Perjuangan ke Pulau Semiun, Pulau Eksotis yang Hanya Berpenduduk Dua Orang

Perjuangan ke Pulau Semiun, Pulau Eksotis yang Hanya Berpenduduk Dua Orang

  Minggu, 21 Agustus 2016 09:41
PULAU TERLUAR: Pap Haidir, Ferlynda, M. Siral, dan Zahir berada di plakat penanda Pulau Semiun Plakat tersebut satu-satunya penanda pulau terluar tersebut. JAWA POS PHOTO

Berita Terkait

Perahu Menabrak Karang, 40 Menit Tercekam di Tengah Laut

Keindahan Pulau Semiun di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, seolah tak tersentuh peradaban. Tetap ’’perawan’’ dan eksotis. Namun, untuk menuju ke sana, perjalanan laut yang mendebarkan harus ditempuh. 

FERLYNDA PUTRI, NATUNA   

Pulau itu sungguh terpencil. Dari Pulau Sedanau, Natuna, masih harus ditempuh selama enam jam naik perahu motor sederhana milik nelayan. Itu pun kalau kondisi cuaca normal dan gelombang tidak tinggi. Lain halnya bila laut sedang bergejolak. Perjalanan bisa ditempuh dalam sepuluh jam.

Seperti yang saya alami pada Rabu (10/8), sehari setelah saya tiba di Pulau Sedanau. Sedanau terletak di jajaran Pulau Natuna. Untuk menuju ke sana, perjalanan bisa ditempuh dengan mobil atau motor, kemudian dilanjutkan menyeberang menggunakan kapal feri. Total waktunya sekitar 45 menit. 

Perjalanan menuju Pulau Semiun terpaksa ’’tertunda’’ karena gelombang Laut China Selatan sedang kurang bersahabat. Nelayan pemilik perahu pompong yang saya sewa tidak berani melaut karena gelombang pasang mencapai 2–4 meter. Pompong adalah perahu khas nelayan Natuna. Perahu itu berukuran 3 x 5 meter yang didesain untuk menempuh perjalanan jauh dan lama. Ada bagian untuk istirahat, memasak, dan menempatkan ikan tangkapan.  

Baru setelah gelombang surut, pemilik perahu Andryja Sakita beserta anak buahnya, Zahir, memberikan kabar bahwa perjalanan harus dilakukan menjelang subuh. Mereka tidak bisa menunggu keesokan harinya, khawatir gelombang pasang lagi. Maka, perahu pun berangkat Rabu pukul 02.24 WIB. Kami bertiga; saya, Sakita, dan Zahir; menjelang subuh itu memulai petualangan di tengah laut. Saya diapit dua nelayan laki-laki.

Meski baru pertama bertemu, kami bisa langsung akrab. Sakita dan Zahir tidak segan-segan bercerita tentang kondisi di tengah laut maupun pulau yang saya tuju: Semiun. Mereka sudah biasa ke pulau itu untuk istirahat di tengah perjalanan mencari ikan.

Menurut alat navigasi yang ada di pompong, perjalanan ke Pulau Semiun akan menempuh jarak 48 mil (88,8 km) ke utara. Kecepatan pompong 5–6 knot. Maka, diperkirakan perjalanan ditempuh dalam 6–7 jam.

Saat kami berangkat, hari masih gelap gulita. Hanya ada penerangan lampu kecil di perahu dan bintang-bintang di langit. Saya yang belum pernah melakukan perjalanan ”se-ekstrem” itu sempat waswas. Sebab, yang kami hadapi laut lepas yang tidak diketahui ujungnya. Apalagi, begitu lepas dari Pelabuhan Sedanau, kami tidak lagi melihat perahu-perahu nelayan yang mencari ikan atau sedang sandar. Yang saya lihat hanya kegelapan di tengah laut. Tak henti-hentinya saya berdoa semoga diberi keselamatan dan kelancaran sampai tujuan.

Sesekali ombak besar menghantam pompong. Saat itulah, perut saya dikocok-kocok tidak keruan. Sampai akhirnya, saya tidak tahan lagi untuk memuntahkan seluruh isinya. Saya pun teler begitu isi perut terkuras habis. Dalam kondisi seperti itu, saya memutuskan untuk memaksa tidur. Maksud saya adalah menjaga kondisi tubuh agar sesampai di Semiun bisa lebih segar.

Tapi, belum lama saya merebahkan tubuh, tiba-tiba terdengar suara, ’’brak’’. Perahu terguncang lumayan keras. Saya terbangun. ’’Perahu sepertinya menabrak karang, Om,’’ kata Zahir kepada Sakita, bosnya. 

