Pikirkan Caranya Menang!

Pikirkan Caranya Menang!

  Sabtu, 25 June 2016 09:36
Pelatih Ante Cacic menyambut pergantian pemain antara Marko Rog dengan Mateo Kovacic di laga melawan Spanyol (21/6). REUTERS/Michael Dalder Livepic

Berita Terkait

LYON – Kroasia bagaikan raksasa. Terutama setelah mampu menjegal Spanyol yang merupakan negara juara Euro dua kali beruntun. Karena, ada fakta yang masih belum terbantahkan sejak Euro 2004 lalu. Ya, tim yang mampu menaklukkan juara bertahan berpeluang besar mengangkat trofi Henry Delaunay pada laga final.

Tengok Yunani yang mencatat sejarah mengangkat trofi juara Euro kali pertamamya saat Euro 2004. Yunani melakukannya setelah menekuk juara bertahan Prancis 0-1 di perempat final. Lalu, tren itu berlanjut di Euro 2008 begitu Ethniki – julukan Yunani – tumbang 1-2 di tangan Spanyol di babak penyisihan grup.

Tren itu terhenti usai La Furia Roja – julukan Spanyol – mempertahankan rekor unbeaten-nya mempertahankan trofi juara di Euro 2012. Yang menjadi pertanyaan, apakah Vatreni – julukan Krosia – mampu melanjutkan tren penakluk raksasa itu? Hanya Portugal yang mampu mengubah tren penakluk raksasa itu.

Ya, Seleccao das Quinas – julukan Portugal – akan menghadapi Kroasia dalam babak 16 Besar Euro 2016, di Stade Bollaert-Delelis, Lens, 26 Juni mendatang WIB. Kepastian itu didapatkan setelah Cristiano Ronaldo dkk mampu mengakhiri perjuangannya di fase grup dengan bertengger di peringkat ketiga.

Di Parc Olympique Lyonnais, Lyon, Kamis dini hari WIB (23/6), Portugal berimbang 3-3 dengan Hungaria dalam laga pemungkas fase grup F. Ini hasil imbang ketiga yang didapatkan tim semifinalis Euro 2012 itu, sekaligus mengantarkan Portugal lolos lewat jalur peringkat ketiga terbaik. ''Melawan Kroasia, saya ingin tim ini menang,'' koar Ronaldo, dikutip dari Daily Mail.

Ronaldo mencatat dua rekor dalam laga tersebut. Pertama, dengan dua golnya ke jala gawang Gabor Kiraly, Ronaldo menjadi pemain pertama yang selalu berhasil mencetak gol dalam empat kali edisi Euro. Kedua, 2 x 45 menit lawan Hungaria kemarin jadi caps ke-17-nya di Euro melewati rekor Lilian Thuram dan Edwin van Der Sar dengan 16 caps.

Dalam pandangan Ronaldo, Kroasia adalah tim terkuat yang bakal dihadapi di Euro 2016 ini. ''Ingat, tidak semua tim mampu mengalahkan Spanyol. Lagipula, Kroasia sulit dikalahkan, di tim itu berisi pemain-pemain yang hebat,'' pujinya. ''Tapi, kami tahu sejauh mana kekuatan kami, dan itulah yang akan kami jadikan patokan demi mimpi itu (mengalahkan Kroasia),'' lanjutnya.

Satu hal yang harus dilakukan Fernando Santos demi misinya itu, manfaatkan kelebihan yang ada dalam timnya. Berdasarkan statistik UEFA, Portugal selalu masuk di dalam tiga tim teratas untuk urusan rerata penguasaan bola dan total tembakannnya. Dengan rerata penguasaan bolanya mencapai 61 persen dan 69 kali tembakan, hanya empat gol yang bisa dicetak.

Atau, untuk satu golnya Portugal harus menghabiskan lebih dari 17 kali tembakan ke gawang. Sama buruknya dengan upaya Ronaldo untuk mencetak dua golnya. Ronaldo butuh 15 kali tembakan sebelum mengukir dua gol itu. Meski demikian, Santos mencoba untuk tidak panik menanggapi aspek yang bisa menjadi ancaman laju finalis Euro 2004 itu.

Menurutnya, Ronaldo tidak akan sama seperti di tiga laga fase grup kemarin. Pernyataan eks pelatih timnas Yunani itu didasarkan dari progress Ronaldo dari laga pertama hingga laga ketiga pada fase grup. Whoscored mencatat, Ronaldo selalu melakukan 10 kali tembakan dari laga pertama sampai laga ketiga.

Tapi, catatan itu terus membaik. Dari yang awalnya 10 persen efektifitas tembakan yang tidak mampu berbauh gol lawan Islandia, efektifitasnya naik jadi 30 persen saat melawan Austria tapi tetap gagal mencetak gol. Nah, baru di laga ketiga kontra Hungaria dengan 30 persen efektifitas serangan, dua gol dicetak top skor Liga Champions 2015-2016 itu. ''Saya yakin semakin tinggi levelnya, maka semakin tinggi pula konfidensi Ronaldo. Melawan Kroasia nanti Ronaldo akan jauh lebih baik,'' klaim Santos.

Hanya, Santos wajib waswas. Karena, kekuatan defense semifinalis Piala Dunia 1998 itu tidak sama seperti Islandia, Austria ataupun Hungaria. Di atas kertas, Kroasia bukan tim yang bisa menjaga cleansheet seperti Jerman atau Polandia. Pertahanan Kroasia yang dibesut Ante Cacic bukan sekedar menjaga bola lawan masuk ke pertahanan sendiri. Sebaliknya, Darijo Srna juga punya kemampuan di dalam melakukan serangan balik cepat.

Itulah yang tidak dimiliki oleh tiga lawan Portugal di fase grup. Dengan formasi 4-4-2, Milan Badelj bermain agak ke belakang. Sekilas, permainan Kroasia mirip 4-1-3-2. Selain fisiknya, Badelj juga tangguh dalam bertahan. Dalam tiga laga termasuk melawan Spanyol, bola-bola intersep Badelj selalu ampuh dalam serangan balik.

''Pagi ini, kami semua membicarakan tentang tim seganas ikan hiu, dan Kroasia-lah tim itu. Di 16 Besar, kami sebenarnya sudah berusaha untuk menghindari mereka,'' seloroh Santos. Meski banyak yang menganggap timnya unggulan juara Euro 2016, Cacic memilih untuk merendah. Menurutnya, itu terlalu dini diberikan.

Dalam wawancaranya dengan Radio Sarajevo, Cacic menilai Portugal tidak bisa disamakan dengan Spanyol. ''Buktinya, mereka (Portugal) bisa lolos ke 16 Besar. Yang saya tahu, tidak ada satu pun tim yang lolos ke 16 Besar ini bisa dikatakan sebagai tim lemah. Semuanya tim yang sulit,'' tutur Cacic.

''Kami tetap menaruh respek dengan Portugal, mereka tetap tim hebat. Yang harus kami lakukan sekarang adalah tetap menjaga kualitas permainan, kompak, dan menunjukkan karakter permainan kami yang sebenarnta. Di 16 Besar, kami siap untuk tantantan ini, tantangan Portugal,'' sebut Cacic. (ren)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait