Perjuangan Mengajar di SDN 22 Sungai Kunyit , Dua Jam Lewati 18 Kilometer Jalan Berlumpur

Perjuangan Mengajar di SDN 22 Sungai Kunyit , Dua Jam Lewati 18 Kilometer Jalan Berlumpur

  Jumat, 4 December 2015 08:51
JALAN KE SEKOLAH : Warga bergotong royong membangun jembatan untuk menghubungkan jalan menuju ke sekolah. ISTIMEWA

Berita Terkait

SDN 22 Sungai Kunyit beralamat di Jalan Jelandang, Dusun Kembang Lada, Desa Bukit Batu Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah. Jaraknya dari Jalan raya hingga ke sekolah tersebut 18 kilometer. Karena jalan berlumpur, melewatinya butuh waktu 2 jam. Wahyu Izmir, MEMPAWAH

Tanggungjawab mendidik anak bangsa menjadi motivasi Abigusno, S.Pd,48 untuk menerima tantangan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) bertugas di  Sekolah Dasar Negeri (SDN) 22 Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah.SDN 22 Sungai Kunyit. Dengan menelusuri jalan tanah setapak dengan kondisiberlumpur, membutuhkan waktu kurang lebih dua jam berkendara untuk

sampai ke sekolah tersebut. Terjerembab dan berkubang lumpur sudah menjadi makanan sehari-hari Abisgusno dan para guru setempat. Namun, semua itu bukan penghalang bagi dirinya dan para guru lain untuk mencapai satu tujuan yakni memberikan ilmu pendidikan kepada 30 siswa yang belajar di sekolah itu. Bahkan, pada musim penghujan dan banjir seperti sekarang ini maka dirinya dan guru lain harus ekstra hati-hati ketika berkendara. Sebab, hujan dan banjir akan menyebabkan permukaan tanah semakin basahdan berlumpur. Jika tidak hati-hati melewati medan jalan maka kendaraan mereka akan tergelincir ke sungai. Karenanya, keahlian berkendara juga sangat dituntut agar bisa selamat sampai ke tempat mengajar.

“Sekolah ini dulu pertama dibuka tahun 2000. Namun, karena sesuatu alasan hingga ditutup. Baru kemudian pada September 2014 dibuka kembali. Ketika itu dinas mengadakan semacam sayembara untuk guru yang bersedia ditugaskan mengajar disana. Dan saya merasa terpanggil untuk menerima tantangan tersebut,” kenang Abigusno kepada Pontianak Post, Kamis (3/12) pagi.
Salah satu alasan dirinya menerima tantangan untuk mengajar di SDN 22 Sungai Kunyit yakni bercermin dari pangalaman hidupnya sendiri.

Abigusno mengaku sewaktu kecil dirinya hidup ditempat yang jauh dan sulit mendapatkan akses pendidikan. Butuh perjuangan yang ekstra keras hingga dirinya mampu mengenyam bangku sekolah dan menjadi pendidik seperti sekarang.“Makanya saya bertekad untuk mengabdikan diri kepada anak-anak di pedalaman Sungai Kunyit ini. Karena, saya sendiri sudah merasakan sulitnya bersekolah dengan segala keterbatasan fasilitas dan sarana,” tutur guru semua matapelajaran itu.

Awal mengajar, cerita pria yang pernah mengajar SD 17 Sungai Kunyit itu, dirinya hanya seorang diri menangani puluhan siswa yang terbagi dalam tiga kelas. Saat itu, hanya ada satu ruang atau lokal yang difungsikan untuk tiga kelas dan ruang kantor. Dirinya pun harus pintar-pintar membagi ruangan tersebut agar multifungsi.“Satu lokal itu saya sekat menjadi dua ruangan untuk kelas satu dan dua. Sedangkan untuk kelas tiga terpaksa belajar di teras. Namun, untuk tahun 2015 ini sudah ada penambahan empat ruangan baru. Yakni tiga untuk lokal belajar dan satu kantor guru,” paparnya. Menurut bapak empat anak ini, banyak tantangan yang harus dilewatinya

dalam mengabdikan diri mendidik di SDN 22 Sungai Kunyit. Terutama minimnya fasilitas pendidikan. Jangankan komputer atau jaringaninternet, buku panduan mengajar saja tidak ada. “Belum ada sama sekali bantuan buku. Selama ini, saya pinjam bukupelajaran anak dirumah untuk menjadi bahan ajar bagi siswa disekolah. Saya kerahkan segala dan daya upaya untuk memenuhi kewajiban mendidik,” lirihnya.

Kendala lain, timpal guru yang beralamat di Desa Sungai Pangkalan itu, tentunya infrastruktur jalan menuju ke sekolah. Jarak tempuh yang jauh dan medan jalan yang sulit untuk dilalui menjadi tantangan yang sangat berat bagi  dirinya dan lima guru lain yang mengajar di sekolah tersebut.  Bahkan, lanjut dia, belum lama ini dirinya dibantu warga setempat membangun jembatan darurat untuk menghubungkan jalan menuju ke sekolah. Sebab, jalan tersebut merupakan satu-satunya akses darat yang bisa ditempuh selain menggunakan jalur sungai.

“Sebenarnya saya dan para guru lebih memilih jalur sungai. Namun, kami tidak memiliki akses transportasi sungai. Kalau saja ada anggaran sebesar Rp 10 juta, sudah cukup untuk membeli speed boad dan mesinnya. Jadi, para guru tidak perlu berjuang keras melewati jalan tanah yang berlumpur,” pendapatnya.Kedepan, dirinya berharap Pemerintah Kabupaten Mempawah dapat memberikan perhatian untuk meningkatkan fasilitas transportasi dan pendidikan di SDN 22 Sungai Kunyit. Agar, aktivitas belajar mengajar di sekolah terpencil itu dapat berjalan dengan baik dan lancer sebagaimana mestinya.“Kami  berterimakasih atas bantuan pembangunan ruangan yang baru saja direalisasikan pada tahun ini. Kiranya bantuan fasilitas pendidikan terutama buku dan alat transportasi juga sangat kami butuhkan. Semua ini untuk anak-anak di pedalaman sungai kunyit,” tukasnya. (*)

 

Berita Terkait