Polisi Siaga, Isu Demo Tak Terbukti

Polisi Siaga, Isu Demo Tak Terbukti

  Selasa, 17 May 2016 10:35
WATER CANON: Aparat kepolisian bersiaga menyambut demo yang batal. Kendaraan water canon pun disiagakan. WAHYU/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PUTUSSIBAU—Rencana pergerakan masa dari sejumlah kecamatan yang akan beraudensi ke DPRD Kapuas Hulu, Senin (16/5) tidak terbukti. Kedatangan masa yang diperkirakan mencapai ribuan orang ini justru diperkirakan pada Selasa (17/5) hari ini. Kendati demikian, aparat kepolisian dari Mapolres Kapuas Hulu tetap menjaga ketat sejumlah fasilitas pemerintah yang dipredeksikan jadi tujuan masa.

Sejumlah personil Polri stanbay di gedung DPRD Kapuas Hulu, demikian juga dengan kendaraan roda empat seperti Dalmas dan Water Canon juga sudah disiapkan. Massa yang akan melakukan aksi tidak kunjung datang, personil kepolisian bersama kendaraan yang disiapkan akhirnya keluar dari halaman DPRD Kapuas Hulu sekitar pukul 12.00 Wib, kendati demikian pengamanan tetap mereka dilakukan.

Informasi diproleh, kedatangan masa dari sejumlah kecamatan di Kapuas Hulu mempertanyakan dan memprotes kebijakan pemerintah terhadap penertiban PETI, penjualan BBM, pembakaran lahan ladang berpindah dan sejumlah penangkapan pekerja peti dan penjual BBM.Menanggapi persoalan ini, Ketua MPC Pemuda Pancasila Kapuas Hulu Kusferi AC mengaku dia prihatin atas kondisi saat ini.

Dia mengatakan, saat ini masyarakat sangat resah atas tindakkan yang dilakukan oknum kepolisian, baik itu dalam menindak PETI, BBM dan kegiatan masyarakat lainnya. Menurut dia, penegakkan hukum lebih tajam kebawah ketimbang ke atas. Ia mencontohkan, penangkapan emas milik Japit warga Boyan beberapa waktu lalu, hingga saat ini kepolisian juga tak menindaklanjuti secara serius.

“Masyarakat menambang emas yang mencari makan sehari-hari mereka ‘sikat’,” tegasnya. Mantan anggota DPRD Kapuas Hulu ini mengatakan, secara undang-undang masyarakat menambang emas secara ilegal memang salah, tapi mesti ada kebijakan. Menurut dia, jika polisi menertibkan kegiatan illegal masyarakat harus benar-benar ditegakan sesuai aturan berlaku, jangan sampai ada pilih kasih.

Kapolres Kapuas Hulu AKBP Sudarmin SIK mengaku, sejak dirinya memimpin Polres Kapuas Hulu sudah empat kali jajarannya melakukan penindakan dalam penertiba Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) sepanjang jalur sungai Kapuas hingga perbatasan Silat Hilir. Hasil penindakkan itu ada sekitar 400 gram emas berbentukserbuk telahmereka amankan dan proses hukumnya masih tetap berjalan.

“Tangkapan 400 gram emas tersebut berasal dari daerah Boyan Tanjung, Mentebah dan Silat Hilir,” terang Sudarmin. Dia menjelaskan, dari hasil penertiban dilapangan,  pihaknya menemukan kurang lebih 100 mesin penyedot emas, sedikitnya 30 personil diterjunkan saat itu. Dia mengaku saat tim dari Polres sampai lokasi, memang sudah takada lagi kegiatanmasyarakat yang menambangan emas.

Sehingga anggotanya melakukan pemusnahan dengan menenggelamkan mesin tersebut ke sungai. Kapolres juga mengaku banyak masyarakat yang tidak puas atas tindakkan penertiban PETI yang dilakukan oleh pihaknya. Kendati begitu, bukan hanya masyarakat Kapuas Hulu saja yang tak puas dengan kinerja polisi. Kemungkinan di seluruh Indonesia masyarakatnya tidak puas atas penertiban.

“Kegiatan PETI dijalur sungai itu dilarang dan memang harus ditertibkan,” tegas pria melati dua di pundaknya itu. Disinggung upaya menggelapkan barang bukti emas, dirinya membantah jika emas tersebut digelapkan oleh pihaknya. Hingga saat ini barang bukti tersebut masih ada dan masih dalam proses penyidikan. Dia menegaskan, polisi tidak akan menggelapkan atau mengurangi barang bukti.

"Jika kasus emas tersebut sudah masuk pada tahap dua, tentunya polisi tidak berani untuk mengurangi atau mengambil sepeserpun dari barang bukti,” tegasnya. Untuk barang bukti, termasuk tersangka akan dilimpahkan ke kejaksaan. Dalam persidangan tergantung hasil putusan pengadilan. “Polisi tidak ada kewenangan melakukan pelelangan atau pemusnahan barang bukti," jelasnya.(aan)

Berita Terkait