Penyiksa TKI Divonis Ringan

Penyiksa TKI Divonis Ringan

  Minggu, 18 March 2018 08:30

Berita Terkait

 

Jaksa Masih Ajukan Banding 

JAKARTA – Mahkamah Petaling Jaya, Selangor Malaysia menjatuhkan vonis denda 20 ribu Ringgit Malaysia (Rp. 70,3 juta) terhadap Rozita Mohamad Ali, majikan yang dituduh menyiksa Suyanti Sutrisno, Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Sumatera Utara pada Kamis (15/3) lalu. 

Vonis ini oleh beberapa pihak dianggap terlalu ringan. Mengingat  Suyanti telah mengalami penyiksaan yang membuatnya menderita luka serius. “Vonis ini amat ringan. Melukai rasa keadilan terhadap korban,” kata Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Migrant Care kemarin (17/3). 

Padahal, kata Wahyu, dalam berita acara pemeriksaan, Suyanti dilaporkan mengalami cedera serius di sekujur tubuh karena penganiayaan berat ”Penganiayaan yang dilakukan terhadap Suyantik menggunakan pisau, alat pel, payung, setrika dan gantungan baju,” kata Wahyu. 

Meski demikian, Jaksa telah mengajukan banding terhadap vonis ini. Pihak KBRI menyatakan akan terus memonitor proses hukum yang sedang berlangsung. “Belum ada keputusan yang bersifat incraht,” Demikian bunyi pernyataan resmi KBRI malaysia lewat Konsuler Yusron B Ambary. 

Alex Ong, Koordinator Migrant Care malaysia melaporkan, Suyanti menderita luka di beberapa bagian tubuhnya, meliputi lebam di kedua belah mata, tangan, kaki, beberapa organ dalam, pendarahan beku di bawah kulit kepala, patah tulang serta patah belikat kiri. 

Suyanti ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri di selokan Jalan PJU 3/10 Mutiara Damansara, Selangor Malaysia pada pada 21 Desember 2016 sekitar pukul 12 siang. KBRI lantas melarikan Suyanti ke RS Pusat Perubatan Universiti Malaysia (RS PPUM) untuk mendapatkan perawatan intensif. 

KBRI juga langsung melaporkan kejadian tersebut ke Kepolisian Di Raja Malaysia (PDRM) yang langsung menahan majikan Suyanti. 

Upaya hukum langsung ditempuh oleh KBRI untuk membela Suyanti. Namun tidak sepenuhnya lancar. Pada tanggal 25 Desember 2016 diperoleh informasi bahwa Rozita telah dibebaskan dengan jaminan.  

KBRI lantas mengirimkan nota kepada Kemlu Malaysia guna menyampaikan protes serta keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut dan sekaligus meminta agar pelaku diberikan hukuman yang setimpal sesuai hukum Malaysia.

Alex Ong menuturkan, ada beberapa kejanggalan dalam proses peradilan terhadap Rozita. Awalnya, Rozita didakwa dengan Seksyen 307 Kanun Keseksaan (Kekerasan) Malaysia. “Hukuman maksimalnya 20 tahun penjara,” kata Ong. 

Akan tetapi dakwaan lantas diubah ke seksyen 326 kanun kekerasan yang menyebabkan luka parah. Jika memang terbukti, Rozita bisa dihukum penjara 20 tahun, denda berikut hukuman cambuk.  

Dakwaan berubah lagi dengan hukuman yang lebih ringan. Yakni Seksyen 324 kanun kekerasan yang dengan sengaja menyebabkan cedera fisik pada Suyanti. Hukumannya adalah tiga tahun, atau denda, atau hukum cambuk. “Bisa dipilih dua dari hukuman tersebut seandainya terbukti bersalah,” kata Ong. 

Hakim Mohammad Kamil Nizam akhirnya memilih denda sebagai hukumannya dalam vonisnya. Ditambahkan kewajiban berbuat baik selama lima bulan. Yang janggal lagi, kata Ong adalah hakim peradilan dan jaksa penuntut diganti. “Hakim awalnya Mokhzani Mokhtar diganti Mohammad Kamil,” katanya.  

Perubahan tuntutan ini, Kata Wahyu Susilo,  tentu menimbulkan kejanggalan karena memperlihatkan adanya upaya untuk memperingan hukuman dan terbukti di vonis akhir, penganiaya keji Suyantik ini lolos dari penjara dan mendapatkan hukuman ringan. “Pemerintah dan KBRI harus benar-benar serius dalam memonitor kasus ini,” pungkasnya.(tau)

Berita Terkait