Perjuangan Demi Melihat Sumber Air Panas Sipatn Lotup , Wisata Air Panas yang Menakjubkan

Perjuangan Demi Melihat Sumber Air Panas Sipatn Lotup , Wisata Air Panas yang Menakjubkan

  Senin, 22 February 2016 09:47
AIR PANAS: Sipatn Lotup, wisata sumber air panas di Dusun Peruntan, Desa Sape, Kecamatan Jangkang yang menawarkan sisi eksotisme yang menakjubkan. SUGENG/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Butuh kesabaran untuk sampai ke tempat wisata air panas Sipatn Lotup di Dusun Peruntan, Desa Sape Kecamatan Jangkang. Akses jalan yang belum sepenuhnya baik menjadi salah satu kendala. Namun semua kesulitan terbayar setelah bisa melihat langsung wisata air yang unik itu. SUGENG GONDRONG, Jangkang

 
Nama “Sipatn Lotup” berasal dari bahasa Dayak Jangkang. “Sipatn” berarti sungai atau aliran sungai dan “Lotup” berarti panas. Sehingga masyarakat di sana menyebutnya “Ai Sipatn Lotup” atau sungai air panas. Cerita penemuannya dimulai sejak 62 tahun silam oleh dua orang warga yang sedang berburu.Tepatnya di  Dusun Peruntan, di sanalah saya dapat melihat langsung "Ai Sipatn Lotup" yang melegenda itu karena menjadi salah satu sumber air panas yang ada di Pulau Kalimantan. Ceritanya sendiri belum banyak diketahui oleh masyarakat luar. Hanya dari cerita mulut ke mulut saja.

Kondisi jalan menuju ke Ai Sipatn Lotup memang belum sepenuhnya baik, karena sekitar 70 persen masih belum beraspal dan merupakan jalan perkebunan kelapa sawit. Namun, kondisi jalan itu tidak menyurutkan niat saya terus menggeber sepeda motor dan melaju di antara hutan, tanaman sawit dan juga sawah warga sekitar.

Ada beberapa akses jalan menuju ke sana. Bisa ditempuh dari pusat Kota Sanggau – Kembayan – Jangkang dengan jarak tempuh kira-kira 170 Km. Sedangkan melalui jalur Sanggau – Mukok – Jangkang dapat ditempuh dengan jarak kurang lebih 70 Km.

Namun, saya lebih memilih rute Sanggau – Mukok – Jangkang karena jaraknya lebih dekat dan lebih aman dilalui saat kondisi cuaca hujan. Setibanya saya di Desa Sape Kecamatan Jangkang, waktu menunjukkan pukul 12.35. Siang itu adalah hari Sabtu. Saya kemudian beristirahat sejenak di sebuah warung untuk menikmati kopi warga setempat dan juga menghisap rokok.

Saya kemudian mengabari Kepala Desa Sape, Domianus Dogol melalui layanan pesan singkat. Tak berapa lama, dengan menggunakan motor sport ber-cc besar, Pak Dogol-begitu dia disapa, datang ke warung tempat saya beristirahat. Kami kemudian ngobrol-ngobrol sejenak sambil menikmati kopi. Dari tempat saya beristirahat, masih butuh waktu perjalanan sekitar 15 menit untuk sampai di Ai Sipatn Lotup di Dusun Peruntan.

Sekitar 20 menit beristirahat, kami kemudian melanjutkan perjalanan. Cuaca hari itu sangat cerah. Dan tak lama kami sudah sampai dipersimpangan menuju Ai Sipatn lotup. Di situ terdapat plang yang terbuat dari kayu. Saya kemudian mengikuti Pak Dogol dari belakang. Ada sekitar seratusan meter dari simpang jalan menuju lokasi sumber air panas tersebut.

Saat sampai di lokasi sumber air panas, “wow” saya kagum melihatnya. Bersih, indah dan sejuk. Deretan pohon-pohon tua dan berukuran besar jadi daya tarik tersendiri bagi saya. Suasana tenang di lokasi itu membuat saya semakin tergoda untuk masuk ke dalam. Saya kemudian memarkirkan kendaraan dan mempersiapkan kamera untuk sesi pengambilan gambar.

