Petrus Terancam Hukuman Mati, Kejiwaan Masalah Serius Polri

Petrus Terancam Hukuman Mati, Kejiwaan Masalah Serius Polri

  Minggu, 28 February 2016 09:17

Berita Terkait

PONTIANAK- Aparat kepolisian terus mendalami motif pembunuhan disertai mutilasi yang dilakukan Brigadir Petrus Bakus terhadap dua anak kandungnya, Febian (4) dan Amora (3). Di sisi lain, kedua jazad tak berdosa itu telah dimakamkan usai pemeriksaan forensik.

Juru bicara Kepolisian Daerah Kalimantan Barat AKBP Arianto mengatakan, pemeriksaan terhadap Brigadir Petrus terus dilakukan. Saat ini pihaknya telah menetapkan anggota Satuan Intelkan Polres Melawi itu sebagai tersangka. “Hingga saat ini pemeriksaan  terus dilakukan. Kami juga sudah menetapkan konstrusi hukum dengan menetapkan yang bersangkutan (Brigadir Petrus) sebagai tersangka,” kata Arianto, Sabtu (27/2).

Dia dijerat pasal berlapis, diantaranya pasal 340 KHUP sub pasal 338 KUHP, Pasal 80 ayat 3 Undang Undang No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 44 ayat 3 Undang Undang No. 23 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). “Dengan ancaman hukuman mati dan atau seumur hidup dan sekurang-kurangnya paling lama 20 tahun,” lanjutnya.

Menurut Arianto, saat ini penyidik Polres Melawi yang dibackup penyidik Polda Kalbar telah melakukan  pra-rekonstruksi hasil keterangan saksi. “Ada beberapa saksi yang sudah dimintai keterangan, baik istri tersangka sendiri, maupun beberapa saksi yang ada di TKP pada saat itu,” terangnya.

Selain itu, lanjut Arianto, pihaknya juga melakukan pemeriksaan psikologis terhadap tersangka Brigadir Petrus dengan mendatangkan psikiater dari Mabes Polri. “Hari ini (kemarin) rencananya mereka datang dari Jakarta. Sedangkan tim dari Biro SDM Polda Kalbar sudah di sana (Melawi) sejak kemarin,” lanjutnya.     

Tim psikiater ini nantinya akan dijadikan panduan untuk menentukan apakah tersangka mengalami gangguan jiwa seperti dugaan sebelumnya (Skizopenia) atau tidak.

Jika ternyata terbukti, langkah apa yang harus dilakukan Polda Kalbar? menurut Arianto, sejauh ini pihaknya melaksanakan penyidikan sesuai dengan prosedur dan proporsional yang ada. “Apapun hasilnya, sejauh ini kita berusaha melaksanakan proses penyidikan sesuai prosedur dan proporsional yang ada,” katanya.

Selain menerapkan pasal-pasal yang diatur oleh Kitab Undang Undang Hukum Pidana, pihaknya juga menerapkan pasal tentang kode etik profesi Polri. Disinggung soal pola perekrutan calon anggota Polri, Polda Kalbar telah melaksanakan sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh internal kepolisian, baik itu mekanisme, proses seleksi yang salah satunya melaksanakan psikotest terhadap calon anggota Polri.

Bahkan dalam sistem penerimaan anggota Polri, Polda Kalbar juga berkerjasama dalam sistem pengawasan, baik internal maupun eksternal.  Seperti diberitakan sebelumnya, Brigadir Petrus Bakus, anggota Satuan Intelkam Polres Melawi tega membunuh dan memutilasi dua anak kandungnya, buah pernikahan dengan Windri. Selain membunuh buah hatinya, Sang Brigadir juga berniat akan menghabisi nyawa istrinya.

Krisantus Kurniawan, Ketua Komisi I DPRD Kalbar secara khusus memberikan tanggapannya. ”Ini masalah serius. Oknum anggota polisi tersebut harus diberikan hukuman berat, seandainya melakukan  secara sadar,” katanya sejumlah wartawan.