Pria 52 tahun itu pun berusaha terus menggerakkan kemudi. Namun, kembali terdengar suara benturan di bawah. Rupanya, badan perahu menabrak karang lagi. Peristiwa itu terjadi pukul 03.34 atau sekitar sejam selepas pelabuhan. Perahu berhenti. Saya mulai khawatir karena beberapa kali upaya untuk menggerakkan pompong tidak berhasil.

’’Kita duduk di depan saja,’’ perintah Sakita. ’’Biar kalau karam, bagian depan yang terakhir,’’ imbuhnya. 

Tentu saja pernyataannya itu membuat saya tambah panik. Mata saya melihat sekeliling. Yang terlihat hanya kegelapan yang mencekam. Sambil menunggu ikhtiar yang dilakukan Sakita dan Zahir, saya terus berdoa mohon keselamatan. Meski saya bisa berenang, tetap saja saya tidak sanggup bila harus mengarungi lautan sejauh itu.

Sekitar 40 menit pompong tak kunjung bergerak. Kami mulai gelisah. Terutama saya. Angin laut yang menerpa tubuh saya menambah suasana makin mencekam.

Dalam suasana seperti itu, tiba-tiba Aan –panggilan Sakita– memutuskan untuk menceburkan diri ke laut. Dia hanya bermodal kacamata renang. Di punggungnya tidak ada tabung oksigen untuk menopang pernapasannya selama menyelam. Saya tak bisa membayangkan betapa dinginnya di dalam laut.

’’Kami sudah terbiasa seperti ini,’’ ujar Zahir. Pernyataan itu sedikit melegakan hati. 

Di dalam laut, Aan awalnya memeriksa kondisi badan pompong yang membentur karang. Setelah itu, dia berenang menjauh. Rupanya dia mencari palung terdekat. Palung adalah daerah di laut yang dalam.

Setelah menemukan palung dimaksud, Aan kembali ke perahu dan menyuruh Zahir ikut terjun ke laut. ’’Kita dorong perahunya saja ke palung,’’ ucapnya. 

Tak berapa lama, perahu pelan-pelan bergerak, menjauh dari gugusan karang yang menghalangi. Hati saya mulai lega. Ketika fajar menyingsing dari ufuk timur, pompong pun bisa meneruskan perjalanan. 

 

Ketika langit sudah terang, saya mulai bisa melihat pemandangan sekitar. Ternyata, kanan-kiri rute yang kami lalui adalah pulau-pulau kecil. Ada ciri khas di pulau-pulau tak berpenghuni itu. Yakni, bibir pantai yang putih dan pohon-pohon kelapa yang melambai. Konon, pulau-pulau tersebut dikuasai orang-orang Natuna untuk kebun kelapa. Ketika laut sepi ikan, mereka bisa mengandalkan kelapa untuk menyambung hidup.

Semakin siang, angin semakin kencang. Laut yang semula tenang mulai bergejolak. Pompong mulai bergoyang ke kanan dan kiri. Kali ini Aan yang mengambil alih kemudi. Berbeda dengan cara mengemudi Zahir, Aan melakukannya sambil berdiri. Tangan kirinya menggenggam kayu panjang untuk kemudi, sedangkan kakinya membentuk posisi kuda-kuda. Matanya awas ke depan.

”Wah, yang kita hindari datang. Angin barat,” seru dia. 

Di Laut Natuna, dikenal empat musim. Yakni, musim angin utara, angin barat, angin selatan, dan angin timur. Musim angin barat biasanya membuat para nelayan menganggur. Mereka tidak berani melaut. Sebab, musim tersebut sering menyebabkan badai datang tiba-tiba.

Mata Aan terus memandang laut dengan penuh kewaspadaan. Sebab, selain angin kencang, ombak mulai membesar. Tak heran bila goyangan pompong makin terasa. Sesekali pompong berada di atas ombak yang cukup tinggi, sebentar kemudian di bawah ombak. Semakin lama, tidak hanya bergoyang ke kanan dan kiri, laju pompong mulai meliuk. Saya pun harus ikut membantu untuk menyeimbangkannya. Kalau pompong terlalu lama meliuk ke kiri, saya harus duduk di bagian kanan. Itu pun tidak mudah. Sebab, berkali-kali tubuh saya melorot dan kepala saya terbentur atap pompong.

Pyuuukkk! Ombak tinggi mencium jendela bagian tengah pompong. Airnya masuk dari sela-sela kayu. Isi perut saya kembali bergejolak. Saya muntah lagi. 

Dalam suasana kalut, tiba-tiba terdengar suara Aan, memberi kabar baik. ”Mbak, pulaunya sudah dekat,” kata Aan sambil menepuk kaki saya untuk membangunkan.

Saya gembira bukan kepalang. Sebab, penderitaan selama sepuluh jam perjalanan di tengah laut hampir berakhir. Benar saja, pada pukul 14.56 pompong tiba di pantai Pulau Semiun. (*/c11/ari)

 

Berita Terkait