Perpaduan Masakan Rumahan

Perpaduan Masakan Rumahan

  Sabtu, 9 April 2016 11:10
Menikmati Sajian Warung Tengah Sawah

Berita Terkait

Namanya tidak lazim, bahkan sepintas terdengar seronok, WTS. Lokasinya berada di desa dan jauh dari jaungkauan. Tetapi, datang ke sana dijamin tidak akan merugi dan menyesal.

WARUNG itu sangat sederhana, bahkan teramat sederhana. Tiang bangunan utamanya berasal dari kayu dan bambu. Dindingnya terbuat dari gedek. Tempat bersantapnya berupa gubuk panjang, tanpa dinding. Meja dan kursinya pun biasa saja. Ada tiga meja berukuran besar dan panjang yang dilengkapi kursi berbentuk bangku panjang. Lantainya adalah tanah liat.

Bangunan tambahannya juga sederhana. Yakni, berupa gubuk besar bertiang bambu. Tidak ada kursi di gubuk tersebut. Hanya ada meja. Ukurannya pun tidak seberapa besar. Di gubuk itu para pengunjung duduk lesehan di atas papan kayu yang berpadu dengan bambu. Suasananya benar-benar ndeso. ”Tempatnya memang sederhana. Tapi, makan di sini istimewa,” ungkap Nova Indah.

Sepintas, ungkapan tersebut memang terdengar berlebihan. Namun, ucapan yang terlontar dari perempuan 35 tahun itu sebenarnya terasa pas dengan situasi dan hidangan yang tersaji di hadapan setiap pengunjung warung. ”Selain masakannya nikmat, di sini kami bisa bersantap sembari menikmati indahnya alam,” ujar Nova yang Senin siang itu datang bersama sebelas rekan kerjanya dari Bangil, Pasuruan. Warung sederhana tersebut memang sangat tidak biasa. Namanya saja sudah tidak lazim, bahkan terdengar seronok, yakni WTS. Tetapi, WTS tersebut berbeda dengan persepsi publik. WTS yang dimaksud merupakan kependekan dari Warung Tengah Sawah. Seperti namanya, warung itu memang berada di area persawahan. Tepatnya, di area persawahan Desa Jemirahan, Jabon.

Sekeliling warung itu adalah sawah. Karena itu, saat bersantap di sana, setiap pengunjung bisa menikmati hijaunya hamparan tanaman padi dan semilir angin. Selain itu, tampak pemandangan alam lain berupa keanggunan Gunung Penanggungan, Welirang, dan Arjuna di sisi barat daya. Yang bersantap di gubuk besar di sisi selatan warung utama juga bisa memandangi ikan berenang. Sebab, gubuk tersebut ber diri di atas kolam ikan. ”Saya se rasa berada di kampung halaman kalau makan di sini,” ucap Suyitno, warga Tropodo, Sidoarjo, yang kelahiran Ngawi.

Sembari menikmati keindahan alam, pengunjung bisa menyantap masakan khas olahan rumahan. Terutama olahan ikan. Menu yang tersaji di WTS ialah belut goreng, mujair goreng dan panggang, gurami, bandeng, udang windu, serta kepiting. ”Semua yang kami masak ini dalam kondisi segar,” terang si empunya warung, Mar’atus Sholikah. WTS berdiri pada 2004. Warung itu didirikan dengan penuh risiko.

Sebab, warung tersebut dibangun di lokasi yang sangat sepi. Sudah sepi, lokasinya juga jauh dari mana-mana. Lokasinya benarbenar berada di desa. Dari Sidoarjo, pengunjung membutuhkan waktu tidak kurang dari 30 menit. Tetapi, perlahan demi perlahan, orang mulai mengenal WTS. Semua bermula dari banyaknya orang yang mencari jalan alternatif ketika terjadi luapan lumpurdi Porong. (fim/c20/tia)

Berita Terkait