Perbatasan Rawan Penyelundupan

Perbatasan Rawan Penyelundupan

  Rabu, 20 April 2016 09:00
BERBENAH: Pemerintah membenahi perbatasan Entikong, Sanggau beberapa waktu lalu. Semua wilayah perbatasan di Kalbar dinilai rawan penyelundupan. Dibutuhkan pengawasan yang lebih ketat agar penyelundupan narkoba bisa diperkecil. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Tertangkapnya dua tersangka kurir narkoba lintas negara yang membawa sabu-sabu seberat 17 kilogram menambah deretan panjang penyelundupan barang haram melewati perbatasan. Sepanjang 2016, sudah enam kali terjadi penangkapan narkoba asal Malaysia. 

Anggota Komisi I DPRD Provinsi Kalbar, Subhan Nur menilai, maraknya penyelundupan narkoba di perbatasan mengindikasikan bahwa wilayah tersebut sangat rawan. Tak dipungkiri, wilayah perbatasan di Kalbar, baik darat maupun laut sangat luas dan panjang. Sehingga, berpotensi menjadi pintu terbuka bagi para penyelundup narkoba. “Jalan tikus juga masih banyak,” kata politikus Partai Nasdem itu, Selasa (19/4).

Sebagaimana diketahui, bentangan garis perbatasan di Kalimantan Barat sepanjang 1.020,66 Km. Garis perbatasan melintasi lima kabupaten. Yakni Sambas, Bengkayang, sanggau, Sintang, dan Kapuas Hulu.

Sindikat narkoba memanfaatkan kelemahan yang ada di setiap perbatasan. Dengan berbagai cara mereka mencoba mengelabui petugas. Apalagi, nilai nominal perdagangan narkoba sangat besar. Sehingga membuat sebagian orang tergiur untuk menjalankan bisnis haram itu.  

“Ini perputaran uang yang besar. Peluang ekonomis tinggi membuat masyarakat tergiur, belum lagi lapangan kerja sulit,” kata Subhan.

Menurut Subhan, untuk memberantas peredaran narkoba perlu perencanaan yang matang. Ini, kata Subhan, bukan hanya tugas kepolisian, tapi semua pihak, termasuk gubernur. Narkoba saat ini, sudah di depan mata. Sehingga perlu pemangku kepentingan untuk duduk bersama, mengevaluasi. 

“Narkoba sudah masuk ke semua sektor, tidak memandang institusi dan remaja. Solusinya bukan hanya dipikirkan oleh kapolda, tapi juga gubernur, sebab korbannya masyarakat. 

Kapolda Kalbar  Brigjen Arief Sulistyanto menilai, belum tersedianya pos pemeriksaan lintas batas (PPLB) di Jagoi Babang membuat wilayah itu rawan terjadi penyelundupan. Setelah pengawasan di perbatasan Entikong diperketat, kini Jagoi Babang yang berbatasan langsung dengan Serikin, Malaysia dijadikan jalur penyelundupan selanjutnya.

Bukan hanya narkoba yang bisa melintas bebas di perbatasan negara itu. Sejumlah barang seperti sosis, gula juga lewat dari Jagoi Babang. Dengan belum adanya PPLB ini, kata Arief, menjadi masalah tersendiri. Dia berharap, tahun ini bisa direalisasikan, mengingat jarak antarnegara tidak begitu jauh, kurang dari tiga kilometer.

“Bea Cukai memang ada, tapi jaraknya jauh. Di sana juga ada gedung seperti pos terpadu, tapi belum digunakan. Tapi kami sudah koordinasikan hal ini, agar untuk sementara bisa digunakan untuk aktivitas pengawasan.

Terkait lemahnya pengawasan di sejumlah titik perbatasan karena belum adanya pos pemeriksaan lintas batas, Anggota DPRD Kalbar Subhan Nur sedikit berbeda pandangan. Menurut Subhan upaya memerangi masuknya narkoba tidak cukup dengan menyediakan PLB. Akan tetapi, bagaimana mengubah cara pikir masyarakat Kalbar, untuk bersama-sama perang terhadap barang haram ini. “Buktinya, di Entikong saja yang sudah ada PPLB masih ada celah masuk bagi perdagangan narkoba lintas negara,” ujarnya.

Dikatakan pula, tempat untuk penggunaan narkoba di Pontianak masih tergolong bebas. Seperti di diskotek, atau tempat hiburan malam lainnya. Hal ini, tentu  menambah peluang penyebaran peredaran narkoba. 

“Harusnya ditanamkan mindset masyarakat untuk membantu mempersempit askses penyebaran dan pengunaan narkoba. Supaya pemberantasan barang haram ini berhasil,” jelasnya 

Untuk itu, dia menyarankan, sebelum membangun PLB, sebaiknya melakukan pencegahan dimulai dari masyarakatnya terlebih dahulu. Apabila hal ini sudah dilakukan, upaya pencegahan tidak hanya dilakukan oleh intansi, tapi juga masyarakat yang menolak keras narkoba, turut juga memberantasnya. 

