Perbatasan Bobol Lagi, Sabu 6,4 Kg Nyaris Lolos

Perbatasan Bobol Lagi, Sabu 6,4 Kg Nyaris Lolos

  Kamis, 30 June 2016 10:00
LINTAS NEGARA: Kapolda Kalbar, Brigjen Musyafak menunjukkan barang bukti yang dimasukkan ke dalam speaker kendaraan untuk melintas batas negara. Polisi berhasil mengamankan dua tersangka berikut barang bukti narkoba jenis sabu dan pil seberat lebih dari enam kilogram. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Pintu perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat masih menjadi jalur favorit bagi penyelundup narkoba lintas negara. Setelah Entikong (Sanggau), Jagoi Babang (Bengkayang), kini Aruk (Sambas) yang jadi jalur emas penyelundupan narkoba.

Terbukti, 6,4 kilogram sabu dan 39.730 butir ekstasi jenis happyfive hampir saja lolos masuk ke Indonesia lewat Aruk. Beruntung, Polres Sambas dan Direktorat Polda Kalbar menggagalkan upaya penyelundupan dilakukan dua kurir tersebut. 

Pelaku berinisial DN (31) warga Kelurahan Bangka Belitung, Pontianak Tenggara dan RN (36) warga Kelurahan Benua Melayu Darat, Pontianak Selatan.

Barang haram itu diselundupkan dengan cara menyamarkan barang bukti dengan dibungkus plastik dan disembunyikan di dalam salon tape mobil Nissan X Trail warna Silver KB 1464 AL dari Biawak (Malaysia) ke Aruk (Sambas-Indonesia). 

Kapolda Kalbar Brigjen Pol Musyafak mengatakan, penangkapan kedua pelaku penyelundupan narkoba ini berawal dari informasi pada 26 Juni 2016 yang diterima Polsek Sajingan, Sambas terkait ada seseorang yang menawarkan uang Rp50 juta jika ada yang mau menyebranginya mobilnya lewat batas atau border dari Biawak (Malaysia) ke Aruk (Sambas-Indonesia). Informasi tersebut langsung ditindaklanjuti dengan informan untuk menerima tawaran tersebut.

Keesokan harinya sekitar pukul 07.00, informan membawa mobil Nissan X Trail KB 1464 AL milik pelaku dari Biawak ke Aruk dan sekitar pukul 08.30, mobil diserahkan kepada tersangka. 

Kemudian dilakukan penggeledahan dan ditemukan barang bukti berupa 6,4 kilogram sabu yang terdiri dari 6 paket besar yang dibungkus kantong plastik dan 39.730 butir happy five yang disembunyikan di dalam salon tape mobil. "Dari penangkapan itu, kami mengamankan dua tersangka," kata Musyafak dalam keterangan persnya, kemarin.

Dalam penyelundupan narkoba ini, kata Musyafak, tersangka RN adalah sopir yang membawa narkoba dari Malaysia melalui border Aruk. Sebelumnya, tersangka masuk ke Malaysia melalui border Entikong bersama rekannya, DN dan kembali ke Indonesia melalui border Aruk, Sajingan, Sambas. "Yang bersangkutan mendapat upah sebesar Rp20 juta," lanjut Musyafak.

Sedangkan tersangka DN juga berperan sebagai sopir yang membawa narkoba dari Malaysia ke Indonesia melalui border Aruk. "Dia juga mendapat upah sebesar Rp 20 juta," sambungnya.

Setelah dilakukan pemeriksaan, kata Musyafak, tersangka sudah dua kali melakukan penyelundupan narkoba dari wilayah Malaysia ke Indonesia. Sebelumnya pada 11 Juni 2016, narkoba sebanyak tas ransel berhasil lolos dari pemeriksaan. "Kita belum tahu berapa jumlah narkoba yang lolos itu. Mudah-murahan ini bisa dikembangkan. Karena menurut informasi, sang bandar saat ini berada di Jakarta," terangnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal 112 ayat (2), pasal 114 ayat (2) dan pasal 115 ayat (1) Undang Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman minimal lima tahun penjara dan maksimal hukuman mati.

