Perusahaan Sawit Harap Media Bisa Berimbang

Perusahaan Sawit Harap Media Bisa Berimbang

  Senin, 31 July 2017 10:00
ANTUSIAS : Suasana kegiatan Pelatihan Sustainable Palm Oil Master Class I 2017, yang digelar pada 25-26 Juli 2017 di Swiss-Belhotel Danum, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. SITI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Dari Kegiatan Sustainable Palm Oil Master Class I 2017

Dinamika industri perkebunan kelapa sawit memang menjadi hal yang menarik bagi media. Isu-isu negatif kerap disematkan pada industri ini, semisal kerusakan lingkungan yang ditimbulkan, minimnya fasilitas bagi para buruh sawit, menabrak regulasi, hingga isu-isu terkait pembakar lahan serta alih fungsi hutan menjadi hutan tanam industri.

Siti Sulbiyah, Palangka Raya

PEMBERITAAN terkait industri ini pun didominasi dengan pemberitaan-pemberitaan negatif. Disisi lain, kontribusi sawit terhadap perekonomian negeri ini sudah tidak diragukan lagi. Sawit telah menjadi soko perekonomian negara yang berpenduduk lebih dari 200 juta manusia.

Kendati demikian, media seakan-akan lebih senang menulis hal-hal negatif dari pada dampak positif yang diberikan oleh industri ini.  Belum lagi, terkadang pihak media merasa kesulitan mengakses informasi dengan perusahaan sawit. Sehingga pemberitaan pun menjadi tidak berimbang, dan seolah memojokkan industri sawit. Hal ini membuat perusahaaan mendapatkan imbas negatif akibat pemberitaan tersebut.

“Bisnis perusahaan sawit itu seperti buah simalakama. Ada sisi positif dan negatifnya,” ungkap Ketua Dewan Pers Indonesia, Yosep Adi Prasetyo dalam acara Sustainable Palm Oil Master Class I 2017, di Swiss-belhotel Danum, Palangka Raya, Selasa lalu.

Menurutnya, Indonesia berpeluang besar untuk menguasai pasar sawit di dunia. Saat ini Indonesia telah mampu menguasai 37 persen pasar sawit di dunia. Angka tersebut bisa saja meningkat apabila produktivitas terus digenjot. Hal tersebut sangatlah mungkin mengingat negeri ini memiliki kondisi alam yang sangat mendukung tumbuh suburnya tumbuhan ini.

Selain itu, mengacu data dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) menunjukkan bahwa industri minyak nabati ini telah menyerap tenaga kerja hingga 3,3 juta orang. Hingga tahun 2016, tercatat nilai ekspor yang dihasilkan mencapai angka Rp240 triliun.

Melihat potensi ini, semestinya kehadiran industri sawit patut untuk disyukuri. CEO Perkebunan Sinar Mas Wilayah Kalimantan Barat, Susanto mengatakaan bahwa sawit adalah berkah bagi Indonesia. “Komoditi sawit apabila dibandingkan dengan lainnya seperti karet dan hasil tambang relatif lebih stabil,” ungkapnya.

Sementara itu, Managing Director Sustainbility and Strategic Stakeholder Engagement GAR Sinarmas, Agus Purnomo, mengatakan bahwa permintaan terhadap kelapa sawit terus mengalami peningkatan.  Saat ini minyak nabati sudah banyak digunakan di sejumlah produk, mulai dari kosmetik, produk makanan serta produk lainnya “Minyak nabati itu permintaanya terus meningat. Kenapa meningkat? Jumlah manusianya bertambah. Jumlah produk yang menggunakan minyak nabati juga bertambah,” terangnya.

Hal ini, lanjutnya tentu menjadi peluang yang menjanjikan bagi keberlangsungan industri ini. Namun, ia khawatir dengan adanya upaya-upaya untuk melemahkan industri ini, semisal adanya regulasi dari pemerintah yang berdampak pada sulitnya perusahaan untuk berkembang. Ditambah lagi dengan adanya pemberitaan negatif media yang memojokkan industri ini.

“Pemberitaan yang menyebutkan bahwa minyak sawit itu berbahaya sebagai penyebab kanker, sebenarnya tidak benar. Belum ada penelitian terkait hal tersebut,” katanya.

Pemberitaan negatif tentu membuat perusahaan sawit menjadi sangat gusar. Di sisi lain masyarakat juga harus mendapat informasi yang valid terkait isu-isu tersebut. Untuk itu, guna mencegah terjadinya kesalahpahaman informasi antara media dan perusahaan sawit, maka diperlukan adanya komunikasi serta kerjasama yang sinergis. Upaya tersebut diwujudkan dalam kegiatan Sustainable Palm Oil Master Class I 2017, 25-26 Juli 2017 di Swiss-belhotel Danum, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Diharapkan melalui kegiatan ini, akan terbangunnya kerjasama media dan dengan perusahaan kelapa sawit. Melalui program pendidikan dan pelatihan ini, pemberitaan, khususnya industri sawit dapat disampaikan dalam sajian yang berimbang dan adil. (*) 

Berita Terkait