Pilih Touring Daripada Kustom

Pilih Touring Daripada Kustom

  Senin, 10 Oktober 2016 09:34

Berita Terkait

SETIAP orang memiliki ketertarikan tersendiri dalam menentukan kendaraan yang akan digunakan. Termasuk dalam pemilihan kendaraan bermotor. Nggak salah jika ada di antara beberapa orang yang lebih tertarik untuk memilih motor gede atau moge sebagai kendaraan favoritnya. Seperti komunitas Ikatan Motor Indonesia (IMBI) dan Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Pontianak. Keduanya memang merupakan komunitas moge ternama di Pontianak yang udah hampir berdiri selama kurang lebih sepuluh tahun dan satu tahun. Kebanyakan anggota komunitas ini memiliki ketertarikan pada motor yang memiliki kapasitas diatas 500cc ke atas.

Jenis moge yang ada di keduanya pun terbilang bervariatif, jika HDCI lebih pada motor Harley Davidson, maka IMBI lebih pada motor campuran yang memiliki kapasitas di atas 500cc. Komunitas yang diketuai oleh Mahendra Jaya ini lebih pada agenda touring. Jadi jangan heran jika hampir seluruh pulau di Indonesia kecuali Papua dan beberapa Negara seperti Philiphina, Amerika dan Eropa sudah pernah dijelajahi. “Moge di sini lebih dominan pada orang yang hobi untuk touring. Bahkan kami sempat menjadi tuan rumah selama dua kali touring di tingkat internasional,” ujarnya. Komunitas yang juga kerap melakukan aksi sosial ini ini juga pernah beberapa kali mengumpulkan beberapa orang yang memiliki motor besar se-Borneo, Kalimantan. Dan bergilir menyelenggarakan agenda di Malaysia dan Brunei Darussalam.

Nah, bertepatan dengan ajang Kustomfest di Yogyakarta, team Z pun penasaran ingin menanyakan sedikit banyaknya perihal motor kustom. Menurut Mahendra, di Pontianak, kustomfest lebih sering diadakan untuk motor kecil berkapasitas kecil, yakni di bawah 500cc. Untuk motor kustom sendiri menurut Mahendra ada baiknya jenis motor yang digunakan adalah Harley. Bukan tanpa alasan nih guys, motor jenis ini jauh lebih fleksibel. Oh ya, kebanyakan motor yang dikustom juga jarang digunakan untuk touring lho guys. 

Saat mengikuti kontes kustom, peserta harus bisa menciptakan art atau nilai seni karena yang membuat motornya itu ya pesertanya sendiri. Bisa dibilang nge-kustom motor lebih pada soul dan lifestyle. Orang yang udah mengkostum motornya nggak akan mungkin menggunakan motor ini untuk beraktivitas, paling nggak seminggu sekali baru dikeluarkan buat tampil,” tuturnya. Motor untuk kostumfest sendiri sebenarnya lebih pada seni yang diciptakan, bukan jenis motornya. Psst.. motor yang dikustom juga kebanyakan nggak berbentuk asli lho guys, karena udah ada perubahan di beberapa bagiannya. “Kesulitan kostum sendiri terletak pada biaya dan kemampuan sang pemilik untuk mengkustom motornya.

Kedepannya buat anak muda yang mungkin ingin mengendarai moge ataupun meng-kustom moge, Mahendra hanya ingin berpesan untuk menaati aturan dan tertib dalam berlalu lintas. Jangan sampai ada stigma kurang baik karena moge dan motor lainnya sama. Yang pasti tetap ikut aturan! (ghe)

 

Berita Terkait