Pernah Ibu Majikan Marah-Marah, Kepikiran Mau Berhenti

Pernah Ibu Majikan Marah-Marah, Kepikiran Mau Berhenti

  Senin, 3 Oktober 2016 10:46

Berita Terkait

Menjadi asisten rumah tangga bukanlah hal yang mudah, apalagi sambil kuliah.  Hal itu menuntut manajemen waktu yang baik, kesabaran, serta semangat yang kuat. Kisah ini dijalani Sri Sintia, gadis luar biasa dari Teluk Pakedai, Kubu Raya.

 

 

 

SUKARDI, PONTIANAK

 

SRI Sintia, lahir di Teluk Pakedai, 10 Januari 1994. Ia adalah seorang mahasiswi di IAIN Pontianak semester VII, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Sehari-hari, gadis berjilbab ini bekerja sebagai asisten rumah tangga.

Ia senang mendapat info tentang lowongan kerja itu setelah lulus SMA. Namun di sela-sela rasa senang itu, ia sempat bingung mempertimbangkan antara kuliah atau bekerja.

“Sudah tiga tahun lebih bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Semenjak masuk kuliah, dari semester satu dan sekarang sudah semester tujuh,” kata Sri saat ditemui di kampusnya, Rabu (28/09).

Informasi tentang pekerjaan ini didapatnya dari kakak angkat. Lantaran tertarik, Sri kemudian menggali informasi lebih dalam mengenai pekerjaan tersebut. Sesuai perjanjian dengan majikan, Sri Sintia dapat bekerja sambil kuliah.

Sebelum memutuskan untuk bekerja, Sri terlebih dahulu meminta restu kepada kedua orang tuanya. “Pertama bilang ke orang tua dulu, boleh atau tidak. Orang tua bilang terserah, yang penting benar dan sesuai apa tujuannya. Setelah mendapatkan restu orang tua, barulah  saya memutuskan mau kerja di situ,” tutur Sri dengan mimik wajah senang.

Sri Sintia adalah putri kedua dari pasangan Ali Nurdin dan Siti Nur Rohmah. Mereka enam bersaudara. “Kakak satu sudah nikah. Saya anak kedua. Jadi ada empat adik. Bagi-bagi duitnya itu susah, adik juga sekolah. Ayah bekerja mengkopra kelapa. Ibu bantu-bantu ayah,” katanya sembari mengingat-ingat keluarga di kampung.

Bicara soal gaji, Sri menyebutkan, sesuai dengan perjanjian awal, biaya kuliahnya ditanggung oleh majikan. Setiap enam bulan sekali, majikan memberinya uang daftar ulang sejumlah Rp.1.335.000.

“Setiap bulannya dikasih uang jajan Rp.250.000. Sekarang sudah Rp.300.000. Kalau dihitung, gaji bersih Rp.600.000 sampai Rp.700.000, karena waktunya tidak full di rumah, kepotong waktu di kampus,” jelasnya.

Bekerja sambil kuliah bukanlah hal yang gampang. Apalagi ketika ada tugas mata kuliah wajib, sementara di rumah ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Sri dituntut untuk pintar membagi waktu agar kedua kepentingan itu bisa berjalan beriringan.

“Sebenarnya susah sih bagi waktunya, di sisi lain kita mikir belajar, belum lagi kalau ada tugas-tugas kelompok dan studi ke perpustakaan. Sementara kalau kita sudah pulang, pastilah sudah fokus di rumah,” katanya.

Jadi ketika ada tugas, biasanya ia baru bisa mengerjakannya pada malam hari. Karena Sri menyelesaikan pekerjaan di rumah terlebih dahulu. Namun, jika ada tugas kuliah yang benar-benar urgen dan harus segera diselesaikan, maka ia akan membicarakannya dengan majikan dan meminta izin.

Dari segi fasilitas, tempat Sri bekerja sudah lengkap dan sangat menunjang keperluannya sebagai mahasiswa. Di rumah itu ada kantor, dan jaringan internet yang lancar.  “Fasilitas sudah lengkap,” ujarnya.

Demi kenyamanan dan kelancaran kerja, para pekerja seharusnya mendapatkan asuransi. Hal inilah yang tidak didapatkan oleh Sri Sintia. “Kalau misalkan bisa, adakanlah asuransi untuk pekerja rumah tangga. Soalnya kita butuh dan tidak tahu ke depannya bagaimana. Kalau bisa diasuransikan,” pintanya.

