Perang Lawan Narkoba

Perang Lawan Narkoba

  Senin, 27 June 2016 09:30
Jokowi

Berita Terkait

JAKARTA - Indonesia darurat narkoba. Presiden Joko Widodo memerintahkan perang melawan narkoba. Semua instansi maupun lembaga serta masyarakat harus turut serta bersama-sama memberangus barang laknat tersebut. 

"Kita kejar, hajar, tangkap. Baik sedang, kecil, besar," perintah Jokowi saat peringatan Hari Anti Narkotika Internasional 2016 di Tamansari, Jakarta Barat, Minggu (26/6).  

Jokowi menambahkan, Badan Narkotika Nasional, Polri, kementerian, lembaga pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat harus bersama-sama melawan narkoba. Jaringan sosial harus dikuatkan. Dia menegaskan, kelicikan bandar narkoba harus dikalahkan. 

"Buat langkah progresif untuk mengalahkan kelicikan pengedar narkoba," kata Jokowi. 

Menurut dia, kejahatan luar biasa ini telah merenggut berbagai lapisan. Pada 2015,  diperkirakan angka prevalensi pengguna narkoba mencapai 5,1 juta orang. 

Sebanyak 40 hingga 50 generasi muda setiap hari mati karena narkoba.  Kerugian material diperkirakan kurang lebih R 63 triliun. 

Melingkupi kerugian akibat belanja narkoba, biaya pengobatan, barang-barang yang dicuri, biaya rehabilitasi, dan lainnya.

Para pengedar narkoba kini telah bergerak dan menemukan cara-cara baru untuk mengelabui masyarakat. 

Anak-anak dan wanita sudah mulai dimanfaatkan oleh para pengedar narkoba untuk dijadikan kurir barang haram tersebut. 

Selain itu, mainan anak, kaki palsu, dan barang-barang yang tidak diduga lainnya kini juga menjadi modus baru dalam penyelendupan narkoba.

"Dengan kekuatan dan ketegasan kita bersama, kita kejar para pengedar narkoba," ujar Jokowi. 

Di mana pun ada narkoba di Indonesia, Jokowi memerintahkan seluruh sumber daya pemerintah untuk hadir dan memberantasnya.

Kepala BNN Komisaris Jenderal Budi Waseso mengatakan, Januari 2015 hingga Juni 2016 pihaknya berhasil mengungkap 1015 kasus dari 72 jaringan sindikat narkoba. BNN juga mengamankan 1681 tersangka. "Baik yang ditangani BNN pusat maupun BNN provinsi," kata Buwas dalam kesempatan itu. 

Sebanyak 2,8 ton sabu, 707.864 butir ekstasi, 41, ton ganja dan 69 hektar lahan ganja disita BNN. Tak cuma itu, BNN juga berhasil merampas Rp 142.058.158.337 aset yang berasal dari pencuian uang perkara narkotika milik para bandar. 

BNN tidak hanya memokuskan penindakan dalam memberangus barang laknat maupun bandar-bandarnya dari Indonesia. Namun, upaya rehabilitasi kepada korban narkotika juga terus dilakukan. 

Menurut Buwas, Selama 2015 hingga Juni 2016 ada 42.429 pecandu, penyalahguna dan korban penyalahgunaan narkoba direhabilitasi. "Ini tersebar di berbagai wilayah di Indonesia," kata Buwas.  

Ia menjelaskan, dari 42.429, sebanyak 2500 di antaranya direhab melalui balai rehabilitasi yang dikelola BNN.  "Baik yang berada di Lido, Bogor; Baddoka, Makassar; Tanah Merah, Samarinda; dan Batam, Kepulauan Riau," kata mantan Kepala Bareskrim Mabes Polri itu. 

Kepala Kepolisian RI Jenderal Badrodin Haiti mengatakan, jika BNN  memerlukan penguatan dalam memberangus narkoba maka Polri siap.

"Karena infrastruktur kami sampai ke desa-desa," tegas Haiti dalam kesempatan itu kepada wartawan. 

Orang nomor satu di Korps Bhayangkara itu menyatakan, selama ini sinergi BNN dan Polri sudah baik dalam mengungkap jaringan narkoba. Saling kerja sama dalam pemberangusan narkoba harus ditingkatkan. "Oleh karena itu, upaya sinergi bagus dilakukan," kata mantan Kepala Baharkam Polri ini.

Ia menjelaskan, pencegahan dan pemberantasan narkoba bukan hanya domain Polri. Tetapi, perlu juga dilibatkan elemen masyarakat untuk melakukan pencegahan. 

"Oleh karena itu perlu ada sinergi antara aparat penegak hukum, Polri, BNN, dan seluruh elemen masyarakat," ujar pria berkumis tipis ini. 

Dia menegaskan, bahaya narkoba harus diwaspadai. Karena barang laknat itu sudah merambah masuk ke berbagai lapisan. Tidak hanya jaksa, polisi, dosen, guru, tapi wartawan juga ada. 

"Tadi disampaikan Pak Presiden bahwa hampir semua unsur masyarakat terlibat. Oleh karena itu kita harus waspada," papar Haiti.  

HANI 2016 mengusung tema "Listen First : Listening to Children and Youth is The First Step to Help Them Grow Healthy and Safe" (Dengarkan Dulu: Mendengarkan Suara Hati Anak-anak dan Remaja adalah Langkah Awal untuk Membantu Mereka Tumbuh Sehat dan Aman). (ody) 

Berita Terkait