Petrus Bakus Bilang Anak Sudah Dibersihkan

Petrus Bakus Bilang Anak Sudah Dibersihkan

  Sabtu, 6 Agustus 2016 09:30
BARANG BUKTI: Jaksa Penuntut Umum memperlihatkan barang bukti berupa sweater milik Petrus Bakus dipersidangan. SUTAMI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

SINTANG - Brigadir Petrus Bakus oknum anggota Polres Melawi terdakwa kasus pembunuhan dan mutilasi anak kandung kembali menjalani persidangan, dengan agenda pemeriksaan saksi, Kamis (4/8) di Pengadilan Negeri Sintang. Sebanyak dua saksi dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU).  Keduanya anggota Polres Melawi dan bertempat tinggal sama dengan terdakwa, di asrama Polisi Polres Melawi.

 
Saksi yang memberikan keterangan kemarin,  Sukadi dan Taufik. Sukadi dan terdakwa Petrus tinggal berdampingan di asrama. Ia saksi pertama yang menyampaikan kesaksian di depan majelis hakim.

Dalam kesaksiannya, Sukadi menyampaikan saat malam kejadian, 26 Februari, istri terdakwa berteriak minta tolong, dengan langsung menuju kediamannya. Saksi kemudian keluar dan meminta istri terdakwa masuk ke dalam rumahnya, dengan ditemani istri saksi.

Sementara terdakwa saat itu, berada diteras rumahnya sambil duduk. Terdakwa mengenakan sweater dan handuk yang terkena percikan darah. Saksi kemudian bertanya kepada terdakwa, tentang persoalan yang terjadi. Terdakwa kemudian menjawab kalau anaknya sudah dibersihkan, dengan mengatakan sebagai perintah dari Tuhan. Saksi masih tidak paham dengan maksud terdakwa.

Saksi lalu menyampaikan ke Kasat Intel yang kebetulan tinggal satu komplek di asrama polisi. Hingga kemudian saksi mengetahui kejadian sesungguhnya. Saksi bersama Kasat Intel lalu membawa terdakwa ke masjid. Saksi kemudian diperintahkan melihat kejadian di kediaman terdakwa.

Di sana saksi tidak masuk ke dalam rumah. Hanya mengintip di jendela kamar. Saksi melihat anak terdakwa sudah tidak bernyawa dalam posisi tengkurap dan tampak ada tumpukan potongan tangan dan kaki.

Saksi juga menyampaikan kalau sebelum kejadian, terdakwa pernah curhat. Tentang kehidupan rumah tangganya yang kurang harmonis, terlebih usai istrinya pulang dari Jawa. Saksi juga mengingat setidaknya dua kali mencoba menasehati terdakwa bersama istri saat bertengkar.

Lantaran saksi merupakan senior terdakwa di kepolisian serta kediaman mereka persis berdampingan. Namun saat kejadian, saksi tidak ada mendengar teriakan maupun tangisan anak terdakwa.

Sementara Taufik, saksi kedua yang dihadirkan JPU, mengatakan saat malam kejadian, pada tengah malam sempat melihat terdakwa bersama kedua anaknya berada di teras rumah. Saat itu, saksi akan menuju kantor, karena sedang piket. Saksi juga sempat menyapa terdakwa, bertanya ada apa, karena melihat terdakwa bersama kedua anaknya masih berada di luar rumah pada tengah malam. Pertanyaan saksi dijawab terdakwa dengan menyatakan tidak ada apa-apa.

Berdasar keterangan kedua saksi, dalam keseharian, saat bertugas sebagai anggota kepolisian, terdakwa juga baik. Tidak pernah bertindak aneh. Dan dikenal amat menyayangi kedua anaknya. Saksi juga tidak pernah mendengar kalau terdakwa melalaikan tugas atau dikenai sanksi dari atasan.

Saat siding, majelis hakim ikut menggali tentang proses masuk polisi yang pernah menjadi pengalaman saksi. Termasuk bertanya tentang tes psikologi berkala di kepolisian terhadap anggota. Jawaban para saksi menyatakan di dalam setahun bisa sekali atau dua kali mengikuti tes psikologi.

Usai kedua saksi memberikan keterangan, sidang dengan majelis hakim diketuai Edy Alex Serayok, itu, menunda persidangan untuk kembali digelar pada 8 Agustus mendatang, dengan agenda masih pemeriksaan saksi. Saat sidang kemarin, terdakwa didampingi dua kuasa hukumnya, dengan JPU Budi Susilo dan Andi Tri Saputro. (stm)

Berita Terkait