Perempuan Multi Tasking

Perempuan Multi Tasking

  Rabu, 10 February 2016 08:16

Berita Terkait

Multi tasking adalah istilah keren dari tugas rangkap yang dilakukan oleh seseorang. Dibanding pria, para wanita dianggap memiliki nilai lebih untuk melakukan ragam tanggung jawab dan tugas ganda di dalam rumah tangganya. Lantas apa dampaknya bagi keluarga? Oleh : Marsita Riandini

Sejak dulu para wanita memang sudah terlatih untuk melakukan berbagai hal dalam kesehariannya. Semakin bertambah, ketika wanita sudah berumah tangga. Ada banyak hal yang harus dipikirkan, baik itu diri sendiri, suami dan anak, menyiapkan makanan untuk keluarga, memastikan perlengkapan sekolah anak, menjemput anak, hingga pekerjaan kantor yang menuntutnya harus gesit. Dalam satu pagi saja, ada banyak tugas yang harus ditangani para wanita.

Seperti cerita dari Nisa. Selain ibu rumah tangga, dia juga bekerja di salah satu perusahaan swasta. Pukul 05.00wib, dia sudah harus bangun, menyiapkan sarapan pagi. Sambil menyuapi anaknya makan, dia memanfaatkan waktu untuk mencuci pakaian dan kerjaan lain yang bisa disambil. Setelah mengantar anaknya sekolah, dia pun bersiap bekerja. Di sela kesibukkannya di kantor, ia menelpon pengasuh anaknya di rumah, menanyakan kabar. Pulangnya, dia menghabiskan waktu lebih banyak untuk anak dan suaminya. Begitu cara dia mengatur waktu agar rumah tangga dan pekerjaan bisa berjalan lancar. Ketika anak sakit, kalau kondisinya sudah panas tinggi, biasanya dia minta izin tidak bekerja. Kadang pula sang suami turut membantu pekerjaan rumah tanpa harus diminta.

Menanggapi hal ini, Yuni Djuachiriaty, S.Psi, M.Si, Psikolog mengatakan sejak dulu ibu rumah tangga terkenal mampu mengerjakan berbagai aktivitas yang banyak. Apalagi sekarang ini, tuntutan karir membuat banyak ibu bisa berbagi peran dengan baik. “Dulu tantangannya punya banyak anak, jadi banyak yang diurus. Sementara sekarang sudah banyak ibu yang bekerja, jadi harus membagi waktu untuk keluarga, juga pekerjaan. Akhirnya banyak yang menjadi wonder women, atau pun wonder moms,” jelas Psikolog di RSJD Sungai Bangkong ini.

Wanita yang sudah menikah, cenderung belajar dengan sendirinya untuk menjadi multitasking. Sebab ketika ingin menikah, tentu mereka tahu bahwa nantinya akan mengurus rumah tangga, anak, suami, termasuk pekerjaan bila dia bekerja. Multitasking bagi seorang ibu tidaklah masalah. Selama dia mampu mengatur waktu dengan baik. “Tak hanya mengatur waktu, tetapi juga mengatur kesehatan. Ketika mengerjakan pekerjaan tentu membutuhkan fisik dan mental yang sehat,” katanya.

Dia mencontohkan, ketika berhadapan pada tugas yang banyak, maka dia harus memperhitugkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. “Jika dia bisa menyelesaikan pekerjaan A sampai jam 10, setelah itu harus menjemput anak di sekolah. Maka pastikan pekerjaan tersebut selesai, jangan ditunda-tunda.  Jika ditunda, akan mempengaruhi pekerjaan lain,” ujarnya. Prioritaskan pekerjaan mana yang di anggap lebih penting dan bisa dikerjakan terlebih dahulu. “Meskipun sebenarnya memanagemen waktu jauh lebih penting agar semua pekerjaan bisa beres,” tambahnya.

Bila nyatanya pekerjaan di kantor masih belum selesai, tak ada salahnya meminta bantuan suami. “Komunikasi dengan pasangan juga penting. Jika tidak bisa menjemput anak les, minta suami yang menjemput anaknya. Hanya saja menjalin komunikasi dengan pasangan ini butuh pengalaman terutama agar komunikasi yang terjalin menjadi baik,” pungkasnya. **

Berita Terkait