Perubahan yang Sulit Terwujud

Perubahan yang Sulit Terwujud

  Rabu, 30 March 2016 09:52   642

Oleh: Christoforus Jalu Pinandito

KETIKA saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya selalu diajarkan oleh guru-guru tentang betapa hebatnya bangsa-bangsa Eropa yang berhasil membuat berbagai penemuan, betapa hebatnya Jepang yang dapat menguasai berbagai daerah. Jarang saya dijelaskan bagaimana hebatnya leluhur bangsa Indonesia yang berhasil menyatukan banyak daerah, malah yang saya pelajari di bangku sekolah adalah kondisi bangsa Indonesia yang sangat memprihatinkan ketika masa penjajahan.

Pernah terlintas di pikiran  mengapa  saya tidak pernah mendapatkan pelajaran yang  mengekspose kehebatan para leluhur bangsa yang berhasil menaklukkan berbagai lawan yang tangguh dan kuat.

Pendidikan dasar yang salah menurut saya membuat negara ini menjadi negara dengan mental Irlander. Memiliki mental seseorang yang dijajah, tidak berani dalam menghadapi bangsa lain, takut terhadap kekuatan bangsa lain. Merasa diri sendiri lebih buruk dari pada orang lain, tidak pede dalam memberikan pendapat, takut salah dan tidak berani membuat perubahan

Bercermin pada kehidupan nyata, Negara Indonesia sangat terkenal dalam menyalurkan tenaga kerjanya, bukan dalam bidang profesional melainkan pada bidang penyedia tenaga kerja dan mereka pun dikenal sebagai pahlawan devisa. Tak jarang saya mendengar para pahlawan devisa juga di aniaya oleh orang-orang yang menyebut diri sebagai majikan.

Kembali ke dalam negeri bangsa masih belum memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Salah satu contohnya adalah pembangunan kereta cepat untuk menghubungkan Jakarta dan Bandung. Pekerjaan diserahkan pada pemerintah Cina, mengapa hal ini terjadi? Pemerintah beralasan tidak memiliki sumber daya manusia dan kemampuan yang mumpuni untuk membangun kereta cepat. Memang ironis sekali, sampai orang-orang yang dipercaya untuk memberikan bimbingan bagi negara Indonesia sendiri tidak percaya diri untuk membuat pekerjaan di negara sendiri. Mengapa pemerintah tidak mengirimkan anak-anak bangsa yang sekira mampu pergi belajar ke negeri lain dan mempelajari apa yang mereka miliki? Mengapa tidak mengambil anak-anak bangsa yang sudah memiliki karya di tempat lain untuk kembali ke Indonesia untuk membangun negara ini?
Memang benar apa yang dikatakan Presiden Joko Widodo untuk melakukan revolusi mental. Revolusi memiliki arti melakukan perubahan dengan cepat sedangkan  mental memiliki arti pola pikir, ketika kedua kata tersebut di satu padukan maka memiliki arti perubahan mental yang dilakukan secara cepat. Terdengar sulit memang namun hal ini harus dilakukan untuk menghadapi perkembangan zaman yang melesat cepat.

Dari sudut pandang sumber daya manusia. para pekerja luar menawarkan bayaran yang lebih sedikit dibandingkan dengan para pekerja kasar di Indonesia. Ketakutan pun muncul bukan karena kemampuan kerja yang tidak mumpuni, ketakutan lebih terasa karena merasa bangsa lain memiliki kemampuan yang lebih dari pada bangsanya sendiri. bila keadaan ini terus belanjut maka kedaan bangsa ini akan semakin terpuruk dan mungkin kata-kata tamu di rumah sendiri benar benar akan terjadi (atau mungkin sudah terjadi)..

Memiliki nama revolusi mental memang memiliki arti yang luar biasa, namun pengaplikasiannya tidak dapat dilakukan secara menyeluruh dan langsung terlihat. Perubahan pola pikir harus dilakukan dari pendidikan yang paling dasar dan dimulai sejak dini. Kurikulum pun harus mendukung agar kegiatan ini berjalan maksimal. Bila kegiatan revolusi mental ingin dilakukan, harus dilakukan dengan bantuan seluruh komponen bangsa ini. Kegiatan revolusi mental tidak hanya dapat dilakukan oleh segelintir orang, atau hanya memasukkan dalam iklan-iklan televise dan poster-poster di pinggir jalan.

Bidang pendidikan juga harus menanamkan rasa patriotisme kepada para siswa. Pembelajaran yang mengajarkan tentang lemahnya bangsa ini, tersiksanya bangsa ini harus di kurangi, diganti dengan kehebatan dan kekuatan para pejuang bangsa dalam memperjuangkan kedaulatan negara. Kegiatan pelajaran kewarganegaraan tidak hanya memberikan hafalan-hafalan yang membuat siswanya merasa bahwa negara merupakan hal yang membosankan, tetapi harus memberikan rasa patriotik yang tinggi, merasa bangga dengan bangsanya, mengajarkan keberanian dalam memberikan pendapat. Terdengar aneh memang namun revolusi mental memang butuh dibantu dari banyak aspek.

Pemerintah sendiri tidak boleh hanya mengatakan revolusi mental. Kegiatan pemerintahan harusnya menjadi panutan bagi semua warga negara. Bagaimana perubahan mentalitas bangsa dapat terwujud tetapi pemerintah bangsa ini masih melakuka hal yang sama saja malah cenderung malas. Sebagai contoh pembuatan kereta cepat Jakarta bandung yang saya sebutkan diatas. Pemerintah jangan hanya bermalas-malasan dan hanya memberikan proyek besar tersebut kepada negara lain, dengan alasan ketidak mampuan sumber daya manusia yang berada di negara ini. Pemerintah harus memiliki pola pikir bahwa Indonesia juga mampu untuk membuat sebuah hasil karya, membuat barang-barang yang negara lain dapat buat. Tidak takut untuk memulai. Bagaimana bangsa ini maju ketika para pemegang kekuasaan merasa tidak mampu untuk membuat kereta cepat yang menghubungkan Jakarta bandung. Itu hal mudah, bangsa ini pernah melakukan hal yang lebih besar dari membangun kereta cepat, leluhur bangsa ini bahkan pernah menguasai hampir seluruh asia tenggara, atau bahkan pernah membangun candi Borobudur yang menjadi candi terbesar hingga saat ini hanya dengan tangan dan kaki tanpa bantuan alat berat seperti saat ini. Bangsa ini mampu dan bangsa ini bisa jika mau.

Revolusi mental memang terdengar sulit untuk dilakukan, akan tetapi menurut saya hal itu dapat terwujud dengan memberdayakan semua aspek bangsa ini, dan keinginan untuk berubah. Tanpa kata-kata tersebut bangsa ini hanya akan tetap menjadi bangsa yang tertindas, bangsa yang menjadi tamu di negaranya sendiri. (**)

*)  Pengamat Sosial