Pernah "Ditindih Hantu"? Ini Penjelasannya

Pernah "Ditindih Hantu"? Ini Penjelasannya

  Jumat, 22 April 2016 21:51
Ilustrasi

Mayoritas masyarakat pernah mengalami ditindih hantu atau dalam bahasa Jawa dibilang tindihan. Padahal secara ilmiah itu disebut sleep paralysis.

Beberapa hari lalu Wara Hendarti, 72, merasa tidak bisa bergerak saat tidur. Dia merasa ada sesuatu yang menindihnya. Mau minta tolong pun mulut tidak bisa berkata-kata. ''Setelah disentuh suami, saya baru bisa bergerak,'' cerita Wara. Beberapa saat setelah itu, kejadian tersebut berulang.

Hal tersebut tidak kali pertama dialami perempuan yang lahir pada 24 Januari 1944 tersebut. Kejadian tidak bisa bergerak waktu tidur sudah dialaminya secara berulang sejak muda. Setiap Wara tidur, harus ada yang menemani. ''Kalau tidak bangun-bangun itu sempat takut, jangan-jangan mau mati,'' tuturnya.

Di keluarganya, Wara bukan yang pertama mengalami tindihan. Ayah dan adiknya pun sering mengalami tindihan. 

Hal yang sama sering dialami Andi Rahman, 23. Dia malah sampai hafal kapan mau tindihan. ''Kalau telinga berdenging, itu pasti mau tindihan,'' kata Andi. 

Ngerinya, setiap tindihan, Andi selalu merasa ada makhluk mengerikan yang menekan tubuhnya. Lantaran seringnya mengalami hal itu, setiap tidur Andi mengapit sapu yang dihadapkan ke atas. ''Biar makhluk halusnya tidak bisa menindih saya,'' imbuhnya. Andi mengungkapkan, ketika mengalami kecemasan atau sedang banyak pikiran, dirinya pasti mengalami tindihan.

Menurut dokter spesialis saraf dr Wardah Rahmatul Islamiyah SpS, sleep paralysis bisa dialami siapa pun. Sleep paralysis merupakan kondisi di antara bangun dan tidur. Penderita sudah bangun, namun otak tidak bisa memerintah otot untuk bergerak karena masih dalam fase tidur. ''Ibaratnya itu motor belum panas,'' jelasnya.

Sleep paralysis biasanya terjadi pada fase tidur rapid eye-movement (REM). Fase tersebut merupakan saat tidur paling nyenyak. Seluruh otot dalam keadaan rileks. Saat REM itulah terjadi mimpi. ''Tandanya, mata akan bergerak-gerak,'' kata Wardah.

Sebenarnya, tidur mempunyai empat fase. Yakni, stadium pertama adalah ketika orang dalam kondisi setengah sadar, namun masih bisa mendengarkan lingkungannya. Jika dibiarkan, mereka akan masuk fase kedua, tidak mendengar namun masih mudah dibangunkan. Nah, stadium ketiga adalah fase ketika seseorang tidur dan susah dibangunkan. Fase puncak adalah REM.

Biasanya sleep paralysis terjadi pada mereka yang mengalami narkolepsi. Yakni, mereka yang mudah tidur atau mampu tidur dalam waktu lama. Penderita narkolepsi bisa tidur saat diajak berbicara. ''Mereka mengalami kerusakan fase tidur. Fasenya tidak urut,'' tutur dokter yang juga praktik di RS Unair tersebut. 

Narkolepsi disebabkan kelainan genetis. Jika orang tua mengalami narkolepsi, anaknya juga berisiko mengalami kelainan tersebut. Sleep paralysis akan terjadi berulang-ulang pada penderita narkolepsi. ''Walaupun narkolepsi merupakan kelainan yang diturunkan, sleep paralysis bisa terjadi pada usia dewasa,'' ungkapnya.

Mereka yang tidak punya kelainan narkolepsi pun mengalami sleep paralysis. Biasanya hal tersebut terjadi pada orang yang cemas, kebanyakan kafein, atau jam tidurnya kacau. ''Bisa juga terjadi pada mereka yang dibangunkan dengan kasar,'' jelas Wardah. Sama dengan penderita narkolepsi, sleep paralysis pada mereka yang normal terjadi saat fase tidur REM.

Biasanya mereka yang mengalami sleep paralysis akan mengalami halusinasi. Misalnya, adanya makhluk menyeramkan. Menurut Wardah, halusinasi itu merupakan bagian dari mimpi. ''Kalau sedang tindihan, harus dibangunkan dengan pelan,'' tuturnya. 

Walaupun termasuk gangguan tidur, penderita sleep paralysis jarang pergi ke dokter. Psikiater National Hospital dr Aimee Nugroho SpKJ menambahkan, orang dengan gangguan tidur tindihansebaiknya segera mendapat penanganan. Sebab, sleep paralysis sering dipicu kecemasan.(lyn/nir/c5/dos)