Petani Sepi Peminat, Banyak Beralih ke Perkebunan Sawit

Petani Sepi Peminat, Banyak Beralih ke Perkebunan Sawit

  Senin, 25 September 2017 10:00
BERDAMPINGAN: Sebuah mobil melintas di jalan yang membelah kebun sawit dan lahan pertanian milik warga di Singkawang. Banyak lahan pertanian yang kini berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Bibir Paskalis mengulas senyum bangga saat menceritakan kesuksesannya menguliahkan anak-anaknya. Anak tertuanya kuliah di Jawa. Sementara  si adik menempuh pendidikan di Universitas Tanjungpura. Sama seperti kebanyakan orang-orang di Desa Suluh Tembawang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, dia mengandalkan pertanian lada sebagai mata pencaharian utama. Sudah sejak lama dia dan warga perbatasan Malaysia lainnya meninggalkan pertanian padi sebagai andalan utama mencari uang. “Saya sudah 15 tahun bertanam lada. Harganya jauh di atas beras, jadi lebih untung,” ujarnya belum lama ini kepada Pontianak Post.

Kendati belakangan ini harga lada sedang lesu, tahun lalu bumbu dapur ini bisa tembus Rp150ribu sekilogramnya. Bandingkan dengan beras yang di bawah Rp10 ribu atau bila dijual gabah keringnya hanya sekitar Rp5.000 per kg.  

“Belum lagi biaya angkut ke pengepul yang mahal. Harus pakai perahu dulu. Jalan darat ke Entikong baru jadi, tetapi mobil belum bisa lewat. Lebih baik kami tanam sahang (lada),” sebut dia.

Namun, sebagian besar warga di sana masih bertanam padi dengan sistem ladang. Hanya saja panennya untuk konsumsi pribadi. Malahan bila stok habis, dia membeli beras dari warga lain atau pergi ke kota untuk berbelanja. “Kalau sahang kan tidak setiap waktu, setahun kan hanya sekali panen. Jadi perlu mengandalkan yang lain seperti nanam padi. Tapi (berasnya) untuk makan keluarga saja.  Kadang juga tidak cukup," jelasnya.

Dengan status anak-anaknya yang calon sarjana, tentu dia enggan mereka berkiprah di pertanian padi. Harapannya, seperti kebanyakan orangtua di Kalbar, kedua anaknya bisa menjadi pegawai negeri. “Maunya mereka jadi pegawai atau kerja kantoran. Kalau di kampung susah berkembang,” ucap dia.

Bertanam padi yang panennya hanya untuk konsumsi harian rumah tangga memang jamak dilakukan di Kalbar. Bagi yang tanahnya tak cocok untuk lada, petani banyak beralih ke budidaya kelapa sawit. Baik sebagai petani mandiri maupun mitra perusahaan. Tak sedikit yang menjadi karyawan perkebunan. Nun di Desa Pasir Mayang, Kecamatan Jelai, Kabupaten Ketapang, banyak warga yang mulai jarang bertani padi.

Sistem pertanian ladang dan perawatan secara tradsional hanya menghasilkan panen seadanya. “Kegiatan berladang hanya menghasilkan beras yang hanya untuk konsumsi sendiri. Uang yang rutin didapat masyarakat hanya dari menjual karet dan harganya sekarang anjlok. Itupun tinggal yang tua-tua. Banyak anak muda yang kerja di luar, di perusahaan sawit,” sebut Kepala Desa Pasir Mayang, Nobertus Parto.

Menurutnya masyarakat kurang tertarik menanam padi untuk penghasilan utama. Masalah infrastruktur jalan dan pemasaran menjadi hambatan besar. Belum ada pengepul yang siap menampung hasil petani dalam skala besar. Beberapa warga mulai mencoba menanam kelapa sawit dalam area kecil lantaran banyak yang mau menampung.

Sebenarnya, pertanian komersial dengan untuk dimakan sendiri dapat dilihat dari pola pengolahan lahan. Pertanian padi dengan pola sawah biasanya memiliki panen yang lebih banyak, dan hasilnya untuk dijual seluruhnya atau sebagian. Data Badan Pusat Statistik dalam Sensus Pertanian 2013 menunjukkan dari 192ribu rumah tangga yang berladang padi, hanya 1.104 keluarga saja yang menjual seluruh hasil panennya.

Belakangan padi sawah mulai menunjukkan peningkatan produksi. Seperti yang dilakoni Asniah, warga Desa Tebas Sungai, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. Belakangan dia mengikuti program metode tanam Hazton yang membuat panennya meningkat.  Ternyata dari metode ini hasil panen bisa mencapai 6 hingga 7 ton. Bahkan ada petani yang mencapai belasan ton untuk sekali panen. Kendati demikian ia menilai hasil panen ini belum stabil. Padahal biasanya panennya hanya 3,5 ton-5 ton. “Kalau untuk makan sudah cukup. Sisanya dijual,” kata perempuan 58 tahun ini.

Tidak hanya di Sambas, metode ini juga diterapkan oleh banyak petani sawah di kabupaten lain. Pemerintah memang tengah menggalakkan sistem Hazton.  Tahun lalu di Kalbar ada 45.000 hektare sawah berpola Hazton di Kalimantan Barat. Sementara tahun ini jumlah lahan bertambah lagi 28.000 hektare.

 

Petani Berkurang

Pertumbuhan populasi manusia di dunia kian mencemaskan. Menurut laporan World Population Prospect 2017, pada 1850, penduduk bumi berjumlah 1 miliar saja. Kini jumlahnya meningkat hingga 7,6 miliar. Rata-rata penambahan jumlah orang sekitar 83 juta jiwa per tahun. Pada akhir abad ke-21 diprediksi bumi ini akan dihuni oleh 11,2 miliar penduduk. Dalam laporan itu, Indonesia menjadi salah satu pusat pertumbuhan di planet ini.

