Peringatan Hari AIDS Sedunia; Psikologis Berperan Penting untuk Penderita HIV/AIDS

Peringatan Hari AIDS Sedunia; Psikologis Berperan Penting untuk Penderita HIV/AIDS

  Jumat, 1 December 2017 09:46
DUKUNG: Perayaan Hari AIDS dirayakan setiap tangga1 Desember. (ARYA DHITYA/JAWA POS)

Berita Terkait

Hari AIDS Sedunia diperingati hari ini (1/12). Edukasi mengenai penyakit yang dipicu human immunodeficiency virus (HIV) tersebut terus-menerus diberikan.

Pasien yang terjangkit HIV atau ODHA (orang dengan HIV/AIDS) pun dipermudah dalam mendapatkan obat antiretroviral (ARV). ’’Meski demikian, upaya itu belum bisa sepenuhnya mengatasi masalah utama yang dihadapi ODHA. Masyarakat masih punya stigma negatif terhadap mereka,’’ kata Dr dr Erwin Astha Triyono SpPD KPTI.

Menurut koordinator Unit Perawatan Intermediate Penyakit Infeksi (UPIPI) RSUD dr Soetomo, Surabaya, itu, HIV sama dengan penyakit lainnya. Sama-sama bisa diobati. Pasien pun masih bisa beraktivitas. Dalam sepuluh tahun terakhir, banyak kemajuan yang dicapai dari penemuan maupun penanganan kasus HIV/AIDS. Berikut paparan mengenai perkembangan penanganan terbaru dari Erwin. 

Bagaimana penanganan HIV/AIDS yang tepat?
HIV adalah penyakit biasa. Penanganannya jadi rumit karena ada aspek sosial yang melekat, seperti stigma dan diskriminasi. Padahal, kunci penanganannya simpel. Ada tiga, yakni temukan, obati, dan perhatikan. Berdasar data di Thailand, orang dengan HIV yang mendapat pengobatan dengan baik dan teratur punya harapan hidup yang tinggi. Bisa hidup hingga 50 tahun lagi.

Apakah tingginya angka harapan hidup itu berhubungan dengan ditemukannya life-prolonged ARV?
Tidak ada perubahan pengobatan selama 10 tahun terakhir. Yang ada, tetap pemberian obat ARV. Hanya, jenisnya yang makin beragam dan formulanya yang diperbaiki. ARV telah terbukti bekerja sangat efektif. Pengobatan membantu penderitanya bertahan hidup dan punya kualitas hidup lebih baik.

Bagaimana dengan angka harapan hidup ODHA di Indonesia?
Sama baiknya. Sejak UPIPI memfasilitasi perawatan ARV pada 2004, banyak pasien yang bertahan. Mereka tetap aktif sebagaimana penderita lainnya.

Seperti apa kerja HIV dalam tubuh?
Perjalanan HIV hanya satu, menghabisi tentara kita, yaitu sistem imun tubuh. Setelah pertahanan tubuh turun, masuklah infeksi tumpangan. Tuberkulosis, toksoplasma, dan infeksi menular lainnya. Nah, HIV dan infeksi tumpangan itulah yang disebut AIDS. Tanpa infeksi ikutan, status penderita biasa dinyatakan positif HIV saja.

Apa ada perbedaan antara pengobatan HIV saja dan AIDS?
Untuk kasus HIV disertai TB, misalnya. Setelah kita obati tuberkulosisnya, status penderita akan kembali ke positif HIV. Lalu, HIV diobati dengan ARV. Mereka bisa dibilang sama dengan orang normal dari segi imunitas. Sesederhana itu.

Bagaimana kondisi survivor dengan pengobatan ARV?
Tidak ada masalah. Sehat, sama dengan kita yang non-ODHA.

Berapa lama waktu naiknya status HIV ke HIV/AIDS?
Bergantung kondisi pasien. Terutama psikologis pasien ketika menerima status positif.

Mengapa justru psikologis yang berperan penting?
Misalnya, A didiagnosis positif HIV. Lalu, tenaga medis yang memeriksa menyatakan, ’’Anda terkena penyakit HIV. Banyak berdoa, ya.’’ Bagi yang tidak siap, kondisi psikologisnya jelas drop. Stres dan beban pikiran itu memengaruhi kondisi fisik pasien sehingga virus lebih mudah menggempur imunitas tubuh.

Apa yang harus dilakukan tenaga medis dalam mengungkapkan status positif HIV?
Ubah cara pandangnya. Tegaskan bahwa HIV/AIDS sudah ada obatnya serta banyak penderitanya yang mampu survive dan aktif seperti biasa. Tenaga medis juga wajib mengarahkan pasien untuk tetap menjalankan pola hidup sehat dan aktif. Jangan sampai karena didiagnosis positif HIV, penderita bermalas-malasan. Yang paling penting, tenaga medis harus bisa dipercaya. Status medis pasien adalah rahasia yang hanya diketahui mereka dan pasien. Saya rasa, panduan psikologis adalah hal utama yang harus diberikan kepada pasien dengan penyakit berat.

Apa harapan dari gencarnya sosialisasi HIV/AIDS? 
Kami, tim dokter, berharap HIV/AIDS dipandang sebagai penyakit yang bisa dicegah dan diobati. Takuti dengan cara yang rasional. Yang belum sakit (terjangkit) jangan sampai sakit. Yang sudah kena, ayo periksakan dan berobat. Tidak usah sibuk dengan pikiran takut dicurigai atau dicap. Kalau mau jujur, apa bedanya hepatitis dengan HIV? Tidak ada. Penularannya sama. Bedanya, orang dengan hepatitis tidak dicap memiliki perilaku jelek atau dipandang berbeda. Sementara itu, HIV/AIDS dianggap sebagai problem sosial.

Seberapa membantu peringatan Hari AIDS terhadap penghapusan stigma?
Sangat membantu. Kampanye yang kami lakukan tidak dirancang untuk mengasihani, misalnya dengan membagikan bunga atau bingkisan kepada penderita. Terkesan bahwa ODHA nggak bisa beraktivitas. Kalau bisa, berbaur langsung dengan ODHA.

Beberapa tahun lalu, saya mengajak rekan mahasiswa untuk bertanding bola dengan ODHA yang kondisi fisiknya baik dan memungkinkan untuk berolahraga. Tujuannya, masyarakat tahu bahwa orang dengan HIV/AIDS, kalau lari, ya bisa secepat lainnya (yang bukan ODHA). Mereka bisa aktif dan berkegiatan karena berobat secara teratur.

Apa kendala terberat menangani ODHA?
Penderita cenderung menyembunyikan fakta bahwa dirinya terkena HIV/AIDS. Namun, kini mulai banyak yang mau membuka diri. Apalagi, sekarang ada program PITC (provider initiated testing and counseling), yakni konseling dan tes status HIV/AIDS yang dilakukan atas inisiatif penyedia layanan kesehatan.

Jadi, sepanjang tidak melanggar hak asasi dan hukum, tenaga medis bisa melakukan tes. Tes tetap dilaksanakan atas izin pasien. Hasilnya pun hanya diketahui pihak medis yang melaksanakan serta orang yang menjalani tes.(*)

(fam/c7/ayi)

Berita Terkait