Ajan (42), di Desa Belikai Kecamatan Seberuang, Kabupaten Kapuas Hulu. Saat ini pelaku berikut barang bukti diamankan di Polres Kapuas Hulu.

Kapolres Kapuas Hulu AKBP Sudarmin mengatakan, terungkapnya kasus tersebut berawal dari informasi masyarakat tentang adanya perdagangan satwa dilindungi jenis trenggiling di Kecamatan Seberuang Kabupaten Kapuas Hulu.

Informasi ini pun langsung direspon dengan menurunkan tim penyelidik dari Polres dibawah pimpinan Ipda Adit Bambang.

Hasil penyelidikan, ternyata benar di rumah pelaku Ben alias Ajan, di Desa Belikai Kecamatan Seberuang dan ditemukan 15 ekor satwa langka jenis trenggiling dalam keadaan mati yang disimpan dalam dua buah freezer.

"Pelaku dan barang bukti saat ini diamankan di Polres Kapuas Hulu, untuk pemeriksaan lebih lanjut," katanya.

Terpisah Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Drs. Suhadi menambahkan bahwa pelaku Ben, perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih mendalam terkait masalah binatang langka jenis trenggiling ini mau dibawa kemana.

Menurut Suhadi, sisik atau kulit Trenggiling itu merupakan bahan baku pembuatan precursor,  dimana precursor itu sendiri merupakan bahan baku pembuatam Narkoba. Oleh karenanya perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih mendalam.

Kepada tersangka bisa dikenakan pasal 21 ayat (2) huruf C , Yo pasal  40 ayat (2) Undang Undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem.

Dimana dalam pasal tersebut tersirat secara gamblang, barang siapa memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian lain dari satwa yang dilindungi, atau barang barang yang dibuat dari bagian bagian satwa tersebut, atau mengeluarkan dari suatu tempat di Indonesia dipidana paling lama 5 tahun dan denda 100 juta rupiah.

Oleh karenanya masyarakat dihimbau, jika memelihara satwa langka agar segera menyerahkan kepada aparat Kepolisian atau menyerahkan ke Balai Konservasi Sumber  Daya Alam yang ada di ibu Kota Kabupaten, masyarakat tinggal memilih, mau diperlakukan sebagai tersangka atau mau diperlakukan sebagai warga yang taat hukum, jika ingin diperlakukan sebagai warga yang taat hukim, mari kita beramai ramai menyerahkan hewan langka kepada aparat yang berwenang, bisa ke Polisi bisa juga ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam.(arf)

Berita Terkait