Mari kesampingkan masalah pengangguran, potensi konflik dan lainnya. Krisis pangan mungkin paling mengancam. Meningkatnya jumlah perut yang harus diberi makan ternyata berbanding terbalik dengan pertumbuhan petani tanaman pangan di negara ini. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada September  ini mengungkapkan, sebagian besar usia petani di Tanah Air berusia di atas 45 tahun. Parahnya anak petani yang kembali menjadi petani untuk melanjutkan usaha keluarga hanya 3 persen saja.

Sementara dalam Sensus Pertanian 2013, Badan Pusat Statistik mencatat, selama 2003 – 2013 di Indonesia berkurang lima juta keluarga tani. Hampir satu juta di antaranya adalah petani tanaman pangan (padi dan palawija). Sektor palawija seperti jagung, umbi-umbian dan lainnya menjadi yang paling tergerus. Sedangkan petani padi sawah, hanya menurun 58. 413 rumah tangga selama sepuluh tahun tersebut. Tercatat pada tahun 2013 ada 14.147.942 rumah tangga. Memang hanya menurun -0,41 persen dari sedasa warsa sebelumnya.

Bagaimana dengan Kalimantan Barat? Pada sensus yang sama, petani tanaman pangan di Kalbar menurun 33.044 rumah tangga, dari 456.669 keluarga menjadi 423.625 keluarga. Khusus petani padi penurunan jumlah petani lebih tinggi dari persentase nasional, yaitu -1,26 persen atau berkurang  5.233 keluarga dibanding tahun 2003.

Berbeda dengan arus urbanisasi dan merosotnya lahan pertanian yang menjadi biang keladi anjloknya jumlah petani di Pulau Jawa, di Kalbar banyak petani yang beralih ke sektor perkebunan kelapa sawit. Bila tidak membuka kenin kelapa sawit sendiri. Mereka menjadi karyawan atau mitra perusahaan perkebunan. Hasil pencacahan menunjukan angka keluarga petani perkebunan meningkat tajam, dimana pada tahun 2013 ada 497.489 rumah tangga di sektor ini. Padahal sepuluh tahunnya hanya 425.563 keluarga yang bergantung pada sektor ini, atau meningkat 71.926 keluarga.

Penurunan jumlah petani padi ternyata tak berimbas kepada produksi beras. Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar Heronimus Hero memaparkan hingga saat ini, produksi padi gabah kering giling di provinsi ini sudah mencapai 1,4 juta ton. Bahkan angka Januari-Agustus 2017 ini sudah melampaui pencapaian panen sepanjang tahun 2016 yang hanya tembus  1,3 juta ton. Angka ini masih akan bertambah lantaran, sebagian besar lahan padi sedang menjalani masa panen. Kalbar sendiri menargetkan akan ada 1,8 juta ton gabah giling kering hingga akhir tahun.

Panen sendiri jauh melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat Kalbar. Menurut Hero, kebutuhan beras di Kalbar tahun ini diperkirakan 620ribu ton atau dihitung dengan gabah kering giling sekitar 1 jutaan ton. “Artinya dari kebutuhan dan produksi yang ada maka Kalbar surplus beras. Namun untuk surplus tersebut tentu untuk cadangan dan lainnya,” katanya.

Menurut Hero, meningkatnya panen ini disebabkan dengan penerapan teknologi modern dan sistem tanam Hazton yang marak dijalankan petani belakangan ini. Saat ini luas tanam padi di Kalbar mencapai 592ribu hektare. “Sedangkan untuk lahan pengembangan teknologi hazton yang tersebar di Kalbar seluas 280ribu hektare. Dari luas yang ada diperkirakan kontribusi produksinya sekitar 10 persen,” kata dia.

Sementara itu, perwakilan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Arnen Sri Gemala menyebut infrastruktur memiliki dampak yang besar bagi pengembangan pertanian di Indonesia, termasuk Kalimantan Barat. “Infrastruktur yang pada akhirnya berdampak pada produksi. Karena ini termasuk dalam cost logistik, kemudahan penjualan serta modernisasi peralatan pertanian,” ungkap dia saat bertandang ke Pontianak.

Infrastruktur, ucap dia, juga berdampak pada hilirisasi hasil pertanian. Namun tidak kalah penting adalah tata niaga sektor pertanian. Tidak hanya nasional, melainkan juga domestik. Menurut dia regulasi harus lah berpihak kepada petani dalam negeri.  Menurutnya bila petani sejahtera dan pertanian menjadi sektor yang menjanjikan secara ekonomi. Maka akan banyak orang tertarik menggelutinya. Apalagi Kementerian Pertanian mencanangkan sejak tahun 2015 adanya peningkatan produksi 3-5 persen.

Target lainnya, pada 2016-2017 Indonesia harus swasembada pangan. “Saat ini swasembada padi sudah, swasembada jagung juga pada 2017 ini. Tahun 2019-2024 target kita adalah kedaulatan pangan dengan jumlah dan jenis pangan diproduksi dengan tinggi Produksi harus melebihi konsumsi agar tidak adanya impor," tukas dia.

Selanjutnya ke depan peningkatan produksi  harus lebih besar dari 5 persen. Hal ini demi target jangka panjang yaitu, menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2025. Demi menjadi lumbung pangan dunia petani kata dia tidak bisa berjalan sendiri. “Perlu dibentuk kemitraan bersama dengan koperasi, swasta dan BUMN. Pemerintah hanya sebagai fasilitator dan regulator. Selain itu petani juga perlu berkelompok untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal,” pungkasnya. (ars)

Berita Terkait