Untuk masuk ke lokasi itu, saya harus melewati jembatan kecil yang ada di situ. Di bawah jembatan itu adalah aliran sungai yang airnya dingin. Aliran sungai itu terus mengalir sampai ke sungai besar  di seberang sana. Di bagian tengah lokasi itu saya melihat seperti kolam dengan ukuran besar dan lebar. Itulah yang diceritakan oleh masyarakat di sana, Ai Sipatn Lotup.

Ternyata, ada dua sumber air panas di lokasi tersebut. Tidak jauh dari Ai Sipatn Lotup, sekitar seratus meter, ada satu lagi sumber air panas, namanya Ai Sipatn Buruk. Sayangnya, lokasi ini tidak dirawat. Menurut cerita rakyat setempat, Ai Sipatn Buruk ini dulunya juga panas. Tetapi sekarang tidak lagi karena tidak dirawat.

Masyarakat enggan ke sana karena sumber air itu mengeluarkan bau tak sedap. Sekarang air panas itu dipercaya telah pindah tempat yakni berada di tengah-tengah sungai. Dalam perjalanan kali ini, saya akan coba menelusuri asal muasal sumber air panas Sipatn Lotup terlebih dahulu yang sekarang berubah menjadi tempat wisata masyarakat.

Air panas Sipatn Lotup selain sebagai objek wisata masyarakat setempat. Juga dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Hal ini diamini oleh Dogol. Masyarakat yang datang ke lokasi itu tidak jarang menggunakan airnya untuk mengobati penyakit kulit.

“Mereka yang datang ke sini bukan hanya rekreasi saja. Tetapi ada juga mereka yang sakit kulit atau lainnya datang kesini. Kalau penyakit kulit, cukup disiramkan airnya. Kalau mau dicelupkan kaki atau tangan atau badan kita mana tahan. Panas tu airnya,” ungkapnya.

Sipatn Lotup ini, kemungkinan besarnya mengandung belerang dan sulfur. Sehingga mampu mengobati penyakit, terutama penyakit kulit. Beberapa warga setempat juga kadang-kadang melakukan hal yang sama ditempat itu. Penyembuhan dengan cara alami ini sangat membawa berkah bagi masyarakat setempat untuk mengurangi ongkos berobat.

Sejauh ini, memang belum ada penelitian resmi dari ilmuwan mengenai kandungan yang terdapat dalam air ini. Masyarakat disini hanya mengira-ngira saja. “Katanya ada belerang dan sulfurnya. Tetapi sejauh ini belum ada penelitian di sini untuk memeriksanya. Warga di sini pun heran, padahal di daerah ini tidak ada pegunungan tapi kok bisa ada air panasnya,” katanya.

Dogol mengabarkan kepada saya bahwa dulunya daerah ini merupakan hutan belantara. Itu dibuktikan dengan masih adanya pohon-pohon besar di sekitar air panas ini dan sampai sekarang masih ada. Dia sendiri membuat larangan kepada warganya untuk menebang pohon-pohon besar ini. Hal ini dimaksudkan agar suasana aslinya tidak hilang begitu saja.

“Mana boleh warga di sini nebang pohon-pohon ini. Ini supaya Nampak alami sebagaimana dia dulu ditemukan oleh warga setempat. Kami harus jaga dan merawat tempat ini agar tetap asri dan indah,” tegas dia.

Untuk pembangunan tempat ini, pemerintah sudah pernah memberikan bantuan untuk membangun tempat ini menjadi lebih enak dipandang. Termasuk membuat beton-beton untuk kolam air panas ini. Kemudian membangun pendopo untuk tempat beristirahat serta keperluan lain seperti wc dan sebagainya.

Pengelolaan tempat ini belum dilakukan secara professional. Namun, pihak desa sudah menunjuk beberapa orang untuk mengelola tempat ini baik itu dari sisi kebersihannya maupun keindahannya dan perawatan fasilitas yang ada ditempat tersebut. “Sementara kami kelola sesuai kemampuan yang ada,” katanya.Pada 2016, pemerintah daerah juga akan mencairkan bantuan untuk pembangunan jalan masuk ke lokasi. Kabarnya dana yang disiapkan sebesar tuga ratus juta. “Sebelumnya ada juga bantuan pemerintah untnk membeton pinggiran kolam agar lebih bagus. Kemudian pendopo untuk istirahat para pengunjung. Tahun ini jalannya akan dibaguskan dengan dana bantuan pemerintah,” ungkap dia. (*)

 

Berita Terkait