Petugas Pajak Dikawal Polisi

Petugas Pajak Dikawal Polisi

  Kamis, 14 April 2016 09:01
DUKA: Jenazah Parada Toga Fransriano Siahaan (30), Juru Sita Penagihan Pajak tiba di rumah duka di Jalan Air Bersih Medan, Rabu (13/4). Parada merupakan satu dari dua korban tewas ditikam, setelah terlibat baku hantam dengan pelaku wajib pajak, yang merupakan pengusaha karet Agusman Lahagu Als Ama Tety (45), di Gunungsitoli, Sumatera. DANIL SIREGAR/SUMUT POS

Berita Terkait

Kesepakatan Kapolri dan DJP setelah Kematian Dua Petugas saat Menagih 

JAKARTA – Peristiwa dibunuhnya dua pegawai pajak saat melakukan penagihan Selasa (12/4) membuat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berduka. Karena itu, mereka segera berkoordinasi dengan pihak kepolisian agar kasus serupa tidak terulang.

Dalam pertemuan kemarin, DJP meminta kepolisian memberikan pengamanan terhadap petugas pajak yang melakukan penagihan. ”Kami sudah MoU dengan kepolisian. Kami akan di-back up biar didampingi, agar tidak ada lagi kejadian seperti ini,” ujar Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiasteadi di Mabes Polri, Jakarta, kemarin (13/4).

Pendampingan tersebut dilaksanakan terutama di daerah-daerah yang dianggap rawan. Menurut Ken, meski petugas pajak bekerja untuk negara, sebagian besar orang tidak menyenangi kedatangannya. Khususnya orang-orang yang mempunyai tunggakan. Karena itu, potensi kekerasannya sangat besar.  

Sementara itu Kepala Cabang KPP Pratama Pontianak Nurbaeti Munawaroh  mengatakan, hari ini akan berkoordinasi lebih inten dengan aparat keamanan, polri dan TNI untuk membackup proses penagihan pajak yang potensi kerawanannya tinggi.  

Sebagaimana diketahui, dua petugas pajak bernama Toga Parada Fransriano Siahaan, 30, dan Soza Nolo Lase, 36, tewas lantaran ditusuk wajib pajak pengusaha jual beli getah karet, Agusman. Diduga, pelaku nekat membunuh keduanya karena kesal terus mendapat tagihan pajak yang mencapai Rp 14 miliar.

Dalam kasus di Nias, lanjut Ken, petugas pajak Sibolga menganggap daerah Nias tidak berbahaya. Apalagi, seorang pegawai yang ditugasi merupakan warga asli Nias. Dengan demikian, dua petugas itu melakukan penagihan tanpa kawalan. ”Kami kecolongan. Kami anggap daerah itu aman, ternyata tidak,” ungkap Ken.

Untuk itu, Ken menegaskan, tidak ada lagi asumsi-asumsi seperti itu. Dia memastikan petugas pajak akan didampingi polisi setiap bertugas. ”Terlebih untuk juru sita pajak. Mereka pasti akan dikawal pihak kepolisian,” tegasnya.

Ditanya soal nasib keluarga korban, Ken memastikan bahwa pemerintah memberikan kenaikan pangkat istimewa kepada korban. Selain itu, pendidikan anak-anak korban akan dijamin hingga perguruan tinggi. Bahkan, pihaknya siap menampung jika sang anak kelak berminat bekerja di dinas pajak.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan, pihaknya siap mengamankan petugas pajak. Apalagi, petugas pajak merupakan orang-orang yang bekerja untuk kepentingan negara.

Badrodin mengakui, karena memiliki tugas berat dan rawan menerima kekerasan, petugas di lapangan membutuhkan pengamanan. ”Tugas mana pun yang dianggap mengandung risiko silakan minta bantu ke polisi dan kami siap,” kata mantan Kapolda Jatim tersebut.

Tentang insiden Selasa lalu, jajarannya di Polda Sumatera Utara sudah meringkus sepuluh orang, termasuk pengusaha yang langsung menyerahkan diri seusai terjadi pembunuhan. Sementara itu, sembilan lainnya yang masuk BAP merupakan orang-orang yang ada di lokasi saat kejadian.

Hingga kemarin, kata Kapolri, Polda Sumut terus menyelidiki dugaan keterlibatan sembilan orang tersebut. ”Apakah pelakunya satu atau lebih, Polda Sumut nanti menentukan. Silakan kembangkan pelaku lain dalam kasus ini,” ucapnya.

Di tempat terpisah, kasus pembunuhan dua petugas pajak di Sumatera Utara oleh wajib pajak memicu keprihatinan pemerintah. Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun mengaku geram dan meminta kasus tersebut diusut tuntas. ”Kita berduka atas terbunuhnya dua petugas pajak KPP Sibolga yang tengah jalankan tugas negara. Usut tuntas & hukum pelakunya!” ujarnya melalui akun Twitter @jokowi.

Sementara itu, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi menambahkan, pemerintah juga menyampaikan kepada segenap aparatur negara untuk lebih berhati-hati dan waspada dalam menjalankan tugas di lapangan. ”Terutama yang memiliki risiko tinggi dalam penugasan,” katanya kemarin.

Menurut Yuddy, petugas pajak di lapangan memang memiliki risiko tinggi karena sering harus berhadapan dengan wajib pajak yang kurang taat. Karena itu, ancaman verbal maupun tindak kekerasan harus selalu diwaspadai. ”Jadi, harus selalu melakukan mitigasi risiko dalam tugas lapangan,” ucapnya.

Sebagai bentuk penghargaan pemerintah atas pengabdian Parada Toga Fransriano Siahaan dan Soza Nolo Lase yang meninggal dunia saat menjalankan tugas, Yuddy meminta DJP segera menyampaikan usul kenaikan pangkat luar biasa bagi keduanya. ”Termasuk mengurus jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian,” ucapnya. (far/owi/c10/kim)

Berita Terkait