Perahu Kandas Terbayarkan Saat Melihat Panorama Sekitar

Perahu Kandas Terbayarkan Saat Melihat Panorama Sekitar

  Selasa, 17 May 2016 10:44
PANTAI: Pantai cantik yang berada tak jauh dari ekowisata mangrove di kala senja. Mirza Ahmad Muin/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Perjalanan melelahkan menuju ekowisata mangrove, di Dusun Paluh, Kabupaten Kubu Raya terbayarkan usai melihat panorama sekitar. Potensi kekayaan alam dengan hamparan pantai yang panjang bakal membuat pengunjung ketagihan untuk berkunjung. Jika kesempatan itu ada, ingin menjelajah wilayah itu hingga tuntas.   

Mirza Ahmad Muin, Sungai Nibung, Kubu Raya

HEMBUSAN angin Laut Cina Selatan menyambut Tim Sampan Kalimantan ketika sampai di lokasi ekowisata mangrove di Dusun Paloh, Desa Nibung, Kubu Raya Sabtu Malam. Meski jarak pantai cukup jauh, namun hembusan angin cukup kuat, membuat bulu kuduk merinding. Diketahui, lokasi ekowisata mangrove berhadapan langsung dengan Laut Cina Selatan. Dari kegelapan, pantai masih bisa dilihat namun samar. Meski samar, bisa ditebak bahwa pantai ini lebar dan panjang. 

Sebenarnya, perkiraan kami sore hari sampai di lokasi. Namun, karena cuaca tak bersahabat, akhirnya tiba di lokasi tepat pukul 7 malam. Listrik pun belum masuk di wilayah itu. Pengelolanya yang juga Kepala Desa Sungai Nibung, Syarif Ibrahim berinisiatif menerangi daerah tersebut dengan listrik bertenaga genset. Al hasil, cukup lah menerangi tiga tempat penginapan, satu WC sederhana, kantin alakadar dan sebuah panggung pentas untuk bisa dinikmati pengunjung yang datang ke sini. Sedangkan beberapa gazebo di hutan mangrove masih menggunakan cahaya pelita.      

Kedatangan puluhan orang, rupanya Kades Sungai Nibung tak kelimpungan. Dia telah menyiapkan acara di malam hari. Usai menyimpan perbekalan di kamar  seluas 4 kali 4 meter itu, puluhan rombongan lantas berpencar. Bermacam aktifitas di malam buta itu. Sebagian sibuk mencari sinyal, ada yang langsung ke kantin, berjalan ke pantai, melihat penangkaran penyu bahkan tanpa menyimpan barang langsung memancing ke sungai. 

Peralatan sound sistem sederhana di panggung tak jauh dari tempat penginapan langsung disiapkan pengelola wisata. Alunan musik dangdut memecah kesunyian di malam itu. Sebagian kelompok berinisiatif membuat api unggun untuk menghalau angin laut tak jauh dari panggung. Mereka menari-nari mengelilingi api unggun. Pihak pengelola rupanya jeli, alunan musik reggae bertempo lambat dengan dentuman bas dan rhythm gitar khas langsung di putar. Al hasil, mereka menari mengikuti irama musik sambil membentuk lingkaran mengelilingi api unggun. 

“Awal mula ekowisata mangrove di didirkan usai melihat potensi SDA di wilayah ini yang menurut kami bisa di jual untuk menjadi ekonomi masyarakat. Banyak potensi di wisata mangrove, selain hamparan mangrove yang luas, kita juga bisa melihat pantai dan penangkaran penyu dan ketungtung,” ucap Kepala Desa Sungai Nibung, Syarif Ibrahim kepada Pontianak Post. 

Satwa langka juga banyak di sini. Seperti burung, penyu sisik dan ketuntung. Potensi lebah madu juga jadi andalan. Khusus penangkaran penyu lanjutnya sudah dibangun sejak 2015 kerjasama BKSDA. Pihak BKSDA melihat di pantai tengkuyung atau biasa disebut pantai paloh jadi tempat persinggahan penyu bertelur. Tak ingin telur itu diambil oknum tak bertanggung jawab, dibuatlah penangkaran itu. “Selain penyu, di sini juga ada ketuntung,” ungkapnya.

Dia berharap pemerintah setempat dapat menggencarkan potensi ekowisata ini. Sekarang, pemerintah melalui Dinas Pariwisata belum maksimal menggarap potensi wisata mangrove. Apabila banyak pihak terlibat mempromosikan ini ia yakin akan cepat dikenal masyarakat Kalbar. Dalam pengembangannya ia mengutamakan kearifan lokal. 

Untuk pengenalan ekowisata mangrove, sebenarnya sudah dikenalkan pihak desa 1 Mei 2016 lalu. Namun baru uji coba. Meski memiliki keterbatasan, namun jumlah pengunjungnya cukup ramai. “Di dalam buku tamu, jumlah pengunjung mencapai 180 orang. Namun berdasarkan pengamatan tim kami, jumlah pengunjung di pantai kurang lebih 6 ratus orang,” ungkapnya.

Ke depan pihaknya terus menggencarkan promosi ekowisata mangrove. Dalam waktu dekat, pihanya juga memperbaiki infrastruktur di lokasi tersebut. Mulai dari penambahan tempat penginapan, sampai penyambungan gertak di hutan mangrove. Rencananya, pembangunan gertak akan tembus pantai. Jika terealisasi, nanti pengunjung dapat mengitari hutan mangrove. Jika lelah gazebo telah disiapkan untuk bersantai melepas lelah. Banyak pilihan dari wisata ini.* 

Berita Terkait