Perbatasan Jalur Favorit Penyelundupan Narkoba

Perbatasan Jalur Favorit Penyelundupan Narkoba

  Sabtu, 17 September 2016 09:30

Berita Terkait

 PONTIANAK - Pintu perbatasan Indonesia-Malaysia menjadi jalur favorit penyelundupan narkoba. Terbukti dalam kurun waktu sembilan bulan, sejak Januari hingga September 2016, Bea dan Cukai Kalimantan Barat menggagalkan lima kali upaya penyelundupan narkoba. Selama kurun tersebut, telah disita sebanyak 21, 7 kilogram sabu-sabu.

            Baru-baru ini, penyelundupan sabu-sabu lewat perbatasan kembali terjadi. Sabu-sabu dengan berat 5,13 kilogram asal Malaysia disita petugas. Barang haram itu hendak dibawa ke Indonesia oleh seorang kurir berisial MA melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau.

            Kasus ini terbongkar setelah petugas mendapatkan informasi adanya sebuah mobil dari Malaysia yang membawa narkoba. Mobil itulah yang dikendarai MA. Berdasarkan informasi tersebut, petugas pun mencegat mobil tersebut untuk diperiksa.

            Pada pemeriksaan awal, petugas tak berhasil menemukan sabu-sabu tersebut. Namun setelah dilakukan pemeriksaan intensif, akhirnya petugas menemukan barang haram tersebut yang disimpan di kolong mobil. Narkoba itu disembunyikan dalam sebuah kotak berwarna hitam.  Dalam kotak itu, ditemukan lima bungkusan yang dililit plastik warna kuning. Setelah dibuka, bungkusan itu tenyata berisi butiran kristal berwarna putih.

            "Setelah dites, diketahui barang tersebut mengandung methamphetamine seberat kurang lebih 5,13 kg," ujar Kepala Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kalimantan Bagian Barat Saifullah Nasution, kemarin.

            Selanjutnya dilakukan pengembangan, yakni dengan cara control delivery. Dari pengembangan tersebut didapatkan seorang laki-laki bernama M, warga Komplek Seruni Indah, Pontianak Timur yang diduga kuat sebagai penerima narkoba tersebut.

            Dari tangan M, BNNP dan Bea Cukai menemukan beberapa barang bukti lain, seperti uang ringgit, HP, dan sebuah senjata airgun.

            "Saat ini kedua tersangka da barang bukti diamankan di BNNP Kalbar untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut," kata Saifullah.

            Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal 113 ayat 2 UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman mati.

            Menurut Saifullah, modus penyelundupan narkoba seperti yang dilakukan tersangka MA termasuk modus baru.        "Kami baru mendapati modus seperti ini. Memang banyak modus yang dilakukan pelaku. Bahkan modusnya berubah-ubah. Seperti halnya penyelundupan yang berhasil diamankan sebelumnya, di dalam toilet bus, terus di dalam speaker aktif dan masih banyak lagi," katanya.

            Disinggung soal kaitan jaringan dengan penyelundupan sabu 10 kilogram yang berhasil diamankan BNN di dalam keranjang pisang kepok beberapa hari lalu,  Saifullah belum dapat menyimpulkan.        "Mungkin aja ada. Tapi lebih tepatnya silakan tanyakan langsung kepada kepala BNNP," ujarnya.

            Mengenai pengawasan di pintu perbatasan, sambung Saifullah, sejauh ini pihak Bea dan Cukai sudah memiliki prosedur tetap. Setiap kendaraan yang masuk akan diperiksa. Ia mengaku bahwa pintu perbatasan Kalbar memang rawan penyelundupan narkoba.

            "Bayangkan saja, sejak Januari hingga sekarang Bea Cukai saja sudah lima kali melakukan penggagalan dengan jumlah barang bukti lebih dari 21, 7 Kg. Belum lagi Polda Kalbar ada sekitar empat kali dengan jumlah yang barang bukti yang variatif, ada yang 17 Kg, ada yang 6 kg dan lain-lain. Belum lagi BNN," bebernya.

            Ke depan, kata Saifullah, dalam pengawasan orang dan barang di perbatasan khususnya di PLBN Entikong, Bea Cukai akan menyiapkan empat X-Ray. Diharapkan dengan empat X Ray tersebut bisa digunakan untuk mendeteksi barang bawaan penumpang.

            "Sedangkan untuk kendaraan, belum ada alat untuk mendeteksi sehingga pemeriksaannya secara manual," terangnya.

            Sementara Kepala BNNP Kalimantan Barat, Brigjen Pol Nasrullah mengatakan, untuk membongkar jaringan peredaran narkoba sangat sulit. Belum lagi ada banyak pihak yang memiliki kepentingan. (arf)

Berita Terkait