Pilkades Berpotensi Konflik

Pilkades Berpotensi Konflik

  Senin, 15 Agustus 2016 09:17
UJANG SAID: Panen madu di Desa Ujang Said sekitar 2 tahun lalu. Salah satu desa di Kecamatan Jongkong tersebut pada tahun ini juga bakal menggelar pilkades. Muncul kekhawatiran akan konflik dalam perhelatan tersebut. KAPUASHULU.GO.ID

Berita Terkait

JONGKONG – Masalah peryaratan domisili dan SARA menjadi isu yang berpotensi menimbulkan konflik dalam pemilihan kepala desa (pilkades) secara serentak di Bumi Uncak Kapuas. Potensi itu bisa terjadi di Kecamatan Jongkong. Bahkan hal itu diakui betul kepala Kecamatan (Camat) Jongkong, Walidat.

 
Untuk mengantisipasi hal itu, Camat Jongkong telah berupaya sejak dini, melakukan langkah-langkah antisipasi dan pencegahan, sehingga kekhawatiran tersebut tak terjadi. Walidat menjelaskan, di kecamatan yang dipimpinnya tersebut, empat desa akan menggelar Pilkades serentak tahun 2016 ini. Keempat desa tersebut yakni Desa Jongkong Pasar (Jopa), Desa Jongkong Kiri (Joki) Hulu, Desa Ujung Said, dan Desa Nanga Temenang. "Desa yang rawan konflik pada Pilkades serentak 2016 ini, yakni Desa Jopa, Desa Nanga Temenang, dan Ujung Said," terangnya Sabtu (13/08).

Dikatakannya, pemetaan potensi konflik tersebut berdasarkan hasil dari beberapa pengamatan yang mereka lakukan. Seperti, dimisalkan dia, adanya upaya dari bakal calon (balon) tertentu yang mencoba untuk menggugurkan salah satu balon, agar tidak dilakukan tes di kabupaten. Karena, diungkapkan dia, berdasarkan aturannya, bila balon yang mendaftar sampai lima orang, maka akan dilakukan tes lagi di kabupaten. “Dan itu merupakan ketentuan mutlak!” tandasnya.

Jadi, sambung Walidat, mereka pun berusaha agar calon hanya empat orang. Selain itu, dia menambahkan, tim sukses tertentu sudah mulai memainkan isu SARA. Isu tersebut, menurut dia, dihembuskan lantaran ada salah seorang balon mencalonkan diri dan mendapat dukungan luas. Akibatnya, dia menambahkan, potensi yang bersangkutan untuk memenangkan Pilkades 2016 ini sangat besar. “Mudah-mudahan hal seperti itu tak terjadi, sehingga pilkades bisa lancar,” harap dia.

Selain itu, dia juga memperkirakan akan ada permainan politik uang (money politic) dan balon lain tidak mau mendaftarkan diri, dikarenakan petahana mencalonkan diri kembali. Sehingga, dia menambahkan, bila hanya ada satu balon, maka pilkades tidak bisa dilaksanakan. “Jika terjadi konflik  memang tidak ada sanksi. Hanya saja dalam penilaian mereka pesta demokrasi yang dilaksanakan tak berjalan dengan baik,” ucapnya.

"Pilkades ini masih terbawa-bawa dendam Pilkada yang lalu, di mana timses nomor urut satu dan dua sama-sama mengusung figur yang dijagokan mereka," katanya. Untuk mengantisipasi terjadinya potensi konflik tersebut, pihaknnya telah meminta kepada para panitia Pilkades 2016, agar berpijak pada aturan dan pedoman yang ada, dalam setiap tahapan Pilkades yang dilaksanakan.

Walidat mengaku terus memantau perkembangan di masyarakat, terkait Pilkades tahun ini. Apa yang dilakukannya ini penting, agar potensi konflik tidak benar-benar terjadi dimasyarakat.“Saya juga akan  bekerja sama dengan berbagai pihak," kata dia.

Dia juga meminta masyarakat turut serta menyukseskan pilkades serentak di desa masing-masing dengan tetap menjaga keamanan dan kertiban di desanya itu.(aan)

Berita Terkait