Pernah Didiskualifikasi Akibat Listrik di Pontianak Padam

Pernah Didiskualifikasi Akibat Listrik di Pontianak Padam

  Kamis, 23 June 2016 09:30
E-sport: Dua atlet e-sport, Erick (kiri) dan rekan setimnya, Susi, di rumah Erick, Jalan Sungai Raya Dalam, Kubu Raya, Rabu (22/6). REXA KHARSANDY/Pontianakpost

Berita Terkait

Pada awal bermain Dota, orang tua Erick melarang. Namun, larangan itu malah memotivasinya untuk terus menekuni dunia itu. Dan kini, dia berhasil menafkahi diri dan keluarganya dari game online tersebut.

REXA KHARSANDY, Pontianak

Berbaju ungu, celana pendek, dan tato di kakinya, Erick turun dari motor dan menghampiri. Bertemu di sebuah restoran cepat saji di Jalan Sungai Raya Dalam, Kubu Raya, lelaki 26 tahun itu bercerita banyak pengalamannya sebagai atlet olahraga elektronik atau biasa dikenal dengan e-sport.  

Cabang e-sport yang Erick geluti adalah Dota 2. Permainan berbasis Real Time Strategy dan Multiplayer Online Battle Arena ini merupakan permainan yang menguji kemampuan pemainnya dalam mengatur strategi. Kemenangan tercapai jika berhasil menghancurkan bangunan Ancient milik musuh.

Dari permainan tersebut, dia berhasil menjuarai berbagai macam pertandingan lokal maupun nasional. Selain itu, dia pun sekarang mendapat penghasilan tetap sebagai atlet Dota 2. “Saya punya sertifikat sebagai atlet e-sport,” ujar Erick saat ditemui bersama dengan rekan setimnya, Susi.

Ayah dari dua anak ini sudah lama terjun di bidang e-sport. Sejak 2007 dia mulai menggeluti permainan e-sport, yakni Dota. Saat itu, bermain Dota belum menghasilkan apa-apa. Sementara sehari-hari waktunya dihabiskan untuk bermain game. Akibatnya, orang tua Erick melarangnya untuk bermain. “Semakin dilarang, saya malah terus bermain,” kata Erick.

Selain menjadi hobi, Dota menjadi tempatnya berprestasi sekaligus sumber penghasilannya. Pada 2008, dia menunjukkan diri melalui permainan tersebut. Dalam turnamen World Cyber Game (WCG) tahun 2008, dia ikut berpartisipasi. Namun, dia masih belum berhasil menang. Tak pantang menyerah, dia terus mengasah kemampuannya. Dan, pada 2009, dia berhasil menempati peringkat pertama di kejuaraan Dota 1 Dragon Net Jelambar Jakarta dengan tim Nirvana.

Tak berhenti, dia pun terus mengasah kemampuannya. Di tahun yang sama, dia kembali menjuarai berbagai pertandingan Dota. Di Turnamen LAN Dota Phoenix Net, dia berhasil merenggut peringkat 3 dari peserta lain. Adapun, dia juga menduduki peringkat 1 di Tournament LAN Dota Kelapa Gading Jakarta dan Tournament LAN Dota Athena Jakarta. Semuanya dia menangkan bersama tim Nirvana.

Masih belum mau berhenti, pada 2010, Erick bersama tim FTD kembali mencuri peringkat 1 dari peserta yang lain dalam West Borneo Dota Tournament.

Pada 9 Juli 2013, Steam meluncurkan Dota 2 dengan perubahan grafis dan kemampuan heroes yang ada. Kemunculan Dota 2 disambut baik Erick. Erick menganggapnya sebagai kesempatan yang baik untuk terus berprestasi. Hal itu pun dibuktikannya pada 2014, Erick diundang Indonesian e-Sport Association (IESPA) mewakili Kalimantan Barat dalam turnamen nasional Dota 2, IESPA Indonesia dengan tim Heroes Net eSport.

Selain itu, masih banyak lagi turnamen yang dia menangkan. Yang terbaru, dia bersama tim Pelangi Jaya, masuk semifinal dalam turnamen X-Class Season 1. Berdasarkan Erick dan Susi, target mereka terdekat adalah X-Class Season 2.

Selain pertandingan lokal dan nasional, Erick berencana membawa timnya untuk bergabung dengan pertandingan internasional. Dalam pertandingan internasional, mereka bisa sekaligus membawa nama Kalbar sekaligus Indonesia di kancah pertandingan dunia. Mereka pun menargetkan untuk bisa bertanding di International Tournament ke-7.

Dibandingkan permainan e-sport yang lain, Dota 2 memiliki keunikannya tersendiri. Menurut Erick, pemain bermain dengan perannya masing-masing. Dota 2 pun seru dan penuh perhitungan. “Kapten tim Dota 2 kalau sudah beres main pasti kepalanya pusing. Ha-ha-ha,”  kata Erick sambil bercanda.

Menurut Erick, dukungan masyarakat dan pemerintah tetap dibutuhkan. Dari pemerintah, dia berharap listrik di Indonesia, khususnya Pontianak, tak lagi padam. Padamnya listrik apalagi secara tiba-tiba bisa mengganggu mereka saat bermain. “Pernah saat lagi tanding, listrik padam. Didiskualifikasi, deh,” tambah Erick diikuti tawa Susi atau biasa dipanggil Cuci.

Erick menambahkan, perizinan visa keluar negeri untuk bertanding pun harusnya diperbaiki. Atlet-atlet e-sport maupun atlet olahraga lain haruslah diberikan izin pergi dengan mudah, bukan malah dipersulit. Sehingga, pemain jadi lebih mudah berlatih dan bertanding tanpa kesulitan teknis.

Adapun, dukungan dari masyarakat pun mereka butuhkan. Dengan dukungan moral dari masyarakat, mereka dapat bertanding lebih bersemangat. Peluang timnya keluar sebagai juara pun tentu semakin besar. “Kalau di Guangzhou, Cina, pertandingan mereka ditontonkan di kafe-kafe dan televisi, yang main pun jadi semangat,” ceritanya. (*)

Berita Terkait