Pertama, Paloh Jadi Kawasan Konservasi Rangkong Gading

Pertama, Paloh Jadi Kawasan Konservasi Rangkong Gading

  Senin, 27 June 2016 09:57
RANGKONG: burung eksotik icon dari KAL-BAR mesti dilesatrikan. PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK — Pencinta burung Rangkong Gading alias Enggang Gading tidak lama lagi akan melihat langsung habitat dan aktivitas asli burung asal pulau Kalimantan ini. Burung yang nama ilmiahnya disebut Buceros/Rhinoplax Vigil dan kerap menjadi burung pemburu gelap akan dikonservasikan di Paloh Sambas atau Sintang. Kabar mengejutkan sekaligus mengembirakan tersebut disampaikan langsung Daniel Johan, anggota DPR RI asal dapil Kalbar.

“Mohon doa restu dan dukungannya. Masalahnya dalam sejarah Indonesia dan pertama kali bahwa Indonesia dengan Kalbar segera memiliki kawasan konservasi dan kawasan burung enggang,” ujarnya seusai mengadakan buka puasa bersama di Rumah Habib Rido Yahya, di Jalan Petani,  Kota Pontianak, Jumat (24/6).

Daniel menjelaskan sejauh ini usulan kawasan konservasi dan kawasan burung enggang paling cocok berada di Paloh Sambas. Di sana sudah ada kawasan hutan lindung sejak lama. Hanya ada alternative pilihan lain yang juga disiapkan yakni di Kabupaten Sintang. “Kita lihat saja ke depannya, apakah Kabupaten Sambas lebih siap,” tutur dia.

Menurut Daniel se-Indonesia mungkin pertama dalam sejarah burung Rangkong Gading dilestarikan. Bahkan slot anggarannya sendiri sudah masuk di APBN Perubahan 2016. Mata anggarannya yakni kawasan Konservasi dan Penangkaran Burung Enggang Gading. ”Jadi, tak hanya orang utan ada penangkaran, burung Enggang Gading juga harus ada,” tuturnya.

Kenapa harus ada? pertama cukup sedih banyak berita berseliweran bahwa paruh burung Enggang Gading menjadi buruan pasar gelap. Makanya aktivitas buruan tersebut jangan sampai membuat burung enggang justru punah. Apalagi Rangkong Gading tak hanya sekedar menjadi identitas Kalbar, tetapi sudah menjadi identitas pulau Borneo (Kalimantan).

Di sisi lain maksud dari pelestarian burung Enggang Gading, karena selama ini ia tidak pernah melihat secara langsung burung asli asal Kalimantan tersebut. Daniel sendiri bahkan sudah berkeliling Kalbar dari satu desa ke desa lain, namun tak pernah menemukan burung Rangkong Gading di depan mata. “Bahkan waktu pembahasan Pak Menteri yang ditanya juga melihat burung tersebut adanya di kebun binatang,” ujarnya.

Daniel menambahkan sebetulnya memasukan mata anggaran ini juga menemui kendala dan kesulitan. Tetapi setelah dijelaskan secara ilmiah, akhirnya mata anggaran burung dimaksud lolos juga di APBN-P. ”Hanya untuk rielnya saya belum tahu. Usulan anggarannya berada di bawah Kementeriaan Kehutanan dan Lingkungan Hidup,” ungkap dia.(den)

Berita Terkait