Perjuangkan Hak Napi

Perjuangkan Hak Napi

  Senin, 22 February 2016 09:38
Anton Medan

Berita Terkait

Tan Kok Liong alias Anton Medan. Nama ini dulunya begitu lekat dengan dunia kriminal. Sejak bertaubat dan memeluk Agama Islam pada tahun 1992 silam, Anton Medan lebih dikenal sebagai da'i. Pria kelahiran Tebing Tinggi, Sumatra Utara ini juga dikenal sebagai sosok yang kerap memperjuangkan hak para narapidana. Sepanjang hidupnya, Anton mengaku sudah 14 kali keluar masuk penjara. Akrab dengan kehidupan di "Hotel Prodeo" membuatnya mengetahui seluk-beluk lapas.

Anton membandingkan perbedaan penjara di masa sebelum reformasi dengan masa kini. Menurutnya, penjara di masa kini sudah jauh lebih baik. "Penjara sekarang sudah banyak berubah. Sekarang sudah lebih baik," ujar Anton Medan diwawancarai Pontianak Post usai memberikan ceramah di Lapas Klas IIA Pontianak, Jum'at (19/2).

Pengalaman yang paling berkesan, menurut Anton, saat ia mendekam di Lapas Klas IA Cirebon. Dimana, waktu itu, kata Anton, fasilitas dan pemenuhan hak narapidana sangat minim, sehingga membuat narapidana kehilangan haknya. Ia bahkan mengalogikan kulit pisang sekalipun laku untuk dimakan.Sebagai mantan narapidana, ia merasa ingin memperbaiki sistem yang diadopsi oleh lembaga pemasyarakatan sekarang. Salah satunya, ia memperjuangkan dihapusnya PP No 99 tahun 2012 tentang syarat dan tata cara pelaksanaan hak warga binaan pemasyarakatan. Yang mana PP No. 99 tahun 2012 telah merugikan para warga binaan untuk mendapatkan remisi atau potongan masa tahanan. "PP 99 Tahun 2012 menyatakan bahwa untuk mendapatkan remisi, warga binaan harus mau bekerja sama dengan petugas untuk mengungkapkan kejahatan atau menjadi justise kolaborator dengan mendapatkan surat dari polisi dan kejaksaan. Ini sulit," kata Anton.

Anton juga menjelaskan, sebelum terjadinya kerusuhan di LP Tanjung Gusta, dirinya telah memberikan laporan kepada Dirjen Lapas M Sueb dan Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin terkait PP No 99 Tahun 2012 waktu itu. Bahwa para napi minta PP itu dicabut.  ‎"Mereka (warga binaan) titip pesan ke saya. Tolong pak Anton bicara ke "malaikat azab" yakni Denny Indrayana. Mereka bilang, selama ini kami sudah dihukum, sekarang dihukum lagi dengan PP No 99 ini," kata Anton.

Keresahan akibat munculnya PP 99 ini, kata Anton Medan,  sudah merata di seluruh LP di Indonesia. Anton yang saat ini keliling LP untuk memberikan pembinaan rohani mengerti betul keresahan ini. "Kalau PP 99 Tahun 2012 ini tidak dicabut, maka akan selalu ada keributan. Ini bom waktu," kata Anton. (arf)

Berita Terkait