PERBUATAN ZALIM PASTI DIBALAS

PERBUATAN ZALIM PASTI DIBALAS

Jumat, 19 February 2016 07:46   1

         Dikisahkan, pada suatu hari  pasangan suami isteri sedang makan dirumahnya. Dihadapan mereka ada seekor ayam panggang. Tiba-tiba  seorang pengemis muncul di depan pintu. Sang suami merasa terganggu, lalu ia berdiri dan menuju pintu, menghardik dan mengusir pengemis itu. Tahun demi tahun berganti. Nasib seseorang  tidak dapat diduga. Pendek cerita, laki-laki yang menghardik pengemis itu jatuh miskin, sampai ia menceraikan isterinya. Kemudian mantan isterinya itu mnikah dengan lelaki lain.

          Satu ketika ,keduanya sedang duduk – duduk sambil makan. Di hadapan mereka ada ayam panggang. Tiba-tiba ada seorang pengemis mengetuk pintu.  Sang suaminya berkata kepada isterinya “ Berikanlah ayam panggang ini kepadanya. Kasihan dia ! “. Isterinya pun keluar membawa ayam panggang yang sudah dibungkus itu. Ternyata  pengemis tersebut adalah mantan suami pertamanya. Usai memberikan ayam panggang itu, sang isteri kembali duduk dekat suaminya sambil menceritakan peristiwa itu bersama mantan pengemis yang dulu pernah dihardik dan diusir  mantan suami perempuan itu.  Suaminya berkata “ Apa yang membuatmu heran, demi Allah aku adalah pengemis yang dulu ia usir.” Renungkanlah peristiwa ini. Ketika seseorang menghardik dan mengusir orang lain. Ternyata peristiwa yang sama menimpa dirinya.Jika pengemis itu ditolak dengan cara yang santun dan kasih sayang, atau memberikan sesuatu kepadanya walaupun sedikit, mungkin kejadiannya tidak akan seperti itu.

          Kisah lain. Para ulama penyebutkn bahwa ada seorang laki-laki , hidup bersama ayahnya yang telah lanjut usia. Karena si anak sudah merasa lelah merawat sang ayah, maka ia membawa ayahnya  ke gurun pasir untuk dibunuh. Ketika ia sampai ke sebuah batu besar, ia menurunkan orang tuanya itu. Ayahnya yang telah tua renta bertanya “ Wahai anakku, apa yang akan engkau lakukan terhadapku ? “.  Anaknya menjawab “ Aku akan membunuh ayah “. Sang ayah berkata “ Wahai anakku, inikah balasan perbuatan baikku ? “. Anaknya menjawab “ Engkau mesti dibunuh, karena aku telah bosan dan lelah merawatmu  “. Sang ayah berkata lagi “ Wahai anakku, jika engkau mau, maka bunuhlah aku pada batu berikutnya, janganlah engkau bunuh aku di sana atau di sana.”.Sang anak berkata “ Apa ruginya bagi ayah jika aku membunuh ayah di sini atau di sana ? “. Ayahnya menjawab “ Wahai anakku, jika suatu perbuatan itu akan dibalas dengan perbuatan yang sama, maka bunuhkah ayah pada batu berikutnya, karena ayah telah membunuh ayahku di sana. Engkau melakukan perbuatan yang sama “. Oleh karena itu wahai anak-anak, berbaktilah kepada kedua orang tua. Anda akan beruntung mendapat kebaikan dunia dan akhirat. Bakti kepada kedua orang tua adalah penyebab dimudahkannya kesulitan dan mendapatkan pertolongan Allah di dunia dan di akhirat. Bakti kepada kedua orangtua adalah penyebab kelapangan rezeki, bertambahnya usia, memperoleh rahmat Allah serta ampunan-Nya. Bakti kepada orang tua itu juga yang menjadi penyebab masuk surga, sebagaimana sabda Rasulullah saw “ Orang tua itu berada di tengah diantara pintu –pintu surga “( HR.Turmudzi )

          Pada suatu waktu Nabi Musa as mengembara. Karena capek, ia  beristirahat di sebuah pohon rindang sambil menatap kelembah tidak jauh darinya. Datang seorang lelaki menunggang kuda. Ia turun dari kudanya, ternyata disitu ada sumur. Setelah minum dan istirahat sebentar, ia pergi. Tidak lama kemudian datang seorang bocah menuju tempat itu.  Ia menemukan sebuah kantong yang ternyata berisi uang dirham. Dengan gembira ia bawa pergi.Berikutnya, datang lagi seorang tua berjalan tertatih – tatih dengan memegang sepotong tongkat. Ternyata  lelaki tua itu buta. Belum sempat ia beristirahat, tiba – tiba datang lekai pertama penunggang kuda itu, dan menghardik “ Hai kakek , mana kantong yang berisi uang saya disini tadi ? “. “ Anakku, kakek tidak tahu,kakek baru datang . Kakek buta, tidak bisa melihat “. Pendek cerita, bagaimanapun alasan yang dikemukakan olah sang kakek, si penunggang itu tidak bisa menerima, dan   dengan emosi, ia membunuh si kakek itu. Nabi Musa as bingung dan bertanya dimana letak keadilan Allah. Allah swt menjelaskan kepada Nabi Musa  “ Lelaki penunggang kuda itu adalah majikan dari ayah si bocah itu, yang gajihnya belum dibayarkan sampai ayahnya meninggal dunia. Karena itu sang bocah itu pada hakekatnya mengambil gaji almarhum ayahnya.Adapun sang kakek yang dibunuh oleh si penunggang kuda itu adalah   sebelum ia buta dialah yang  telah  membunuh ayah dari sipenunggang kuda itu “.

          Wallahu’alam

                                                          2

                                                  1

                  

 

 

Uti Konsen