Persaingan Antaranak

Persaingan Antaranak

  Rabu, 30 December 2015 08:10

Berita Terkait

Dalam kehidupan, persaingan dapat terjadi pada siapa saja, dan dimana saja. Termasuk antar anak.Tentu saja persaingan yang terjadi bisa memicu dampak positif,  tetapi tak jarang pula menimbulkan dampak negatif. Oleh : Marsita Riandini

Persaingan antar saudara adalah proses alami dari pertumbuhan anak. Disitulah dituntut peranan besar dari kedua orang tua agar persaingan tersebut tak menimbulkan konflik, dan berpengaruh bagi tumbuh kembang anak. Demikian yang disampaikan Endah Fitriani, M. Psi, Psikolog kepada For Her. “Persaingan yang terjadi pada anak bisa dalam berbagai hal. Mulai dari persaingan merebut kasih sayang orang tua, prestasi di sekolah dan bidang lainnya,” ujar Konselor Remaja di BKKBN Perwakilan Kalbar ini.

Jika persaingan yang terjadi itu sehat, maka ini baik. Anak akan belajar bahwa dalam hidup ada yang namanya kompetisi. “Anak akan berbesar hati jika kakaknya atau adiknya meraih prestasi. Ketika dia berhasil dalam bidang tertentu, dia tidak mencela saudaranya . Tidak muncul sikap iri hati,” papar dia.

Sebaliknya, jika persaingan yang muncul tidak sehat, maka saling mencela, iri hati, bahkan mungkin merasa rendah diri. “Bahkan bisa menimbulkan pertengkaran antar saudara,” jelas Guru BK di SMPN 10 Pontianak ini.

Persaingan dapat muncul pada diri anak, lanjut dia disebabkan berbagai faktor. Termasuk diantaranya karena sikap orang tua. “Jika orang tua sering membanding-bandingkan anaknya, maka ini yang menyebabkan muncul persaingan pada diri anak. Dia merasa orang tua lebih sayang pada salah satunya saja. Muncullah keinginan untuk merebut hati kedua orang tua,” tuturnya.

Endah menyontohkan, pada saat mengetahui hasil belajar anaknya, ternyata antara si kakak dan si adik jauh berbeda. Kakak berhasil meraih juara di kelas, sementara nilai adik tidak. “Kadang ada orang tua yang kemudian mengatakan kepada anaknya, tuh coba lihat kakakmu. Dia berhasil meraih juara. Kamu harus seperti kakak. Jika penyampaiannya tidak tepat, maka anak merasa harga dirinya menjadi rendah di mata orang tua,” ujar dia.

Setiap anak tentu memiliki potensi yang berbeda-beda, sekalipun mereka saudara kandung. Ada anak yang kemampuan matematikanya bagus, ada pula yang sedang-sedang saja tetapi lebih menonjol di bidang lain. “Jika si kakak lebih menonjol di matematika, orang tua tidak memaksa adiknya harus baik pula matematikanya. Kenali potensi anak dan gali potensi tersebut,”ungkapnya.  Meskipun lanjut Endah, tak ada salahnya mendorong anak untuk lebih giat lagi belajarnya, agar nilai matematikanya mendapat nilai yang baik. “Justru harus diberikan semangat. Bisa dengan memasukkannya ke bimbingan belajar, atau sejenisnya agar anak bisa memperbaiki kekurangannya,” timpalnya.

Kemunculan adik juga menjadi penyumbang terjadinya persaingan. Anak merasa kelahiran si adik akan membuat posisinya terancam. “Dia khawatir kasih sayang orang tuanya akan berpindah ke adiknya saja,” ungkapnya.  Persaingan juga kerap terjadi pada anak yang jarak kelahirannya dekat. Tetapi jika orang tua mampu mengantisipasinya sejak dini, maka ini bisa dihindari. “Ketika orang tua hamil, anak sudah diberitahu bahwa dia akan memiliki adik. Yakinkan bahwa kedatangan adik tidak berpengaruh pada kasih sayang orang tua kepadanya. Tanamkan kepada anak bagaimana sikap dia kepada adiknya,” pungkasnya. **

 

Berita Terkait