Mengenai pekerjaannya ini, Sri Sintia merasa lebih cocok disebut “pekerja rumah tangga” dibanding “pembantu”. Sebutan “pembantu” dirasakan memiliki konotasi yang negatif.  “Memang sih kita bantu-bantu, tapi pembantu itu kan kayak budak di zaman dulu,” katanya.

Bekerja sebagai asisten rumah tangga juga berpengaruh terhadap kehidupan sosial Sri. Waktunya untuk bergaul atau berkumpul dengan teman-teman sangat terbatas. Ketika ada waktu free,  teman-teman disuruh datang ke rumah. Majikan menentukan, setelah pulang kuliah harus sudah ada di rumah.

“Itulah tu yang susah. Pengen kumpul, soalnya kita juga butuh kawan. Paling kalau ibu lagi keluar, kawan-kawan yang disuruh ke rumah. Ibu majikan lebih mengizinkan kawan-kawan ke rumah, dan membatasi untuk kumpul-kumpul di luar. Apalagi sudah magrib, tidak boleh ada lagi aktivitas di luar rumah,” jelasnya.

Sepanjang pengalamannya bekerja, Sri mengaku waktu paling melelahkan adalah ketika ada acara arisan di rumah. Ia baru bisa beristirahat sekitar pukul 9 malam. “Yang paling capek itu ketika ada arisan. Masak, ngemasin rumah, ke pasar, nyuci dan lain-lain. Bangun setengah lima, ke masjid salat subuh. Sekitar jam lima mengurusi kucing, memberi makan, membersihkan tempatnya, membuang kotorannya. Kucingnya ada sembilan ekor. Selebihnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga pada umumnya,” tutur dia.

Hubungan dengan keluarga di kampung dilakukan melalui sambungan telepon atau pesan pendek. Untuk ketemu langsung sulit, faktor lokasi yang jauh. Ketika hari raya, ada waktu pulang tiga hari. “Sedihnya itu jauh dari orang tua, belum lagi pusing-pusingnya dengan tugas kuliah, kalau dekat dengan orang tua bisa cerita. Kalau cerita dari sini, kasian orang tua kepikiran. Biasanya badan sampai drop kalau banyak pikiran,” katanya.

Sri Sintia ketika pulang kampung, menempuh perjalanan dengan medan yang berat. “Kondisi jalan yang rusak, di daerah persawitan, tanah kuning. Kalau sudah hujan, tanah menempel di ban motor. Dari perjalanan sebenarnya capek, mau istirahat, tapi karena kerja, ya tidak jadilah,” tuturnya.

Kepikiran mau berhenti sebagai pekerja rumah tangga, pernah terbesit di pikiran Sri Sintia. “Pernah ibu majikan marah-marah, saya kepikiran mau berhenti. Tapi kasihan melihat ibu majikan, karena dia emosi sesaat. Sampai sekarang, ketika ada masalah, pengen berhenti, tapi dipikir lagi. Masak gara-gara hal seperti itu berhenti kerja. Saya coba hadapi secara lebih dewasa,” jelasnya.

Sri Sintia menyampaikan harapannya untuk para pekerja rumah tangga, agar mendapat perhatian khusus dari pemerintah. “Harapan saya pribadi bisa lulus kuliah, bisa dapat kerja, ingin balas kebaikan orang tua. Untuk para pekerja rumah tangga, diharapkan pemerintah bisa memberikan peraturan-peraturan yang layak seperti pekerja lainnya, ada UMR nya, jadi kan jelas, dan udah diatur. Semua  orang-orang kaya itu didata, ada berapa orang yang membutuhkan tenaga kerja, sehingga mereka itu tidak semena-mena kepada pekerja rumah tangga,” pintanya.

“Terus para pekerja rumah tangga disejahterakan, misal yang sudah bekerja setahun lebih itu dilihat latar belakangnya. Seperti ada yang dari kampung, kalau bisa diberi fasilitas yang memadai, seperti menyekolahkan saudara atau keluarga yang tidak mampu. Terus dari kesehatannya juga, tolong diperhatikan. Dari fasilitas, tempat tidur tolong diperhatikan juga.  Jadi, jangan cuman butuh tenaganya aja, tapi diperhatikan juga ketika sakit, dan dengarkan apa keluh kesahnya. Seperti ketika mengasuh anak, ketika anaknya yang salah, jangan menyalahkan para pekerja rumah tangga,” harap Sri Sintia. (*)

 

 

Berita Terkait