Petaka Saat Latihan Satpam

Petaka Saat Latihan Satpam

  Rabu, 30 March 2016 09:05
OLAH TKP: BOM UHO Polisi melakukan olah TKP ledakan granat di Gedung Workshop Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari pasca-ledakan granat saat pelatihan Pendidikan Dasar Gada Pratama Satuan Pengamanan (Satpam) yang digelar UHO bekerjasama Polda Sultra, kemarin (29/3). Kamaruddin/Kendari Pos

Berita Terkait

Granat Meledak, Empat Tewas, Sembilan Luka

KENDARI – Sebuah bom jenis granat meledak di gedung workshop Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Sulawesi Tenggara, sekitar pukul 15.00 Wita kemarin (29/3). Insiden itu mengakibatkan empat orang meninggal dan sembilan lainnya mengalami luka-luka. 

Ledakan granat terjadi saat pengenalan bahan peledak dalam pelatihan pendidikan dasar (diksar) Gada Pratama Satpam yang digelar UHO yang bekerja sama dengan Polda Sultra.

Tiga anggota sekuriti tewas dalam kecelakaan tersebut. Yakni, Jufriadi, Supriadi, dan Kaharudin. Seorang personel Detasemen Gegana Satbrimobda Polda Sultra, Brigadir Muhammad Haidir, juga meninggal. 

Selain itu, tujuh anggota satpam lainnya peserta pelatihan mengalami luka-luka. Mereka adalah Asis, 30; Jaimin, 30; Imron, 33; Fajar, 33; La Ode Fanani, 32; Hardiman, 20; dan Arham, 29. Dua anggota kepolisian, yakni Aiptu Safrudin (anggota Gegana Satbrimobda Sultra) dan Brigadir Basrul (anggota Binmas Polda Sultra), juga mengalami luka. Safrudin merupakan salah seorang pemateri pengenalan bahan peledak dalam pelatihan tersebut.

Dari informasi yang dihimpun, pelatihan tersebut berlangsung selama 20 hari, 22 Maret hingga 11 April 2016. Berbagai materi peningkatan ketangkasan bagi anggota sekuriti UHO diberikan dalam pelatihan tersebut. Termasuk pengenalan bahan peledak. Ada 47 peserta pelatihan itu. Semua peserta merupakan petugas satpam yang bertugas di UHO.

Kemarin (29/3) salah satu materi berisi pengenalan artileri, baik jenis-jenis peluru maupun bahan peledak. Pematerinya adalah Aiptu Safrudin. Pada saat bersamaan, para petugas sekuriti itu akan diperkenalkan secara langsung dengan jenis-jenis bahan peledak (handak). Brigadir Muhammad Haidir pun membawa bahan-bahan peledak itu masuk ke ruang pelatihan, gedung workshop UHO, dan memperlihatkannya kepada peserta.

Salah seorang peserta pelatihan, La Bio, mengungkapkan, saat pemaparan materi, Haidir memperlihatkan handak jenis granat. Ketika itu, salah seorang peserta dipanggil untuk memegang granat tersebut. ’’Entah karena takut atau bagaimana, tiba-tiba granat itu terjatuh dari tangan peserta,’’ ungkapnya.

Granat itu, kata Bio, menggelinding di lantai. Spontan, Haidir berusaha mengambil granat tersebut. Saat berhasil meraih, Haidir langsung melekatkan granat itu di badannya. Ledakan pun terjadi. ’’Mungkin saat terjatuh, pelatuknya tercabut dan polisi itu berusaha menyelamatkan seluruh peserta dengan mengorbankan dirinya,’’ katanya.

Saat itu pula, peserta yang lain berusaha menyelamatkan diri dan berhamburan keluar gedung. Dua orang yang berada di dekat Haidir tak bisa lagi menghindar. Salah seorang korban meninggal, Kaharuddin, masih sempat lari ke luar gedung. Namun, percikan bom di tubuhnya membuat Kaharuddin terjatuh di luar gedung. Dia sempat dilarikan ke rumah sakit, namun mengembuskan napas terakhir sebelum mendapat pertolongan medis. ’’Ledakannya sangat keras,’’ ujar Bio.

Salah seorang korban luka, La Ode Fanani, saat ditemui di RS Bhayangkara menyesalkan penggunaan bahan peledak asli untuk simulasi dalam pelatihan tersebut. ’’Saat ledakan terjadi, saya langsung pingsan,’’ katanya.

Menurut dia, pemateri sebelumnya tidak memberi tahu seluruh peserta pelatihan bahwa bahan peledak tersebut adalah bom aktif. ’’Kan cuma simulasi. Kenapa bawa bom aktif? Memang diberi tahu akan ada pengenalan bahan peledak. Tapi, tidak diberi tahu kalau bahan peledak itu aktif,’’ ujarnya.

Dalam evakuasi dan olah TKP, hadir Kapolda Sultra Brigjen Pol Agung Sabar Santoso, Dirbinmas Kombespol Erfan, Direktur Intelkam Kombespol Ponadi, Direskrimum Kombespol Agus Sandono, dan Kapolres Kendari AKBP Ilham Saparona. Para pejabat utama Polda Sultra itu tampak tegang. Sesekali mereka membuka HP melihat laporan dari anggotanya dan memastikan kronologi kejadian.

Kapolda Sultra Brigjen Pol Agung Sabar Santoso mengungkapkan, kejadian itu murni disebabkan human error. Tidak ada unsur kesengajaan dari anggota yang membawakan materi. Dia membenarkan bahwa kegiatan itu merupakan upaya pembelajaran bagi petugas satpam UHO agar mengetahui jenis-jenis bom. 

’’Ada pelatihan satpam. Saat pemateri memperkenalkan bahan peledak, tiba-tiba bahan peledak itu meledak. Untuk jenis bahan peledak, hanya ada dua. Salah satunya granat,’’ jelasnya.
Agung menegaskan, pihaknya terus menelusuri penyebab insiden tersebut. ’’Kami masih menyelediki persoalan ini,’’ katanya. (p2/egy/a/idr/JPG/c5/agm)

Berita Terkait