Polisi Sayangkan Putusan Hakim

Polisi Sayangkan Putusan Hakim

  Kamis, 19 May 2016 09:30
Ilustrasi

Berita Terkait

Soal Perkara Eksploitasi Anak dan Seks

PONTIANAK - Direktorat Reserse Umum Polda Kalbar Kombes Pol Awang Joko Rumito akan melakukan koordinasi dengan kejaksaan atas putusan bebas terdakwa SB, manajer perkebunan sawit yang terlibat eksploitasi seksual anak di bawah umur. “Kita akan berkoordinasi dengan jaksa,” ujar Awang, Rabu (18/5) siang.

Awang mengaku kecewa atas putusan tersebut. Menurutnya saat ini kasus kekerasan seksual sedang menjadi sorotan. Terlebih pemerintah pusat sedang menyiapkan ramuan untuk menangkal predator seks, namun justru hakim memutus bebas. “Padahal terdakwa ini tertangkap tangan sedang berkencan dengan anak di bawah umur,” katanya.

Awang mengaku, memang pada saat melakukan penanganan terhadap perkara tersebut, pihaknya mendapat berbagai tekanan. Namun, karena perkara ini merupakan perkara eksploitasi terhadap anak, maka tetap lanjut sesuai dengan ketentuan hukum. ”Jujur ini juga menjadi tanggung jawab saya kenapa terdakwa sampai diputus bebas,” katanya.

Sebelumnya pelaku diamankan anggota Reserse Mobile (Resmob) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kalbar saat mengencani anak bawah umur di salah satu hotel berbintang di Jalan Gajah Mada.

Dalam penggerebekan itu ditemukan sejumlah uang sebesar Rp1,4 juta dari tangan FR. Uang tersebut adalah hasil kesepakatan transaksi yang dilakukan FR terhadap SB, yang tak lain adalah seorang pengusaha asal Pontianak.

Korban mendapatkan fee sebesar Rp1,3 juta. Sedangkan dari tangan MM (penghubung) ditemukan uang Rp300 ribu fee hasil dari menghubungkan antara korban dengan tersangka SB.

Korban merupakan siswi kelas dua salah sekolah menengah pertama di Pontianak. “Yang jelas usur percobaannya ada. Karena saat dilakukan penggerebekan, keduanya sedang tidak mengenakan pakaian yang lengkap,” jelasnya.

Setelah dilakukan penggerebekan, korban bersama tiga tersangka dibawa ke Mapolda Kalbar untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dijelaskan Awang, penggerebekan terhadap dugaan tindak pidana trafficking atau eksploitasi anak bawah umur ini berawal dari informasi masyarakat, korban terlihat sering pulang malam.

Pada keesokan harinya dilakukan penyelidikan dan dugaan yang disampaikan masyarakat itu benar. Setelah diselidiki dan diikuti, korban berboncengan dengan saudara sepupunya, FR berangkat ke salah satu hotel di Jalan Gajah Mada. Kemudian di hotel tersebut mereka mengobrol di warung kopi bersama satu laki-laki yang diketahui berinisial MM. Ketiganya kemudian masuk  ke lobi hotel. Kemudian menuju kamar yang telah ditentukan.

Di dalam kamar, ada seorang laki-laki berinisal SB yang sebelumnya telah menunggu. Selama 10 menit mereka berbincang-bincang. Tak lama kemudian FR dan MM meninggalkan korban bersama SB di dalam kamar.Sesaat kemudian dilakukan penggerebekan oleh petugas.

MM dan FR ditangkap dan digeledah. Sedangkan SB ditangkap di dalam kamar bersama korban. Dalam penggeledahan itu, polisi juga menemukan tiga buah alat kontrasepsi.“Berdasarkan pemeriksaan, korban pernah melakukan hal yang sama tiga bulan lalu. Ini yang masih kami kembangkan. Siapa pelakunya dan siapa yang memperkenalkan? Apakah ini merupakan jaringan atau karena alasan lain. Yang jelas, korban mengaku diiming-imingi FR, saudara sepupunya sendiri,” lanjutnya.

Demi kepentingan penyidikan, korban dilakukan visum. “Hasilnya nanti kami sampaikan. Tapi tidak sekarang,” pungkasnya. Atas perbuatannya itu, tersangka KR akan dikenai pasal 88 UU Nomor 35 tahun 2014 dengan. “Sementara itu, untuk tersangka MM dan SB dikenai pasal 88 UU Nomor 35 tahun 2014 Jo Pasal 56 KUHP dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 10 tahun dengan denda Rp5 miliar,” pungkasnya. (arf)

Berita Terkait