Pernah Mengisolasi diri di Hutan, Sadar Setelah Semua Hilang

Pernah Mengisolasi diri di Hutan, Sadar Setelah Semua Hilang

  Rabu, 28 September 2016 09:30
BERCERITA: Yudha saat menceritakan bagaimana melepas diri dari jerat narkotika. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Tak ada yang tersisa setelah 20 tahun mengkonsumsi narkotika. Keluarga, harta, dan jabatan tersingkir dengan sendirinya. Pernah berusaha menjauhi narkotika dengan mengisolasi dirinya ke hutan. Namun, uang kembali menuntunnya mengecap narkotika. Kini, dia mulai memupuk keluarga baru bersama para residen lainnya yang berjuang melawan candu narkotika.

AGUS PUJIANTO, Pontianak

NAMANYA Yudha Rahmat Wijaya. Usianya 54 tahun. Perawakannya gempal. Rahangnya kuat dan kokoh. Sorot matanya tajam saat memandang lawan bicaranya. Bekas tato masih membekas di kedua lengannya. 

Selama 20 tahun, Yudha menghabiskan masa hidupnya bergelut dengan narkotika. Saat usia senja dihabiskan bersama keluarga, Yudha justru sedang membangun keluarga baru bersama para residen (mantan pecandu) narkotika yang berada di pusat rehabilitasi pecandu narkotika RBM Bumi Khatulistiwa. Yudha dianggap paling tua. Dia dipercaya sebagai bagian keamanan. Kepada Pontianak Post, dia bersedia namanya dipublikasi.

Yudha pernah punya keluarga dan dikaruniai dua anak. Mereka memilih jalan perpisahan, setelah melihat Yudha kerap emosi: pengaruh narkotika membuatnya lupa, jika dia seorang kepala keluarga. 

“Sudah 20 tahun mengkonsumsi narkotika. Semua jenis kejahatan sudah dilakukan. Sekarang baru tersadar, semuanya tidak ada lagi,” kata Yudha menyimpulkan apa yang sudah didapat setelah melalui masa suram bersama barang haram.

Ayah Yudha, seorang abdi negara pada masanya. Benteng agamanya juga kuat ditanamkan padanya sejak kecil. Ketika kecil, Yudha kerap mengikuti orangtuanya berpindah-pindah dalam menjalankan tugas negara. Demikian juga dengan pendidikannya. 

Memasuki SMA, pergaulannya mulai luas. Dia dikenal supel dan mudah berteman. Sejak itu pula, dia tergiur dengan obat-obatan. “Kawan ngumpul yang mengenalkan. Zaman saya, tahun 79, narkotika sudah ada, tapi jenisnya lain,” kata Yudha mengingat.

Usai menamatkan SMA tahun 1981, Yudha merantau ke Malaysia. Tiga tahun kemudian dia pulang ke Kalbar, lalu mendaftar tes pegawai negeri sipil (PNS). Dia lolos. Kendati sudah memiliki pekerjaan tetap, Yudha belum meninggalkan narkotika. Selain menjadi pegawai di Kantor Gubernur pada masanya, dia juga aktif di organisasi kepemudaan. 

Bergabung di organisasi kepemudaan, pergaulan Yudha semakin luas. Dia kerap mengikuti banyak kegiatan dan cukup mengenal banyak orang dari berbagai kalangan. Pengaruh pergaulan itu, menyulitkannya lepas dari jerat candu narkotika. Akibatnya, candu itu berdampak buruk bagi dirinya. Semangat kerja kendur. Dia disarankan pindah oleh rekan kerjanya. 

“Kawan kantor ndak tahu, kerja saya mulai ndak beres karena pengaruh narkotika. Akhirnya saya pindah ke kotamadya (Pemkot),” sebut Yudha.

Yudha sadar, candu narkotika meracuni hidupnya secara perlahan. Mulai dari uang tabungan yang setiap bulannya habis untuk membeli barang haram. Hingga dampak terhadap keluarga sebab dia jarang meluangkan waktu untuk istri dan anaknya. “Ada uang Rp1 juta, habis dipakai beli. Waktu itu, keluarga dan kawan-kawan di kantor belum tahu,” ungkapnya.