Tembak Mati

Peredaran narkotika sudah menjadi antensi khusus bagi Pemerintah Indonesia. Bahkan Presiden Joko Widodo menyatakan Indonesia darurat narkoba. Dalam peringatan Hari Anti-Narkoba Internasional (HANI) 2016 lalu, Presiden meminta mulai dari tingkat Polda hingga Polsek tidak ragu-ragu untuk melakukan tindakan tegas.

Demikian juga Kapolda Kalbar Brigjen Pol Musyafak memerintahkan anggotanya untuk melakukan tindakan tegas. "Saya perintahkan kepada anggota baik ditingkat Polda maupun Polsek, khusus untuk pelaku narkoba, jangan ragu-ragu. Jika perlu tembak mati. Tidak apa-apa," tegasnya.

Menurut Musyafak, narkoba sudah menjadi musuh bersama dan harus diperangi.

Untuk memperketat pengawasan di perbatasan, pihaknya bersama instansi terkait akan melakukan koordinasi, khususnya bea dan cukai. "Saya sudah katakan kepada Kanwil Bea dan Cukai. Jika perlu di daerah perbatasan disiagakan K-9. Anjing pelacak. Karena saya yakin, petugas di sana kurang teliti. Mudah-murahan dengan pengalaman ini, ke depan setiap pos ada anjing pelawaknya," kata Musyafak. 

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jendral Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Barat Saifullah Nasution mengatakan, pihaknya telah membentuk komunikasi dengan baik dengan instansi terkait, termasuk dengan kepolisian di Kalbar. 

Menurut Saifullah, pelaku pembawa narkoba jenis sabu 6,4 kg dan 39.730 butir happyfive yang ditangkap oleh pihak kepolisian merupakan TO (target operasi) Bea Cukai di border Entikong, Kabupaten Sanggau. 

Kedua tersangka sebelumnya masuk ke Malaysia melalui border Entikong, Kabupaten Sanggau. Namun dibelakangan diketahui kedua tersangka keluar dari border Aruk, Kabupaten Sambas. 

"Di Aruk, sebenarnya petugas kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap mobil yang dikenadari oleh tersangka. Namun pada saat diperiksa, speaker (solon tape mobil) terus menyala sehingga tidak terdeteksi jika di dalamnya disembunyikan narkoba," katanya saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin. "Mungkin kurang teliti," sambungnya.

Diakui Saifullah, saat ini belum ada sistem IT yang terkoneksi antarpos penjagaan di Kalimantan Barat.

Seperti halnya di Aruk (Sambas), Jagoi Babang (Bengkayang) dan Badau (Kapuas Hulu). Menurutnya, jika pos perbatasan sudah memiliki sitem IT yang terkonektik dengan perbatasan lainnya, maka pengawasan kendaraan yang keluar masuk akan lebih mudah. "Ini sudah kita bahas. Mudah-mudahan bisa teralisasi," harapnya.

Selain itu, pihaknya saat ini sedang menyiapkan anjing pelacak (K9) untuk disiagakan di beberapa titik perbatasan. Seperti Entikong, Aruk dan bandara. "Ketiga lokasi ini skala prioritas," lanjutnya.

Terkait dengan modus yang kerap dilakukan pelaku penyelundup narkoba, kata Saifullah selalu berubah dan berganti. Skala nasional, saat ini penyelundupan kerap dilakukan melalui jalur laut. Dimana pelaku bisa memasukan narkoba dengan jumlah yang besar. 

"Seperti kita ketahui mereka (pelaku) bisa menyelundupkan narkoba hingga 800 kg ke indonesia. Dan untuk di Batam saja, dalam kurun waktu ini ada sekitar 47 kali kasus penyelundupan narkoba," bebernya.

Namun, kalau untuk di Kalimantan Barat, pintu perbatasan masih menjadi jalur favorit bagi para pelaku. Untuk itu, petugas Bea & Cukai, Imigrasi dan Karantina yang dikenal dengan sebutan CIQ (Custom, Immigration, Quarantine) harus diperkuat. (arf)

Berita Terkait