Subhan juga memastikan akan memonitor kasus ini hingga tuntas, agar tersangka penyelundupan mendapatkan hukum yang maksimal. “Persoalan narkoba, perlu menggandeng semua, seluruh masyarakat Kalbar berperan,” ujarnya. 

Pengamat Hukum Universitas Tanjungpura, Dr Hermansyah menyatakan hal senada. Selain mengapresiasi Kapolda Kalbar atas pengungkapan kasus penyelundupan narkoba lintas Negara ini, dia juga menyarankan agar kinerjanya lebih efektif dan efisien, Kapolda harus menjalin hubungan baik dengan masyarakat. 

“Bagaimanapun masyarakat lebih tahu. Sehingga dari masyarakat menolak narkoba sangat terbangun dengan upaya tersebut. Dengan memberdayakan semua komponen masyarakat karena narkoba sudah menjadi musuh bersama,” saran Hermansyah.

Dikatakan pula, potensi kejahatan international di Kalbar bukan hanya penyelundupan narkoba, tapi juga kasus lainnya seperti perdagangan manusia. Perbatasan yang panjang, sementara hanya titik tertentu saja yang bisa diawasi, sehingga potensi kejahatan besar. 

“Hukumannya juga harus dinilai dari motivasinya, tersangka itu berbisnis atau pemakai, ini jelas beda. Tapi kalau pekerjaan, berbisnis tentu merusak, hukuman mati lebih pas, sebab efeknya general,” ujarnya. Banyaknya kasus penyelundupan narkoba dari Malaysia menyisakan pertanyaan bagaimana pengawasan peredaran narkoba di negeri jiran tersebut? Pertanyaan ini salah satunya diutarakan Wali Kota Pontianak Sutarmidji. 

“Bagaimana kinerja pihak keamanan di sana? Apakah sengaja atau jangan-jangan di sana produksi narkoba dilindungi untuk dibawa ke Indonesia. Sudah banyak kasusnya dan bisa lolos seenaknya saja,” ungkap Midjid menanggapi penangkapan 17 kilogram sabu-sabu dari Malaysia melalui perbatasan Jagoi Babang, Bengkayang, Minggu (17/4). 

Sutarmidji menilai ada indikasi kesengajaan masuknya narkoba itu bertujuan merusak generasi bangsa Indonesia. Apalagi seluruhnya berasal dari Malaysia. Dia memperkirakan, lebih dari separuh narkoba yang masuk ke Indonesia melalui jalur internasional selalu berasal dari Malaysia. "Sekarang bisa dilihat, berapa banyak narkoba yang bisa ditangkap di negaranya (Malaysia) sendiri? Tidak kelihatan, paling hanya tangkap tangan satu gram atau dua gram saja," kesalnya.

Padahal, lanjut dia, secara internasional seluruh negara memiliki visi yang sama untuk memberantas narkoba. "Tapi mengapa mereka masih seperti itu, sehingga indikasinya memang ada tujuan-tujuan lain untuk merusak generasi muda kita," paparnya. 

Jika selama ini alasannya, barang haram ini masuk dari jalur-jalur tikus di perbatasan sudah tidak relevan. Karena banyak pula narkoba masuk diselundupkan menggunakan kendaraan umum atau mobil-mobil pribadi.

Menurutnya Pemerintah Indonesia perlu memberikan peringatan kepada Pemerintah Malaysia untuk menjaga hal ini jangan sampai terjadi kembali. Sebab sejauh ini selalu saja Indonesia yang dibuat repot oleh Malaysia. "Sekali-sekali dibikin repot juga, jika tidak, bisa saja kita kirim hal-hal lain ke mereka, misalnya virus rabies, biarkan anjing-anjing di perbatasan yang terjangkit di lepas di sana biar ribut sekalian," ancamnya.

Sementara itu Kepala BNNP Kalbar Dani M Darmawan menambahkan, untuk wilayah di perbatasan memang sudah dilakukan upaya-upaya interdiksi, baik tingkat pusat maupun provinsi. BNNP juga telah menjalin kerja sama dengan pihak-pihak terkait seperti TNI dan Polri. Bisa dilihat, beberapa waktu terkahir, TNI beberapa kali juga telah berhasil mengamankan pengedar narkoba yang kemudian diserahkan ke BNNP. 

"Kami sangat mengapresiasi pihak terkait, mudah-mudahan para anggota yang sudah berpartisipasi bisa mendapat penghargaan dari institusi masing-masing," tandasnya.

Rosdaniar, psikolog klinis dari Rumah Sakit Jiwa Daerah Sungai Bangkong mengatakan, bagi para orang tua, upaya polisi menggagalkan penyelundupan 17 kg perlu diapresiasi. “Bisa dibayangkan jika narkoba itu lolos. Berapa ribu generasi muda yang rusak?” (gus/bar/mif) 

Berita Terkait