PKBM Komitmen Tuntaskan Buta Aksara

PKBM Komitmen Tuntaskan Buta Aksara

  Senin, 3 Oktober 2016 10:29
PESERTA: Tiga peserta buta aksara belum lama ini mengkuti lomba membaca, menulis dan berhitung di Kampung Literasi, Kelurahan Sungai Wie, Kecamatan Singkawang Tengah.

Berita Terkait

SINGKAWANG—Pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) akan berkomitmen menuntaskan buta aksara yang masih ada di lingkungan masyarakat pemerintahan Kota Singkawang, Kalimantan Barat.

 
Penuntasan buta aksara ini dilakukan hingga tidak ada lagi warga masyarakat yang tidak bisa membaca dan menulis. Dikarenakan semua memiliki hak yang sama guna mendapatkan pengetahuan dan pendidikan di Kota Singkawang.

“Kita komitmen akan tuntaskan buta aksara. Karena masih banyak warga kita yang tidak bisa membaca dan menulis. Terutama para orangtua yang sudah lanjut usia dan tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah,” ucap Ketua PKBM Bubor Paddas Kota Singkawang Endang Hartati, Minggu (2/10) kepada media ini.

Dia mengatakan dalam menuntaskan buta aksara dalam kehidupan masyarakat. Pihaknya telah membentuk kampung literasi. Yakni kampung pendidikan dikhususkan bagi warga yang tidak bisa membaca, menulis dan berhitung di Kota Singkawang.

Ia menuturkan dengan adanya kampung literasi, warga yang tidak bisa membaca, menulis dan berhitung akan diberikan guru tutor. Sehingga mereka bisa berlajar bersama di kampung leterasi Kelurahan Sungai Wie, Kecamatan Singkawang Tengah.

“Belum lama ini kami ada menggelar perlombaan  membaca, menulis dan berhitung. Hasilnya ada 250 peserta buta aksara yang ikut berlomba. Serta kegiatan ini jug dihadiri langsung Kasudit Kesetaraan dan Budaya Baca dari Direktorat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” imbuhnya.

Sementara itu Selbiah (43) peserta buta aksara Warga Kelurahan Sekip Lama, Kecamatan Singkawang Tengah mengatakan dirinya ikut dalam perlombaan kampung literasi. Hasilnya sabaik karena ia sudah mulai bisa membaca, menulis dan berhitung.

“Sejak tahun 2009 saya sudah mengikuti kampung literasi. Kegiatan ini sangat baik untuk dikembangkan. Karena masih banyak warga kita yang tidak bisa membaca, menulis dan behitung. Karena lemahnya ekonomi orangtua zaman dahulu,” terangnya.

Dia mengatakan pendidikan masa kini berbeda dengan pendidikan zaman dahulu. Hanya orang tertentu bisa mengeyam bangku sekolah. Sedangkan anak yang tidak memiliki biaya pendidikan. Mereka harus bekerja membantu membiayai kebutuhan hidup keluarga.

Ia mengungkapkan dengan kemajuan pendidikan sekarang ini, anak-anak bisa lanjut sekolah. Bahkan banyak program pendidikan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat yakni anak-anak diwajibkan belajar 9 tahun di sekokah.

“Kami ingin anak-anak kita terus belajar dan pendidikan mereka diperhatikan dengan baik. Begitu juga dengan orangtua yang tidak bisa membaca, menulis dan berhitung jangan malu belajar bersama-sama kampung literasi,” ungkapnya didampingi Sumarni (35) yang juga buta aksara karena putus sekolah. (irn)

Berita Terkait