Peserta PPIA di Kalbar; Belajar, Berbagi Pengalaman Sekalian Jalan-jalan

Peserta PPIA di Kalbar; Belajar, Berbagi Pengalaman Sekalian Jalan-jalan

  Senin, 8 February 2016 09:58
MEIDY/PONTIANAKPOST

PONTIANAK – Tak terasa dua bulan sudah saya dan kawan-kawan peserta Pertukaran Pemuda Indonesia – Australia tinggal di Kalimantan Barat. Kami belajar budaya, adat dan tradisi Sambas dan Pontianak, dua tempat dimana kami memiliki keluarga dan kawan-kawan baru. Banyak kesan dan pengalaman berharga yang kami peroleh ketika berada disini. Ibarat pepatah, dimana ada perjumpaan disitu ada perpisahan. Hari Senin (08/02) ini kami sudah harus meninggalkan Kalbar menuju Jakarta, sebelum akhirnya pulang ke daerah masing-masing.

Oleh : Tim Flicker

DALAM program PPIA, ada 18 peserta Indonesia dari propinsi di seluruh Indonesia dan 18 peserta Australia dari beberapa negara bagian di Australia. Perjalanan kami di Kalbar dimulai awal Desember 2015. Tiba di Pontianak, kami sempat disambut oleh perwakilan Gubernur di kediaman Gubernur Kalbar atau yang biasa disebut Istana Rakyat Pontianak. Kemudian, kami langsung menuju kabupaten Sambas dan ditempatkan di desa Lumbang.

Ketika tiba di desa Lumbang, kami ditemui oleh ratusan warga desa. Antusiasme masyarakat sangat menyentuh hati. Sebulan lamanya tinggal di desa, kami melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dibagi dalam lima divisi yakni tim pengelolaan air, pendidikan, kesehatan, lingkungan dan olahraga. Ella Kelly (22 th) dari Canberra merupakan salah satu pemimpin bagi tim kesehatan. Kegiatan tim kesehatan termasuk mengajar cara mencuci tangan, memasak makanan sehat (tanpa banyak minyak) dan memberikan informasi tentang kesehatan seksual. “Kami sangat kagum dengan antusias warga desa. Mereka sangat welcome menanggapi ide-ide kami. Setiap acara yang kami adakan, selalu dibantu oleh masyarakat desa,” ujar Ella. Hal yang menantang baginya tentang desa Lumbang adalah ia dan kawan-kawan selalu ingin melakukan lebih untuk mengembangkan desa. “Kebaikan hati dari masyarakat inilah yang akan selalu kami rindukan. Mereka siap mengantar kami kemanapun  dengan motor, menyiapkan tempat tinggal dan memasakkan makanan yang enak-enak untuk kami,” tambah mahasiswi Australian National University di Canberra ini.

            Senada halnya dengan Suryadi Prianda (25 th) dari Berau, Kalimantan Tengah yang mengungkapkan bagaimana desa Lumbang mendapatkan tempat yang spesial di hatinya. “Masyarakat desa  sangat ramah dan memperhatikan kebutuhan kami dengan sebaik-baiknya khususnya keluarga angkat,” tuturnya.

Di desa Lumbang juga, saya dan kawan-kawan belajar banyak tentang adat Sambas seperti memakai pakaian tradisional, mandi betangas, mandi di sungai, seprahan, makan bubur paddas dan durian. Bagi saya, kebaikan hati warga desa Lumbang tak bisa terlupakan. Meski kami hanya sebulan,  saya merasa seperti berada di rumah sendiri. Betapa keluarga angkat kami, masyarakat desa begitu menerima kami peserta PPIA dengan tangan terbuka dan penuh keakraban.

Fase terakhir kami di Pontianak, kami juga tinggal satu bulan di kota yang dilintasi garis khatulistiwa ini. Terus terang saja waktunya tidak cukup untuk menjelajahi semua obyek wisata dan tempat bersejarah di kota ini. Namun, saya dan kawan-kawan sempat mengunjungi beberapa spot diantaranya Tugu Khatulistiwa, kebun dan pabrik aloevera, Kesultanan Pontianak dan Taman Digulis yang kini sedang happening jadi lokasi tongkrongan warga.

 Pontianak merupakan kota yang sedang berkembang pesat dengan maraknya bangunan-bangunan baru. Banyak ikon bangunan di kota ini yang kerap dijadikan jujukan orang ketika berkunjung kesini. Sebut saja, Rumah Adat Dayak Radank, Rumah Adat Melayu, Masjid Mujahidin dan Gereja Katedral Santo Yoseph.  Meski sudah menjadi kota besar, namun disini masih menyambut tetangga seperti keluarga sendiri. Saya sendiri sangat senang tinggal di Pontianak. Bersyukur karena mendapatkan keluarga angkat yang baik hati dan humoris.

Selama di Pontianak, peserta PPIA magang di sejumlah kantor, instansi, lembaga dan media massa. Sebut saja di Universitas Tanjungpura, Pertamina, Radio Republik Indonesia, Walhi dan Lapas Anak. Saya sendiri magang di Pontianak Post. Pekerjaan saya di koran sangat seru dan menarik. Saya bisa belajar banyak hal tentang profesi jurnalistik, mulai dari mewawancarai narasumber, ikut dalam sesi pemotretan hingga menulis beberapa artikel tentang kegiatan PPIA selama berada di Kalbar. Bahkan beruntungnya saya bisa ikut bersama teman-teman kantor merayakan Ulang Tahun Pontianak Post ke-43.  Saya juga ikutan jualan koran loh!

Selain magang, setiap Senin, kami peserta PPIA juga melaksanakan cultural  performance. Tempatnya berpindah-pindah, dari satu sekolah ke sekolah lain, dari SD hingga SMA. Kunjungan ke sekolah-sekolah sangat seru karena kami bisa mengekspresikan  kekayaan budaya Australia dan Indonesia. Tak hanya dalam bentuk tarian-tarian daerah khas kedua negara, kami juga mengenalkan tentang segala sesuatu yang khas di Australia. Selain penampilan budaya,  kami juga diberi kesempatan untuk masuk dalam kelas dan mendorong siswa-siswi untuk belajar Bahasa Inggris dan mendaftar program PPIA di  masa depan. Siapa tahu salah satu peserta PPIA nantinya berasal dari sekolah yang telah kami kunjungi!  (Penulis, mahasiswa MITR peserta PPIA dari negara Australia yang magang di koran Pontianak Post).