Suasana kerja Yudha mulai tak karuan. Dalam sebulan, bisa hitungan jari dia masuk kantor. Etos kerjanya menurun lantaran narkotika. Dia hanya berpikir, bagaimana mencari uang untuk mengobati candunya. Dia kembali disarankan pindah. Terakhir sebelum memutuskan untuk pensiun dini, dia ditempatkan di Satpol PP.

“Saya merasa ada gangguan kejiwaan.  Akhirnya tahun 2002, saya mengajukan pensiun dini,” ungkapnya lirih. Sejak saat itu, dia pisah dengan istri dan anaknya. Dampak narkotika membuat emosinya tak terbendung. 

Selama 20 tahun mengidap candu, terlintas baginya untuk mengakhirinya. Dia berusaha melawan kuat keinginannya. Dia merasa, semua yang dia punya sudah tak ada yang tersisa. “Dalam perjalanan, sempat mencoba untuk berhenti. Memang susah. Akhirnya kembali lagi,” kenangnya.

Pernah suatu ketika, dia pergi ke sebuah pesantren untuk mengobati candunya. Namun apa daya, candu itu tetap menghantuinya. Selepas tiga tahun di pesantren, Yudha kembali menikmati narkotika. 

“Pada saat itu berhenti total tapi dalam perjalanan itu muncul lagi, setelah keluar dari pesantren makai lagi,” ujarnya.

Gagal di pesantren, Yudha nekat mengisolasi diri lari ke hutan, di Sungai Sengkuang, Kabupaten Sanggau. Upaya ini, untuk menjauhkannya dari narkotika. Selama empat tahun di hutan, dia mendirikan sebuah gubuk. Makanannya: apa saja yang ada di hutan dia makan. “Makan apa yang ada di situ, memang ada bikin sendiri gubuknya makan apa saja, ndak saya pikirkan yang penting saya pengen berhenti dari narkotika,” akunya. Selama menetap di hutan, dia dikabarkan hilang. Tak ada yang tahu keberadaannya, termasuk keluarga. 

Upaya melawan candunya sempat berhasil selama empat tahun tinggal di hutan. sebab tak mungkin dijumpai di sana. Setelah keluar dari hutan, dia ikut bekerja ikut pengerjaan proyek. Merasa punya uang, lagi-lagi bayangan pil itu melayang dipikirannya untuk membeli dan menikmati candu. Pupus lagi harapannya untuk berhenti. “Susah nahan kalau ada uang, pasti beli lagi,” ungkapnya.

Narkotika, kata Yudha, tak bisa jauh dari dunia kriminal. Hampir semua tingkat kejahatan pernah dia lakukan hanya untuk dapat membeli narkotika. Ini pula alasan dia sempat lari ke hutan. “Semua pernah dilakukan hanya untuk beli narkotika. Semua harta benda habis semua, hanya untuk kepentingan satu hari saja,” jelasnya.

Yudha tiba pada titik jenuh. Semua yang ia miliki menghindar. Terakhir kali, dia menggadaikan kendaraan bermotor dan fyber milik adiknya hanya untuk memenuhi kebutuhan candunya. Saudaranya mengetahui perilaku tersebut hingga Yudha diberi dua pilihan: Menjalani rehab atau dilaporkan ke polisi.

“Tapi itulah sekarang titik jenuh, capek. Semua orang sudah ndak suka dengan kita. Orang tua sudah meninggal kecewa juga mereka,” ungkapnya.

Akhir 2015, dia memutuskan untuk masuk ke lembaga rehabalitiasi pencandu narkotika. Di sana dia menemukan banyak hal. Selain bisa berkumpul saling memberi motivasi antar masing-masing residen, di sana mereka dituntut untuk bisa memanagemen hidup. (*/bersambung) 

Berita Terkait