Pesona Kelingkan Negara Serumpun

Pesona Kelingkan Negara Serumpun

  Minggu, 7 Agustus 2016 11:06
Suhana menunjukkan seni sulaman kelingkan dari beberapa daerah | Marsita Riandini/Pontianak Post.

Berita Terkait

Seni sulaman kelingkan atau keringkam jarang diketahui banyak orang. Padahal, sulaman ini ada sejak zaman dahulu, terutama bagi kalangan keturunan Kesultanan Melayu. Sulaman ini bisa dijumpai di Malaysia, juga di beberapa daerah di Indonesia termasuk Kalimantan Barat. 

Oleh : Marsita Riandini

Seni sulaman kelingkan merupakan kerajinan yang menggunakan bahan baku emas dan kain untuk menghiasi penampilan perempuan Melayu, seperti pada kerudung atau tudung, baju, dan tirai. Bahan baku emas didatangkan oleh pedagang India, sementara kainnya oleh pedagang Cina. 

Sulam emas memiliki harga yang mahal, karena mengikuti harga emas di pasaran. Jika tak hati-hati melipatnya, akan patah. Selain emas, juga ada kelingkan yang bersulamkan perak. Perak menjadi pilihan karena perawatannya lebih mudah. 

Kelingkan biasanya digunakan untuk acara pesta pernikahaan ataupun hajatan lainnya. 

“Itu sebabnya, perempuan Melayu zaman dahulu ketika akan menikah biasanya menyulam sendiri untuk pakaian mereka,” ungkap Suhana binti Sarkawi dari Fakultas Pendidikan Universitas Malaya, Kuala Lumpur yang ditemui For Her usai mengisi kegiatan Konferensi Internasional yang diselenggarakan IAIN Pontianak, Rabu (3/8). 

Suhana menuturkan saat ini jarang ada lagi yang menggunakan kain kelingkan, sebab harganya yang mahal. Saat ini harga keringkam bersulam emas di Sarawak mencapai 15 ribu ringgit, sedangkan jenis perak itu setengah dari harga sulam benang emas.

Tudung kelingkan memiliki perbedaan sebutan dari daerah satu dengan daerah lainnya. Perempuan yang melakukan penelitian tentang kelingkan ini menemukan beberapa perbedaan dari Kelingkan Sarawak, Palembang, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Barat. 

Selain berbeda dari penyebutan, juga terdapat perbedaan dalam motifnya. “Rata-rata motif bunga. Kalau di Sarawak lebih ke bunga rose (mawar). Di Pontianak ini khasnya kelingkan motif bulan bintang, bunga anggur, bunga mawar, melati, ada satu lagi bunga saya lupa. Belum lagi meneliti secara mendalam,” jelasnya. 

Motif bunga menjadi pilihan karena menerapkan unsur keislaman. Selain itu memang akan memperindah penampilan perempuan. Sebagai wilayah yang memiliki kesultanan, kelingkan pun masih digunakan di Kalbar, terutama bagi keturunan sultan. Seperti untuk baju, kerudung, dan tirai. 

“Hanya saja, sangat disayangkan tak ada tulisan yang menceritakan tentang kelingkan Kalimantan Barat ini,” kata Suhana. 

Khususnya di Pontianak dan Sintang, orang Melayu menamakan kelingkan dengan sebutan tudung kalengkang. “Melayu di Kalbar menggunakan benang kelingkan dengan cara lebih variasi dan dinamik. Biasanya bahan yang digunakan adalah satin kertas, yang kualitasnnya bagus,” ucapnya. 

Para perajin kelingkan di Kalbar tidak hanya menggunakannya sebagai bahan membuat tudung  kalengkang perempuan-perempuan yang berdarah raja dan kerabat saja, tetapi juga sebagai bahan utama menyulam sabok atau kain sampin, baju Melayu teluk belanga, dan hiasan latar pelaminan. Semakin penuh dan halus hasil sulaman benang pita emas atau perak pada tudung, semakinlah tinggi kemampuan si pemakai, status keluarganya atau keluarga mertuanya.

Dulu, perempuan Melayu Sarawak juga akan menyulam keringkam semasa berada dalam kapal sebelum pergi haji atau semasa dalam perjalanan pergi haji. Tradisi memakai kelingkan atau keringkam setelah pulang ke tanah air dari Mekah juga merupakan tradisi universal Melayu Islam dari penduduk Melayu pesisir Capetown, Palembang, Sarawak dan Sulawesi Selatan (orang Bugis). **

 

Berita Terkait