Pilihan Hidup sebagai Penulis

Pilihan Hidup sebagai Penulis

  Senin, 31 Oktober 2016 09:35
BERPUISI : Aan Mansur membacakan puisi ciptaanya di hadapan ratusan peserta bedah buku di Kalbar Book Fair 2016, Jumat (28/10).

Berita Terkait

Setiap orang memiliki impian dalam hidupnya. Salah satunya menjadi penulis terkenal. Tetapi keinginan ini memerlukan proses yang panjang. Tak sedikit tantangan yang dihadapi, jika memutuskan berprofesi sebagai penulis.

Oleh : Marsita Riandini

Tak hanya menjadi pekerja kantoran, profesi menarik lainnya juga diminati banyak orang. Sebagai penulis, misalnya. Berbagai alasan pun dikemukakan ketika memilih pekerjaan tersebut.

“Menulis adalah seni berfikir. Saya menjadi seorang penulis karena saya malas. Saya tidak bisa melakukan pekerjaan lain selain menulis,” ujar Aan Mansur, seorang penulis dalam acara bedah buku pada Kalbar Book Fair 2016 di Rumah Radakng, Pontianak. 

Aan mulai mengemukakan pilihan hidupnya sebagai penulis kepada sang ibu pada 2001. Kebiasaannya menuangkan gagasan melalui media tulisan memberikan keuntungan secara finansial. Bukunya laris dipasaran. Apalagi sejak puisinya masuk dalam film AADC2? Namanya semakin terkenal. Banyak pembaca memburu karya-karyanya. Aan pun kerap  diminta memberikan tips dan trik dalam menulis. “Buku pertama saya terbit tahun 2005,” katanya. 

Bagaimana untuk menjadi penulis seperti Aan Mansur ini? Tentu saja tak semudah membalikkan telapak tangan. Aan mulai menulis sejak usia belia. Ketika duduk di bangku sekolah dasar, karyanya berupa cerita rakyat sering dimuat di majalah-majalah anak-anak. Begitu pula saat beranjak SMP dan SMA. Ada proses yang membentuknya hingga menjadi penulis terkenal. 

Ia mengatakan untuk menjadi seorang penulis dan karya bisa diterima oleh pembaca bukan hal mudah. Tetapi potensi untuk menjadi seorang penulis hebat ada pada siapa saja. 

“Menjadi penulis tidak harus terkenal. Tetapi dari proses menulis itu ada banyak manfaat yang dirasakan,” ungkap Aan. 

Dikenal banyak orang adalah bonus setelah bekarya. Aan tidak menyangka dirinya bisa bergabung dalam film AADC 2?. Tetapi ini membuktikan penulis juga bisa berkolaborasi dengan siapa saja. Apakah itu bidang film, seni rupa, maupun karya-karya lainnya.  Dari kolabarasi tersebutlah akan melahirkan karya-karya menarik yang diminati masyarakat. 

Aan mengingatkan agar jangan takut untuk menuangkan gagasan. Bagaimana seseorang akan mengedit tulisannya, jika tidak ada yang ditulis. Keuntungan lainnya, proses menulis yang dialami selama lebih kurang 15 tahun ini mengajarkan dia tentang kegagalan. 

“Ada banyak hal yang saya lakukan dan itu mengajarkan saya tentang kegagalan. Saya harus mencoba hal-hal baru lagi. Besok kalau saya gagal, maka saya harus lebih baik lagi,” tuturnya. 

Menulis pun menjadi jalan baginya untuk mengenal siapa dirinya. Sulit baginya untuk menjelaskan seberapa jauh dia mengenal dirinya dari proses menulis itu. Tetapi, seseorang bisa mengenal dirinya dengan membaca karya orang lain. 

“Saya sebenarnya tidak muluk-muluk. Toh bagi saya pujian itu adalah ujian yang bersembunyi dibalik hurup p. Sering kali pujian jauh lebih sulit dibanding ujian. Buku terakhir tidak begitu banyak mengubah hidup saya. Tetapi memang ada banyak hal yang  tidak saya duga. Tapi bukankah hidup ini tiap hari ada kejutan?” ujar Aan. 

Baginya karya yang terbaik adalah yang sedang ia tulis atau karya yang akan terbit. “Saya percaya tidak ada karya yang benar-benar selesai. Dia selesai karena deadline dan harus terbit,” paparnya. **

Berita Terkait