Peserta SM3T Belajar Bangun Rumah Baca, Kunjungi Semayong Institute

Peserta SM3T Belajar Bangun Rumah Baca, Kunjungi Semayong Institute

  Sabtu, 6 February 2016 10:42
DIABADIKAN BERSAMA: Para peserta Program Sarjana Mendidik di Wilayah Terdepan Terluar dan Terpencil (SM3T) diabadikan bersama usai mendatangi Rumah Baca Semayong Institute, belum lama ini. HARI KURNIATHAMA/PONTIANAK POST

SAMBAS – Sebanyak 14 sarjana dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang tergabung dalam Program Sarjana Mendidik di Wilayah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (SM3T), mendatangi Rumah Baca Semayong Institute yang terletak di Dusun Semayong RT 04 RW 02, Desa Sungai Kumpai. Kunjungan tersebut berawal dari keinginan salah satu peserta SM3T yang berencana mendirikan rumah baca di desa tempat di mana ia ditugaskan.

Menurut Bamas, koordinator Program SM3T untuk wilayah Kabupaten Sambas, mereka sebenarnya berjumlah 72 orang, yang tersebar di beberapa kecamatan seperti Paloh, Sajingan Besar, Galing, Sambas, Jawai, dan Salatiga. Kedatangan mereka ke Rumah Baca Semayong Institute pun dalam rangka belajar bersama bagaimana proses pendirian rumah baca. "Kami ingin belajar bagaimana proses pendirian rumah baca. Karena saat ini, selain kami mengajar, kami punya program mendirikan rumah baca di Desa Jelutung, Kecamatan Pemangkat," ungkapnya. 

Pihaknya juga telah membuka dan menyebarkan informasi serta berkoordinasi dengan kepala desa dan pihak kecamatan. "Alhamdulillah, sudah ada sedikit bantuan dari orang yang peduli, tetapi bukan berbentuk buku," kata Bamas ketika berada di Rumah Baca Semayong Institute.Jepriadi, direktur Semayong Institute mengucapkan terima kasih atas kunjungan yang dilakukan peserta Program SM3T. "Mudah-mudahan silaturahmi ini sebagai sarana berbagi informasi dan inspirasi, baik bagi kami di Karang Taruna Tunas Harapan Bersama, Desa Sungai Kumpai, maupun bagi teman-teman SM3T," katanya.

Terkait dengan informasi bagaimana proses pendirian Rumah Baca Semayong Institute, Jepri menceritakan gambaran dari awal proses berdirinya Karang Taruna. Karena, diakui dia, Rumah Baca Semayong Institute tidak terlepas dari aktivitas mereka di Karang Taruna."Karang Taruna Tunas Harapan Bersama Desa Sungai Kumpai didirikan pada 31 Desember 2006. Dan hari ini, Alhamdulillah masih tetap eksis di usia 9 tahun ini. Kemudian waktu berjalan, mengingat pentingnya pendidikan, kami menilai bahwa penting untuk menciptakan sumber/pusat informasi di desa. Oleh karena itu, pada tahun 2013, kami memulainya dengan media sosial yaitu grup facebook Semayong City Institute, di mana semua anggota adalah warga Desa Sungai Kumpai," terang sosok yang juga Ketua Karang Taruna tersebut.

Kemudian, diungkapkan dia, pada 2014 mereka mendapatkan tawaran dari Lembaga Sosial, LPS-AIR Pontianak, yang bekerja sama dengan Perpustakaan Daerah (Perpusda) Provinsi Kalimantan Barat, yaitu gerakan 1000 buku. "Alhamdulillah kita (Semayong Institute, Red) menjadi salah satu komunitas yang direkomendasikan untuk program 1000 buku tersebut," tambah Jepri menceritakan bagaimana Rumah Baca mereka berdiri.

Saat ini juga, kata dia, selain buku dari Perpusda Provinsi Kalimantan Barat, pihaknya juga sering dikirimi oleh mereka yang peduli. Antara lain, mereka juga menerima dari dosen, Bappeda Kabupaten Sambas, kiriman dari Bekasi, Jawa Barat, serta orang-orang yang peduli lainnya. Mereka juga memajang buku-buku pribadi. Setidaknya, saat ini mereka sudah memajang sekitar 1.500 buku di Rumah Baca Semayong Institute. Meskipun, tak dipungkiri dia, dengan fasilitas yang terbatas lantaran masih dipusatkan di rumah. Namun secara swadaya mereka telah memulai pembangunan rumah baca yang disinergikan dengan Sekretariat Karang Taruna Desa Sungai Kumpai. "Semoga nanti pengelolaan Rumah Baca ini semakin baik," harap Jepri yang mengapresiasi niat baik dari peserta SM3T, untuk bersama-sama mencerdaskan masyarakat desa.

Beberapa kegiatan yang mereka lakukan untuk mendukung gerakan meningkatkan minat baca, antara kain gerakan Semayong Membaca, lomba menulis, dan sekarang membentuk kelompok belajar Bahasa Inggris bagi pemuda di Desa Sungai Kumpai.Selain menggelar diskusi, sedikit kenang-kenangan juga dititipkan mereka ke peserta Program SM3T, yaitu aplikasi Pembelajaran Digital Education (DigiDu) dan tiga buah buku sebagai bentuk support kepada peserta SM3T. Mereka kemudian makan bersama untuk meningkatkan kekeluargaan, meskipun baru pernah bertemu. (har)