Pertanian Kalbar Luar Biasa

Pertanian Kalbar Luar Biasa

  Minggu, 23 Oktober 2016 10:07
TANAM PADI: Menteri Pertanian Amran Sulaeman tanam padi tutup tahun bersama Gubernur Cornelis, serta sejumlah pejabat lainnya di Desa Semanget, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, kemarin (22/10). HUMASKAB FOR PONTIANAK POS

Berita Terkait

SANGGAU – Gubernur Kalbar Cornelis begitu yakin jika provinsi yang dipimpinnya ini memiliki potensi pertanian yang luar bisa. Tidak hanya padi yang menjadi kebutuhan utama untuk konsumsi masyarakat, justru, diakui dia, ada potensi lainnya juga seperti sagu dan lada. Selain itu, dia juga menambahkan jika bawang merah menjadi potensi pertanian baru di provinsi ini.

"Ini sagu Pak Menteri. Itu kebun lada, potensinya begitu besar di wilayah perbatasan ini. Ada juga sagu yang dibiarkan tumbuh hingga bisa dipanen untuk keperluan pangan masyarakat kita," jelas Gubernur kepada Menteri Pertanian (Mentan) RI Amran Sulaeman didampingi Camat Entikong Suparman, dalam kunjungan Mentan ke Desa Semanget, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Sabtu (22/10). Potensi tanaman lada dan sagu yang tumbuh di kiri kanan jalan menjadi pemandangan menarik, ketika Gubernur bersama Mentan, berjalan kaki menuju lokasi tanam padi tutup tahun di desa tersebut. Cornelis memastikan tidak ada tawar menawar untuk meningkatkan produksi pertanian di Kalbar. Apalagi, dia menegaskan bahwa hal itu sudah menjadi program pemerintah.

"Kita jalankan," tandas Cornelis.

Hanya saja jika berkaitan dengan kegiatan ekspor, dia tetap mengingatkan agar mengikuti regulasi yang berlaku. Terkecuali, kata dia, ada aturan khusus karena mengingat daerah perbatasan dengan negara tetangga.

Menurutnya, harus ada pembicaraan bersama terkait regulasi ekspor oleh Menteri Perdagangan, Mentan, Menteri Dalam Negeri, Bea Cukai, dan pihak terkait lainnya. 

Mentan Amran Sulaeman menyebutkan jika impor beras sudah turun mencapai 60 persen. Saat ini, diakui dia jika Indonesia juga lolos dari berbagai bencana seperti elnino, sehingga sudah mulai ekspor beras. 

Sedangkan untuk perluasan lahan pertanian terutama di Perbatasan, Amran berjanji akan menyurati Menteri Kehutanan, terkait rencana alih fungsi hutan dari hutan lindung menjadi area pengguna lain. Namun, dia kembali menegaskan bahwa penyuratan tersebut khusus untuk lahan pertanian. 

"Khusus perbatasan kami akan surati Menteri Kehutanan untuk alih fungsi lahan khusus pertanian tanaman pangan sekitar 5 ribu – 10 ribu hektare. Tujuannya untuk membangun lumbung pangan perbatasan," ujar Amran ketika tanam padi bersama Gubernur, Bupati Sanggau Paolus Hadi, Anggota DPR RI Karolin Margret Natasa dan Daniel Johan, serta sejumlah pejabat lainnya.

Dalam kunjungan itu Amran juga sempat meninjau Balai Karantina Pertanian di PLBN Entikong dan berdialog bersama pegawainya. Bahkan Amran menegur petugas di sana yang terkesan membiarkan printer berdebu dan almari yang berantakan. Diingatkan dia bahwa petugas karantina pertanian  di perbatasan adalah beranda depan kementerian yang dipimpinnya, sehingga harus rapi dan bebas dari pungutan liar.

Menurut Amran, dengan potensi pertanian yang luar biasa, maka sudah bisa diekspor ke luar negeri, dalam hal ini Malaysia. Setiap perbatasan di Indonesia, diharapkan dia, bisa menjadi penyuplai pangan di negara tetangga. Apalagi, diakui dia jika potensi ekspor pun tidak lagi harus beras. Untu komoditas organik yang, dia menegaskan jika saat ini harga ekspor mencapai USD6 atau EU6 perkilogramnya. Saat ini pula angka ekspor beras merah, diungkapkan dia, sudah tercatat mencapai 100 ton. Karena itu, Amran mengingatkan agar petugas Karantina Pertanian mencatat jika ada ekspor beras ke Malaysia melalui perbatasan Entikong. 

Anggota DPR RI Karolin Margret Natasa mengajak masyarakat perbatasan, bersama-sama mendukung apa yang menjadi program pemerintah RI dalam bidang pertanian. Masyarakat juga diajak dia untuk memanfaatkan potensi lahan yang ada. "Jalankan apa yang diarahkan petugas lapangan, pemerintah ingin rakyat sejahtera," pesan Karolin. 

Sebagai anggota legislatif, ia memastikan akan mendorong upaya regulasi ekspor produksi pertanian, sehingga bisa meningkatkan taraf hidup masyrakat. "Jangan sampai perbatasan hanya terkenal di sisi negatif seperti penyelundupan, perdagangan orang, tapi potensi pertanian (positif) juga ada di perbatasan," kata dia mengingatkan. 

Sebagai wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Sanggau, Bupati Sanggau Paolus Hadi, dalam kesempatan tersebut mengatakan sudah mengeluarkan peraturan daerah, agar ada aturan bahwa alih fungsi lahan hanya untuk lahan pertanian. (mse/r)

Berita Terkait