Pola Asuh Anak Autis di Rumah

Pola Asuh Anak Autis di Rumah

  Rabu, 6 April 2016 10:11

Berita Terkait

Terapi anak penyandang autis melalui kelas khusus yang ditangani profesional memang penting. Tetapi jauh lebih penting jika orang tua memberikan perlakukan yang tepat ketika anak di rumah. Tumbuh kembang anak akan menjadi lebih maksimal apalagi jika proses terapi berjalan lancar. 

Oleh : Marsita Riandini

Pola asuh memberikan pengaruh yang sangat besar untuk tumbuh kembang anak. Terutama ketika mendapati anak yang berkebutuhan khusus. Tentu perlakukan yang dilakukan juga harus khusus. Salah satunya ketika anak dengan autisme, maka orang tua tidak bisa memperlakukan anak ini sama dengan anak pada umumnya. 

Hal pertama yang harus dipahami oleh orang tua anak merupakan karunia Tuhan. Apapun kondisinya harus diterima dan diakui serta diperlakukan selayaknya anak. Demikian yang disampaikan oleh Ismi Ardhini, M. Psi, Psikolog kepada For Her. “Orang tua tidak boleh malu ketika dikarunia anak dengan autis. Tetapi sebaliknya ayo bersama-sama untuk memberikan pola asuh yang tepat, baik bersama terapis maupun psikolog. Orang tua harus mencari informasi seluas-luasnya untuk kebaikan anak,” ucap Kepala UPTD Autis Center, Jalan Tabrani Ahmad ini. 

Terapi anak penyandang autis melalui kelas khusus yang ditangani profesional memang penting. Namun tidak bijak, lanjut dia jika hanya mengandalkan proses terapi di sebuah lembaga tetapi tidak diimbangi dengan terapi serta pola asuh yang baik di rumah. “Yang tahu anaknya berkebutuhan khusus sejak awal itu khan orang tua dirumah. Sementara terapis, maupun psikolog itu hanya membantu penanganannya saja agar tumbuh kembang anak menjadi lebih baik,” ucap dia. 

Ketika anak sudah dimasukkan ke lembaga terapi ataupun sekolah khusus untuk anak autis, maka orang tua juga harus mengikuti perkembangan anak. “Pahami apa saja yang menjadi kebutuhan anak, apa saja yang harus dijauhi anak, serta apa saja yang harus dilakukan anak,” jelas Ismi. 

Kebanyakan lanjut dia, anak mendapatkan perlakukan di sekolah dan di rumah berbeda. “Ketika di sekolah anak mendapatkan aturan-aturan yang bermanfaat baik untuk mereka, tetapi ketika dirumah ternyata aturan tersebut diindahkan. Hasilnya pasti tidak maksimal,” jelasnya. 

Dia mencontohkan, pada anak autis ada makanan tertentu yang tidak boleh dimakan. Sebab itu akan memicu ketidakstabilan emosi anak. Salah satunya mie instan. “Jika disekolah anak tidak diperbolehkan, tetapi dirumah dibiarkan. Tentu anak menjadi membantah. Apalagi jika anggota keluarga ada yang makan, tentu anak juga ingin,” ucap dia yang mengatakan tak hanya orang tua saja, tetapi anggota keluarga lain juga harus ikut memahami juga.

Contoh lainnya, kata dia ada anak yang tidak boleh marah. Jika dibiarkan maka emosi anak akan meledak-ledak. “Kalau di sekolah, biasanya anak emosi anak bisa diredam. Tetapi kalau di rumah, jika orang tua tidak kuasa, anak pasti akan terus mengamuk,” ungkapnya. 

Tetapi, sama dengan anak pada umumnya, anak dengan autis juga satu sama lain tidak sama. Perlakukannya pun akan berbeda-beda. “Disinilah orang tua harus memahami bagaimana perlakuan yang tepat untuk anak mereka. Sebab kalau anak yang satu dengan yang lainnya jelas beda, sekalipun mereka sama-sama autis,” jelas dia. 

Anak dengan autis itu, kata dia ada yang berada pada tingkat ringan, sedang tetapi ada pula yang berat. “Pada anak yang ringan hanya membutuhkan terapi ringan dan bisa sekolah dengan cepat. Tetapi yang berada di tingkat sedang dan berat, terapinya berbeda dan butuh beberapa waktu untuk bisa masuk ke sekolah,” 

UPTD Autis Center juga  menyediakan tempat terapi bagi anak-anak penyandang autis yang diberikan secara gratis. Tanggal 2 April 2016 lembaga ini juga merayakan  Hari Autis dunia. Puncaknya akan berlangsung pada 9 April 2016, pukul 07.30. Acara ini juga menggandeng orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus lainnya. “Jadi tidak hanya anak autis saja, anak berkebutuhan khusus lainnya juga ikut. Acara akan berlangsung di depan Taman Alun Kapuas,” pungkasnya. 

Berita Terkait