Menurutnya kejadian keji tersebut sepertinya sangat tidak masuk akal dan diterima akal sehat. Sebab bagaimanapun yang namanya anak apalagi masih berumur balita (bawah lima tahun), harusnya mendapat perhatian lebih dan sangat lebih. ”Bukannya dihabisi. Seekor binatang saja seperti harimau tidak mungkin akan memakan anaknya. Apalagi manusia yang diberikan akal dan pikiran,” ujarnya.

Politikus PDI P Kalbar ini sedikit bercerita bagaimana pengorbanan orang tua tidak akan pernah ada habisnya. Bagi seorang ayah dan ibu, yang memiliki anak kecil, buah hati mereka adalah segala-segalanya. Semua keinginan apapun itu, pasti diwujudkan dengan berbagai cara. Intinya kasih sayang orang tua tidak akan ada habisnya.

Bahkan, lanjutnya, melihat anaknya sakit saja, tidak jarang orang tua malahan menjadi seperti orang sakit juga. Bahkan karena sayangnyam tidak sedikit orang tua meminta kepada sang pencipta agar penyakit anaknya dipindahkan ke dirinya. ”Itulah kasih sayang orang tua, sepanjang masa,” timpal dia.

Dia pun secara khusus meminta kejiwaan oknum polisi dimaksud diperiksa secara intensif. Sebab bukan tidak mungkin hal-hal seperti begini akan terulang di masa depan dan dapat menimpa siapapun. “Intinya kita memang tidak boleh menyalahkan siapapun. Namun hal seperti begini bagi saya, kejadian terkeji yang baru saya dengar dan lihat. Ngeri juga,” kata dia.

 Krisantus menyarankan ke depan dalam proses rekruitmen kepolisian dan aparat apapun, tes kejiwaan menempatkan penilaian paling tertinggi. Jangan sampai ditemukan ada aparat mengalami dugaan Schizophrenia atau tekanan berat ketika tengah bertugas. Sebab hal tersebut justru dapat membahayakan keluarga dan masyarakat.

Di sisi lain, ia pun berharap kepada masyarakat di Kalbar tidak memasang foto-foto korban dalam bentuk media sosial seperti di BBM, Path, Line, atau Whast Up. Berikan sedikit hati nurani kalau warga Kalbar ikut peduli kepada ibu, kakek dan nenek korban. Pasalnya foto-foto korban cukup menyebar di pemilik handphone. ”Pasti keluarga korban akan sangat sedih sekali. Jangan sampai medsos menjadi duka mereka,” tuturnya.

 Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane menegaskan, kasus polisi memutilasi dua anak kandungnya yang masih di bawah umur di Kalimantan Barat semakin menunjukkan ada persoalan serius di lapisan bawah kepolisian. Dia mengatakan, persoalan itu adalah masalah kejiwaan. “Sayangnya elit elit Polri masih kurang serius menangani masalah ini,” kata Neta menjawab Pontianak Post, Sabtu (27/2).

              IPW sangat prihatin dengan kasus mutilasi yang melibatkan polisi ini. Meski tak bisa digeneralisir, tapi Neta memandang, kasus ini bisa dilihat sebagai teori gunung es bahwa yang terpendam di dalam dinamika kehidupan lapisan bawah kepolisian, ada persoalan kejiwaan yang perlu segera dicermati dan diatasi para elit di Mabes Polri.  “Sebab, kasus mutilasi ini hanya bagian kecil dari sejumlah kasus sadis yang dilakukan para polisi lapisan bawah sejak beberapa tahun terakhir,” jelasnya.

                Ia mengatakan, berbagai kasus sadis yang dilakukan polisi lapisan bawah Polri mulai dari kasus salah tangkap, menyiksa tersangka, membunuh sesama polisi, membunuh pacar, membunuh istri, menembak atasan, polisi bunuh diri dan terakhir memutilasi anak sendiri. “Tingginya tingkat kesadisan yang dilakukan para polisi itu dari tahun ke tahun menunjukkan betapa lemahnya proses rekrutmen di Polri,” kritiknya.

                Menurut dia, seakan-akan psikotes dalam rekrutmen itu tidak mampu menyaring figur-figur yang bermasalah. Sehingga dari tahun ke tahun Polri selalu dihadapkan pada ulah polisi-polisi berwatak sadis yang jauh dari misi Polri yang  melayani, mengayomi dan melindungi.

(arf/den/ody)

 

Berita Terkait