Pertahankan Tradisi Saprahan Melayu

Pertahankan Tradisi Saprahan Melayu

  Minggu, 9 Oktober 2016 10:46
SAPRAHAN: Warga di Kelurahan Bansir Laut,Kecamatan Pontianak Tenggara mengelar acara saprahan yang panjangnya kurang lebih mencapai 70 meter,Sabtu(8/10). HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PONTIANAK-Acara saprahan sebagai pelestarian budaya Melayu Kota Pontianak, yang dilaksanakan di Gang Ramadan, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara Sabtu Pagi berjalan semarak. Meski saat makan saprahan sempat diguyur hujan, tak membuat ratusan warga pulang. Sajian makanan yang disuguhkan sepanjang 100 meter itu mampu menarik perhatian semua warga.

“Kami sebagai warga asli Gang Ramadan, Kelurahan Bansir Laut, sangat senang karena sudah dipercaya oleh Wali Kota untuk menyelenggarakan kegiatan saprahan ini. Semoga pelaksanaan di tahun berikutnya dapat lebih baik,” terang warga Gang Ramadan, Halizah usai acara Saprahan.

Meski Saprahan ini miliki kekurangan tetapi tak membuat acara ini tak menarik, buktinya ratusan orang dapat makan bersama. Hal ini menjadi khas. Sebagai warga ia berharap acara tahun depan dapat lebih semarak dari tahun ini. Ia ingin acara saprahan dapat menjadi ikon Pontianak khususnya di Kelurahan Bansir Laut. Secara keseluruhan, momentum Hari Jadi Pontianak ia ingin ke depan kota Khatulistiwa semakin baik. 

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji menyambut baik inisiatif warga menyelenggarakan saprahan di sebagian jalan Gang Ramadan. Saprahan merupakan bentuk pelestarian budaya Kota Pontianak. 

Wali Kota dua periode itu minta tradisi ini terus dipertahankan dan lebih dikenalkan ke semua kalangan. Pemerintah Kota Pontianak sudah melakukan upaya dalam mempertahankan budaya saprahan dengan menggelar lomba saprahan tingkat SMA sedarajat. Untuk tahun depan, pihaknya akan menggelar saprahan tingkat SMP. 

Saprahan sebenarnya hampir sama dengan tradisi robok-robok. Kalau saprahan lebih tertata dan ada tata tertibnya. Ada filosofi pada kegiatan saprahan ini, seperti nilai kebaikan, kebersamaan dan adab di mana acara makan bersama miliki pemimpin acaranya. “Seorang kepala saprah tidak boleh berhenti sebelum anggota saprahan berhenti. Itu menunjukkan bahwa pemimpin itu harus mengayomi,” tuturnya.

Dirinya yakin apabila Saprahan dipertahankan dan ditumbuhkembangkan, ke depan karakter warga Pontianak akan lebih toleran. Untuk medapat informasi lebih dalam tentang budaya saprahan, juga telah dibukukan oleh Majelis Adat Budaya Melayu (MABM). Penulisnya Safarudin. Di buku itu, mengulas berbagai model saprahan sesuai asal muasal daerahnya. “Acara saprahan dari daerah Pontianak dengan lainnya berbeda. Dengan membaca buku itu warga dapat mengetahui jenis saprahan sesuai asal daerahnya,” terangnya.

Contohnya, saprahan Pontianak dan Sambas miliki perbedaan. Kalau di Pontianak saprahan dengan model memanjang. Kalau di Sambas, makanan di tempatkan dalam satu wadah untuk dinikmati empat sampai enam orang. 

Hal senada dikatakan Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. “Pemkot sangat mengapresiasi tiap kegiatan masyarakat. Apalagi kegiatan ini untuk melestarikan budaya yang ada di wilayahnya masing-masing. Saya berharap, warga Kampung Bansir tetap mempertahankan masakan khasnya, baik itu untuk sajian makanan saprahan maupun kue-kue tradisional,” ungkapnya.

Menurut dia, kegiatan seperti ini dapat menambah khasanah budaya dan dapat menarik wisatawan lokal dan mancanegara untuk datang ke Pontianak.  

Di tempat sama, Ketua MABM Kota Pontianak, Firdaus Zar’in menyatakan, ke depan acara saprahan harus memiliki pedoman. “Dulu saya pernah lihat perlombaan saprahan ada yang menggunakan plastik sebagai bungkusnya. Harusnya ada petunjuk jelas mengenai perlombaan saprahan. Dengan begitu tidak menyulitkan tim penilai sebagai juri,” terang Wakil DPRD Kota Pontianak. 

Secara pribadi, Zar’in melihat saprahan miliki daya tarik dan dapat mengundang wisatawan untuk datang ke Pontianak. Secara keseluruhan kegiatan ini berjalan sukses. Sekarang kata dia, bagaiman cara Pemerintah Kota Pontianak dapat menarik wisatawan untuk datang ke sini melihat kegiatan Saprahan ini. 

Agar budaya melayu melakat di Kampung Bansir, ia ingin ada satu rumah melayu dibangun. “Memang kendalanya soal lahan, tapi kalau ada lahan ukuran 15 x 20 meter saya rasa bisa dibangunkan rumah melayu. Nanti di sana ada kesenian yang bisa ditampilkan. Jika ini terwujud saya rasa bagus,” terangnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pontianak, Hilfira Hamid menambahkan, saprahan yang digelar merupakan bagian dari launching Kampung Bansir sebagai Kampung Budaya. Di Kampung Budaya ini, para wisatawan atau tamu dari luar yang tertarik melihat budaya Melayu di Pontianak seperti saprahan, kerajinan-kerajinan khas, bisa berkunjung ke Kampung Bansir ini. Siapapun yang ingin melakukan saprahan dan kapanpun waktunya, bisa difasilitasi dan dilayani di Kampung Budaya dengan catatan dua hari sebelumnya sudah melakukan booking dengan menyebut jumlah peserta yang minta disediakan makan bersama secara lesehan ini. Untuk pelayanan minimal empat orang acara saprahan bisa dilaksanakan.

Seperti diketahui tradisi makan saprahan Melayu Pontianak lumrah ditemui saat acara pernikahan, khitanan dan acara syukuran lainnya. Dalam acara saprahan, semua hidangan makanan disusun secara teratur di atas kain saprah. Peralatan dan perlengkapan dalam adat saprahan mencakup kain saprahan, piring makan, kobokan beserta serbet, mangkuk untuk nasi, mangkuk untuk lauk hidangan, sendok untuk nasi dan lauk serta gelas minuman. Menu utama hidangan adat saprahan di antaranya nasi putih atau kebuli, masak kecap (semur daging), sayur dalcah, sayur pacri nenas, selada, acar telur, sambal bawang, air serbat dan kue tradisional khas Kota Pontianak (iza)

Berita Terkait