Perahu yang Cocok Untuk Mobilitas Warga Kepulauan

Perahu yang Cocok Untuk Mobilitas Warga Kepulauan

  Jumat, 5 Agustus 2016 09:30
PERAHU: Perahu listrik yang dibuat Untan saat diujicoba di Sungai Kapuas. AGUS PUJIANTO/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Guru Besar Untan, Rekayasa Perahu Bertenaga Listrik

Sadar energi berbahan dasar fosil diperkirakan habis. Pakar ilmu elektro Universitas Tanjungpura merekayasa cahaya matahari untuk energi perahu. Selain mengusung aksi go green, perahu bertenaga listrik ini dinilai cocok untuk masyarakat kepulauan. 

AGUS PUJIANTO, Pontianak

ADA yang mau coba naik,” kata bapak berjanggut menawarkan kepada awak media untuk mencoba sensasi perahu bertenaga listrik, hasil rekayasanya. Satu awak media menyanggupi. Sekali handle gas dipilas, perahu fiberglass melaju senyap.

Tak seperti suara perahu bermesin pada umumnya. Deru suara mesin perahu rakitan bertenaga matahari itu nyaris tak mengeluarkan bunyi. Senyap. Hanya terdengar riak air sungai yang terdorong rotasi kipas. 

“Secara elektro sudah 100 persen. Yang perlu disempurnakan pengaturan posisi kemudi, biar tidak pegal,” kata Ismail Yusuf, inisiator pembuat Perahu Listrik Untan (PLU). 

Dia mengaku pegal usai mengarungi perairan Sungai Kapuas. Kemudi yang diletakkan di bagian belakang itu, menyulitkannya mengemudi.

Ismail enggan menyebut dirinya sebagai pencipta. Dia lebih senang disebut sebagai inisiator dari dua mahasiswa yang dibimbingnya untuk melakukan riset dan mendesain sebuah transportasi yang cocok untuk wilayah Kalbar dengan menggunakan energi ramah lingkungan. 

“Ini sebenarnya bukan kami membuat. Kami hanya merekayasa,” kata Guru Besar Universitas Tanjungpura, Rabu (3/8). 

Upaya rekayasa merakit perahu bertenaga listrik, sejalan dengan gencarnya upaya pemerintah gencar melakukan hemat energi. Berbagai terobosan inovasi dari energi baru dan terbarukan bahkan sudah bermunculan.

“Kami semua tahu, bahan bakar fosil ini bakalan habis dan harus mengembangkan energi lain. Kebijakan pemerintah sudah jelas, mobil listrik satu kebijakan bagus. Hanya saja, kalau untuk di Kalbar perahu listrik untuk masyarakat di pulau yang diperlukan sebenarnya,” sebut Ismail, menceritakan latar belakang pembuatan PLU. 

Buah pikirannya itu, lantas diobrolkan dengan dua mahasiswa untuk membantunya mendesain dan menginventarisir semua yang ingin dirakit. “secara teoritis bisa. Tapi praktiknya kami realisasikan skala kecil,” ujarnya. 

Semua desain konsep dan alat yang akan dirakit sudah siap: perahu jenis fiberglass panjang kurang dari tiga meter dan lebar setengah meter. Panel surya dengan spesifikasi 100 Watt peak (WP). Aki 12 volt dengan tenaga 100 ampere hours serta mesin pendorong berkekuatan 1,5 PK. 

“Sinyal matahari ditangkap panel mengubah energi cahaya, bukan panas menjadi listrik. Panel mengubah cahaya menjadi listrik DC disimpan di aki. Energi itu yang menggerakkan di mesin,” kata Ismail menjelaskan cara kerja perahu listriknya. “Untuk pemakaian normal, bisa sampai satu jam dan dan baterai tidak akan habis, akan terus terisi,” 

Selain ramah lingkungan, Perahu Listrik Untan ini juga banyak kelebihan. Selain tidak membutuhkan minyak untuk bahan bakarnya, Untuk biaya, sebut bapak enam anak ini relatif murah. Untuk harga investasi awal, kisaran Rp10 juta. Dia menjamin, untuk time leaf-nya mampu hingga lima tahun, hingga 10 tahun, apabila perawatannya baik.

“Kelebihannya kami ndak tergantung pada minyak. Ndak sama sekali. Ini tergantung pada alam, paling kalau hujan sebulan saja memang ndak bisa berjalan,” ungkapnya.

Persoalan biaya, kata dia, untuk masyarakat terbilang mahal. Akan tetapi, bisa ringan apabila pemerintah mau membantu. “Kalau pemerintah ini merasa perlu, bisa diproduksi massal. Kalau makin massal makin murah. Secara elektrik sudah 100 persen. Yang perlu disempurnakan pengaturan posisi kemudi, agar tidak pegal,” sebutnya.

Dia berharap, hasil pemikiranya ini bisa bermanfaat dan digunakan untuk masyarakat. “Harapan kami agar hasil yang kami buat ini bermanfaat. Tentu ke depan akan dikembangkan kembali,” tukasnya.(*) 

Berita Terkait