Persoalan Layangan Harus Diseriusi

Persoalan Layangan Harus Diseriusi

  Minggu, 17 December 2017 08:30
RAZIA LAYANGAN: Tim razia gabungan mengamankan layangan beserta talinya saat razia bersama, Agustus lalu. DOKUMEN

Berita Terkait

Bukan jadi rahasia bahwa antara pemain dan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Kota Pontianak seperti main kucing-kucingan dalam penertiban layangan. Jika ada razia layangan, pemain tiba-tiba lenyap, namun jika razia kendor, permainan layangan kembali terlihat di langit Kota Pontianak. 

BARU-baru ini akibat tali layangan, dua korban harus dilarikan ke rumah sakit. Kejadian kesekian kalinya itu kembali menyentak masyarakat Kota Pontianak. Aturan perda larangan bermain layangan, denda, dan sanksi tipiring tampaknya belum buat jera pemain layangan.

Pantauan Pontianak Post sebelum kejadian dua bocah korban tali layangan, cukup banyak layangan berterbangan di langit khatulistiwa. Di wilayah pinggir selatan Pontianak, Jalan Bina Jaya, utamanya pada hari libur, banyak pemain layangan di sana. Pemainnya didominasi orang dewasa.

Selain bermain layangan ukuran besar, pemain layangan yang menggunakan tali kawat juga terlibat. Rerata layangan yang menggunakan tali kawat menunggu layangan besar putus ketika beduel di langit. Biasa disebut layangan penyaok.

Sebelum peristiwa akibat tali layangan yang menimpa bocah di Kecamatan Pontianak Timur terjadi, Wakil Wali Kota (Wawako) Pontianak Edi Rusdi Kamtono telah mewanti-wanti pemain layangan, agar tak bermain layangan utamanya di tengah kota. Dia sampai meminta Pol PP agar giat lagi merazia layangan. Monitor di lapangan, menurut dia, harus dilakukan tiap hari.

Ia tak menutupi bahwa kejadian temuan pemain layangan di Kota Pontianak memang masih berulang. Edi bahkan menganggap bahwa Perda dan Perwa yang dibuat saat ini belum berjalan maksimal. Untuk mengukurnya, kata dia, indikator dari kepatuhan masyarakat terhadap aturan. "Kalau sekarang masih ditemukan pelanggaran, artinya ini belum berjalan maksimal," akunya.

Permainan layangan di Kota Pontianak, kata Edi lagi, sudah banyak memakan korban. Belum lama ini, ada satu orang tewas akibat kesetrum listrik usai mengambil tali kawat layangan yang nyantol di kabel listrik. Belum lagi tali gelasan yang menggantung di jalan menyebabkan leher korbannya tebeset. "Coba bayangkan jika yang menjadi korban pemain layangan keluarganya sendiri. Saya yakin pasti si pemain tak mau lagi bermain layangan," ujarnya.

Bagi masyarakat yang memainkan layangan sebagai olahraga rekreasi, dipersilakan Wawako untuk bermain, tetapi lokasinya tidak sembarang. Dia berpesan agar mencari lokasi yang jauh dari pemukiman, sehingga ketika layangannya putus tak terjatuh di jantung kota. "Kalau jatuh di kebun sawit, saya tak khawatir. Tapi jika putusnya di tengah kota, akan bahaya bagi pengguna jalan. Memang tampak sepele, tapi sekali makan korban, yang disalahkan nanti pasti pemerintah," ungkapnya.

Ke depan, sosialisasi layangan mesti akan ditingkatkan mereka. Harapannya agar dapat memberi efek jera pada pemain layangan. "Tangkap dan tipiring jika ditemukan. Bagi masyarakat yang melihat bisa dilaporkan ke Pol PP, agar lekas ditindaklanjuti," pungkasnya. (iza)

Berita Terkait