Pertamini, Solusi Keterbatasan SPBU

Pertamini, Solusi Keterbatasan SPBU

  Sabtu, 2 April 2016 10:38
PERTAMINI : Yono (41) sedang mengisi bensin salah satu motor didepan Pertamini miliknya dipinggir Jalan Apel, dengan alat yang menyerupai SPBU ia bisa menjual bensin kurang lebih 15 liter perhari. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Para pengecer bahan bakar minyak semakin menjamur. Mereka menyarar segmen sendiri, dan hadir di kawasan yang relatif jauh dari SPBU. Ada yang masih menggunakan peralatan sangat sederhana seperti botol bekas dan kini banyak pula yang mulai menggunakan alat semi dan canggih. Aristono, Pontianak

BANYAK orang tidak selalu sempat mengisi bahan bakar minyaknya di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum. Selain harus mengantre, SPBU juga tidak selalu hadir di semua lokasi. Apalagi untuk daerah-daerah pelosok. Maka mengisi premium ke para pedagang minyak eceran. Ada banyak sekali cara pedagang yang menjual bahan bakar minyak ini, dari mulai yang menggunakan botol bekas atau jeriken.

Para pedagang bensin eceran kian kreatif. Di Pontianak dan kota-kota lain di Kalbar muncul Pertamini. Dimana para penjual bahan bakar khususnya jenis Premium, tidak lagi menggunakan botol-botol di pinggir jalan, tapi sudah menggunakan alat khusus yang sering disebut “Pertamini”.

Pertamini memiliki perangkat untuk penjualan bensin berupa bahan rangka bok dari besi. Sementara atapnya dilengkapi dengan lampu neon box. Sementara pengambilan bensinnya langsung dari drum penampungan, dimana ada perangkat pompa untuk menyedot bensin ke tabung takaran. Sementara tabung takar sendiri hanya berkapasitas 5 liter saja. Untuk menentukan jumlah bensin yang disetor ke konsumen, penjual tinggal melihat takaran di tabung itu.

Salah seorang pemilik Pertamini adalah Yono. Pria berusia 41 tahun ini menjalankan usahanya di Jalan Apel, Sungai Jawi Luar, Pontianak. Dengan peralatan tersebut, usahanya terlihat lebih unik dan memancing konsumen untuk singgah.

Terpenting lagi, keuntungan utama dari Pertamini dibandingkan dengan menggunakan botol atau corong adalah meminimalisir penyusutan akibat terbuangnya bensin. “Lebih irit sedikitlah daripada yang sudah dibeli ketika ditakar ulang kedalam jeriken .Selain itu dilihat dari segi keamanan menggunakan mesin pompa bensin mini saya rasa lebih aman,” katanya kepada Pontianak Post.

Idenya membuat Pertamini didapatkannya saat berkunjung ke Singkawang. Di kota itu, banyak pedagang bensin eceran sudah menggunakan peralatan Pertamini. Dan dia pun berniat membuka usaha serupa. “Saya lalu searching di internet ternyata dijual bebas di Bandung. Saya lalu tanya keponakan saya di Jakarta untuk membelikannya,” kata dia.

Modal untuk membeli peralatan itu relatif kecil. Yono hanya harus mengeluarkan uang senilai Rp4 juta untuk membeli satu set peralatan Pertamini. Peralatan itu terdiri dari drum berkapasitas 200 liter, pipa, pompa, tabung takaran lima liter dan selang untuk ke konsumen. Banyak konsumen lalu beralih ke Pertamininya. Kata dia, konsumen merasa takaran yang dia berikan ke pembeli lebih akurat.

Beberapa hari sekali dia membeli bensin dari SPBU terdekat untuk jualannya. Bensin itu lantas diisi ke tangki cadangan berkapasitas 200 liter yang dimasukkan di dalam gerobak. Bensin yang dibeli dari SPBU kemudian dimasukkan ke dalam drum sebelum dijual kepada konsumen.

Tidak mau tanggung-tanggung dalam berjualan, Pertamini miliknya buka dari jam 5 subuh, sampai jam 11 malam. “Kerjaan saya ya cuma ini. Biasanya saya jual bisa 15 liter perhari. Tetapi kalau lagi sepi hanya lima liter saja. Tergantung sih,” ucapnya.

Banyak orang yang salah memahami, jika Pertamini merupakan bagian dari Pertamina. Hal itu lantaran nama yang mirip. Apalagi set peralatan Pertamini yang warnanya merah dan putih mirip trade marknya Pertamina. Belum lagi logo yang mirip-mirip. Pihak Pertamina pun membantah, Pertamini merupakan bagian dari Pertamina.

“Pertamini itu kan sama saja dengan penjual BBM eceran. Hanya punya alat sendiri yang disebut Pertamini. Tetapi jelas itu bukan bagian dari Pertamina karena aspek keamanan, standar keselamatan, cara operasionalnya bukan dari kami. Kami tidak akan menjamin resiko apapun yang ditimbulkan dari Pertamini,” ucap Bagja Mahendra, humas Pertamina Regional Kalimantan kepada koran ini, kemarin.

Perihal nama dan warna branding yang mirip dengan Pertamina, Bagja mengatakan pihaknya sedang melakukan riset apakah hal tersebut masuk ke dalam pelanggaran hak cipta atau tidak. Namun yang jelas, kata dia, Pertamina sudah tidak melarang siapapun untuk membeli premium dengan jeriken.

“Sudah sejak tahun 2014 orang bebas membeli lewat jeriken. Dulu memang dilarang karena premium masih disubsidi pemerintah, dan diawasi penjualannya. Sekarang hanya solar saja yang dilarang penjualannya kepada pembeli dengan jeriken. Karena solar masih disubisidi pemerintah,” pungkas dia. (ars)

 

 

Berita Terkait