Polemik Larangan Cadar di Kampus

Polemik Larangan Cadar di Kampus

  Rabu, 29 November 2017 09:07   103

Oleh: Muhammad Lutfi Hakim

FENOMA larangan menggunakan cadar (niqob) bagi wanita muslimah di lingkungan kampus mulai menjadi polemik di masyarakat, terutama umat Islam di Indonesia. Kenapa tidak? Pasalnya, pelarangan tersebut tidak hanya diterapkan di kampus-kampus umum, baik swasta maupun negeri, tetapi juga kampus-kampus berbasis Islam seperti IAIN Jember, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Walisongo Semarang.

Melihat fenomena tersebut, tidak boleh disikapi dengan sembarang dan tanpa kajian yang mendalam, karena bisa nimbulkan dampak yang besar. Terlebih lagi, kampus-kampus seperti IAIN dan UIN perupakan pusat dari para pakar, ahli dan ilmuan profesional dalam kajian Islam (Islamic studies). Untuk menyikapinya, perlu ditelusuri terlebih dahulu asal-usul dari cadar itu sendiri, hukumnya seperti apa dan latar belakang pelarangan yang diterapkan di beberapa kampus tersebut.

Dilihat dari definisinya, cadar adalah kain penutup kepala atau muka bagi wanita (KBBI Online). Cadar berasal dari bahasa Arab, yaitu niqob yang berarti sejenis kain yang digunakan untuk menutupi wajah, minimal untuk menutupi hidung dan mulut. Cadar merupakan versi lanjutan dari jilbab yang merupakan kewajiban (berjilbab) bagi setiap wanita muslimah berdasarkan firman Tuhan dalam surah al-Ahzab ayat 59. Penggunaan cadar menambahkan penutup wajah sehingga hanya terlihat mata mereka saja, bahkan telapak tangan pun harus ditutupi.

Penggunaan cadar bagi wanita ini sering kita lihat beberapa Negara Timur Tengah. Arab Saudi mislanya, wanita yang pergi tanpa menggunakan cadar diberi sanksi. Di sana, wanita tidak diizinkan untuk pergi ke luar rumah sendiri tanpa ditemani muhrimnya (seorang yang tidak boleh kawin dengannya). Keadaannya sangat berbeda jika dibandingkan dengan wanita di Negara Asia Tenggara seperti Indonesia. Di Negara ini, wanita sejak dulu telah memainkan peranan yang penting dalam sektor ekonomi. Sulit menemukan rumah tangga muslim di Negara ini yang wanitanya tidak mencari nafkah. Artinya, wanita sejak semula telah diekspos dalam kehidupan di Indonesia, begitu juga pakaian yang digunakan.

Ditinjau dari dasar hukumnya, tidak ada satupun nash al-Qur’an dan hadits yang maqbul (hadits yang dapat dijadikan sumber hukum) mewajibkan seorang wanita untuk menggunakan cadar. Ada sebuah hadits shahih yang membahas tentang cadar, itupun melarang wanita untuk menggunakan cadar ketika ihram: “Abdullah bin Umar r.a. berkata, “Seorang laki-laki berdiri lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, pakaian apakah yang engkau perintahkan kami mengenakan di dalam ihram?’ Nabi SAW menjawab, ‘Janganlah kalian memakai qamis, celana, sorban, dan topi. Jika seseorang tidak mempunyai sepasang sandal, maka hendaklah ia memakai khuff (sepatu tinggi) dan ia potong di bawah mata kaki. Dan janganlah kalian memakai sesuatu pun yang tersentuh za’faran dan wangi-wangian. Dan janganlah wanita yang sedang ihram memakai cadar dan kaos tangan.” (HR. Bukhari)

Mayoritas para ulama berpendapat bahwa hukum menggunakan cadar tidaklah wajib. Hal ini dapat dipahami bahwa aurat wanita adalah seluruh badan, kecuali wajah dan telapak tangan. Oleh karena itu, wanita diperkenankan untuk menggunakan cadar atau tidak menggunakan cadar, alias boleh membuka wajah dan telapaknya. Inilah pendapat jumhur ulama Hanafiyyah, Malikiyyah dan Syafi’iyyah (Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, 1983: 134). 

Jadi, dapat disimpulkan bahwa hukum menggunakan cadar adalah boleh (mubah). Artinya, wanita muslimah yang tidak menggunakan cadar dengan menutup anggota tubuhnya keculi muka dan telapak tangan bukan berarti syariat berpakaiannya tidak sempurna. Sama sempurnanya dengan wanita muslimah yang bercadar, karena hukum menggunakannya tidaklah wajib (mubah).

Jika kita kaitkan dengan fenomena pelarangan menggunakan cadar di lingkungan kampus, berarti pelarangan tersebut tidaklah bertentangan dengan hukum Islam dan Hak Asasi Manusia (HAM). Karena, larangan tersebut bukan membatasi seseorang menjalankan apa yang diperintahkan (diwajibkan) oleh Allah SWT. Apabila pelarangan tersebut berkaitan dengan apa yang diwajibkan, seperti tidak boleh sholat jum’at bagi satpam (laki-laki), maka itu bertentangan hukum Islam dan HAM.

Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang melarang dosen dan mahasiswi menggunakan cadar berdalih bahwa cadar merupakan tradisi Arab. Dengan bercadar, antara dosen dengan mahasiswa tidak dapat saling mengenal antara satu sama lain. Padahal di sebuah institusi seperti kampus, para pimpinan harus mengenal semua mahasiswa dan dosen yang bekerja di institusi tersebut. Selain itu, bercadar saat proses pembelajaran dapat mengganggu pola komunikasi antara dosen dan mahasiswa. Sebab, mahasiswa tidak bisa melihat gerak bibir saat menyampaikan pelajaran dan begitu juga sebaliknya.

Hemat penulis, pelarangan menggunakan cadar bagi wanita muslimah ini analoginya sama dengan pelarangan tidak boleh makan dan minum di dalam kelas, tidak boleh pakai sandal dan kaos oblong, tidak boleh berrambut gondrong, dan sebagainya. Di luar lingkungan kampus, kita tidak dilarang bercadar, makan, minum, sandal, kaos oblong, rambut gondrong. Karena, semuanya itu adalah sesuatu yang hukumnya mubah, boleh dilakukan dan boleh juga tidak dengan tetap memperhatikan dan menghormati hukum yang berlaku di sebuah institusi tersebut. Wallahu a’lam bi al-shawab.

*Penulis: Dosen Hukum Islam IAIN Pontianak