Perjuangan Para Pelajar di Pedalaman Meraih Pendidikan

Perjuangan Para Pelajar di Pedalaman Meraih Pendidikan

  Kamis, 19 November 2015 10:54
NAIK PERAHU: Sejumlah pelajar SMP Negeri 5 Tretung setiap hari menggunakan perahu ke sekolah. Di sana belum ada jalan yang menghubungkan kampung dengan sekolah mereka.SUTAMI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Meski harus berjuang mengarungi sungai untuk bisa sekolah, semangat murid asal Desa Mungguk Bantok, Sintang tidak surut. Usaha mereka tersebut tak sia-sia. Di tengah keterbatasan, mereka berhasil mengukir segudang prestasi.SUTAMI, Sintang

Tak tanggung-tanggung, salah satu pelajar di SMP Negeri 5 Satu Atap, Desa Tretung, Sintang bahkan mampu meraih prestasi tingkat nasional dengan menjadi juara tiga lomba bercerita di Bogor. Dia adalah Rizka Wahyu Nyngtyas.Kondisi infrastruktur ke sekolah tidak memadai tapi dijawab dengan prestasi membanggakan. Nama sekolah terwakili dengan menjadi duta Kalimantan Barat di kancah nasional pada 2014 silam.

Ketika mengikuti lomba bercerita, Rizka masih duduk dibangku kelas VII. Kini sudah duduk dibangku kelas VIII. Dua buah cerita yang dibawakan Rizka saat berlomba di Bogor, yakni cerita Bukit Kelam dan Patih Rahmudin. “Saya baca bukunya kemudian dikembangkan,” kata Riska.Ia menambahkan, bimbingan guru juga banyak membantu sehingga cerita yang dibawakan dapat disajikan dengan baik, dan memperoleh penilaian terbaik dari juri. Guru pembimbingnya adalah Radiman, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMPN 5 Tretung.

Rizka mengatakan, pengalaman menjadi peserta lomba bercerita sangat mengesankan. Terlebih atas keberhasilan masuk tingkat nasional dan mendapatkan gelar. Ia mengaku senang dengan pencapaian itu dan ingin terus berprestasi.Kepala SMP Negeri 5 Tretung, Wisnoe Wardhana mengatakan prestasi belajar muridnya yang berangkat ke sekolah menggunakan speed secara umum sangat baik. Nilai belajar mereka tidak mengecewakan. Bahkan pernah mengantarkan nama sekolah ke jenjang prestasi tingkat nasional.

Menurut Wisnoe pihak sekolah sangat bangga atas pencapaian prestasi muridnya. Ia bersama para guru SMPN 5 memang berupaya semaksimal mungkin mendorong para anak didiknya agar mampu menorehkan prestasi. Para guru meyakinkan kepada murid kalau berada di sekolah terpencil bukan halangan untuk berkompetisi dengan murid yang sekolah di kota.Selain mendorong prestasi belajar, SMPN 5 juga mengembangkan ekstrakurikuler bagi para murid yaitu pramuka,  yang wajib diikuti semua murid.

Wisnoe mengatakan, SMPN 5 Tretung mestinya sudah siap memberikan pembelajaran berbasis Informasi dan Teknologi (IT). Hanya saja, hal itu terkendala oleh jaringan internet yang belum masuk.SMPN 5 Tretung sendiri berdiri pada 2008 silam. Murid pertamanya sepuluh orang. Kini, setelah hampir tujuh tahun beroperasi, muridnya sudah mencapai 92 orang. Kelas VII sebanyak 34 murid, Kelas VIII mempunyai 35 murid dan kelas IX sebanyak 21 murid.Guru yang mengajar sebanyak delapan guru. Tujuh orang di antaranya sudah Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan dibantu seorang tenaga honorer. Ruang kelas yang dimiliki yakni tiga ruang. “Sekolah kita dibangun satu atap menyatu dengan SD,” katanya. (stm)

Berita Terkait