Pentingnya Komunikasi dalam Dunia Kedokteran

Pentingnya Komunikasi dalam Dunia Kedokteran

  Selasa, 5 December 2017 09:02   39

Oleh : Velvia Ramona

Komunikasi sangat penting dalam dunia kedokteran. Terutama, menentukan hasil diagnosa penyakit. Dalam menentukan diagnosa penyakit pada pasien hal pertama yang dilakukan seorang dokter adalah anamnesis. Anamnesis dalam dunia kedokteran ialah proses tanya jawab baik kepada pasien secara langsung maupun kepada pihak keluarga dengan tujuan menggali informasi mengenai riwayat penyakit yang kemudian dari hasil tanya jawab ini akan didapatkan sebuah diagnosa penyakit yang selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut jika diperlukan. Tanpa adanya komunikasi yang baik maka peluang terjadinya kesalahan dalam mendiagnosa dan penanganan medis akan semakin besar. 

Tak jarang kita mendengar kata ‘malapraktik’ dalam dunia kedokteran sebagaimana tindakan yang seharusnya membuat pasien lebih baik malah menjadi lebih buruk bahkan berujung pada kematian. Hal ini disebabkan oleh kurangnnya komunikasi yang baik antara dokter dengan pasien, dokter dengan keluarga pasien, ataupun antar tenaga medis.

Kesalahan berbahasa merupakan satu di antara penyebab kesalahan di atas karena berbahasa sendiri memiliki tujuan agar dicapainya suatu komunikasi yang baik yakni penerima informasi mengerti secara jelas yang disampaikan oleh pemberi informasi. Kesalahan berbahasa yang terjadi dalam berkomunikasi akan mengakibatkan pergeseran makna sehingga informasi yang diharapkan dapat diketahui dan dikerjakan dengan baik tidak tercapai. 

Satu di antara contoh kesalahan berbahasa adalah tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga informasi yang diharapkan tidak tersampaikan dan terhambatnya pelayanan medis. 

Indonesia merupakan negara yang kaya akan bahasa. Meskipun demikian, hal ini seharusnya tidaklah menjadi penghambat warga untuk melakukan komunikasi antara satu dengan lainnya karena Indonesia memiliki bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia diajarkan kepada setiap warga negara sejak berada dibangku sekolah baik itu dari tingkat pendidikan terendah yakni Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga tingkat pendidikan tertinggi yakni Perguruan Tinggi.     

Sebagai seseorang yang bekerja di dalam dunia kedokteran kesalahan berbahasa sangat perlu dihindari. Meskipun terlihat sepele namun hal ini akan berakibat fatal terhadap pasien terutama bagi seorang dokter yang merupakan perpanjangan tangan Tuhan karena nyawa seseorang berada di tangannya. 

Bayangkan saja ketika seorang dokter salah melakukan diagnosa penyakit karena informasi yang disampaikan oleh pasien atau keluarga pasien tidak sesuai kenyataan sehingga salah memberikan obat atau terjadinya miscommunication antar tenaga medis dalam melakukan operasi sehingga mengalami kesalahan seperti yang dialami oleh Jesica Santillan, pasien 17 tahun, imigran Meksiko. 

Santillan meninggal setelah dua minggu menerima cangkok jantung dan paru-paru dari orang lain dengan golongan darah berbeda. Dokter Ahli Bedah Rumah Sakit Universitas Duke di Durham gagal memeriksa kompatibilitas sebelum operasi dimulai. 

Santillan yang memiliki jenis darah O, telah menerima organ dari tipe donor A. Setelah operasi transplantasi ke dua untuk memperbaiki kesalahan, Santillan malah menderita kerusakan otak dan komplikasi lain hingga meninggal. Transplantasi jantung dan paru-paru oleh Dokter Ahli Bedah Rumah Sakit Universitas Duke di Durham diharapkan akan memperbaiki kondisi ini ternayata membuat kesalahan sehingga bukan kesehatan yang diraih melainkan kematian.

Kerja sama antar semua pihak terkait dalam hal komunikasi dalam dunia kedokteran sangatlah penting guna meningkatkan kualitas pelayanan medis dan mengurangi tindakan malapraktik yang pada kenyataannya bukanlah kesalahan penuh oleh dokter melainkan adanya pihak lain termasuk pasien sendiri. Oleh karena itu biasakanlah diri menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar agar komunikasi yang terjalin satu dengan yang lain tidak terhambat dan mengalami pergeseran makna sehingga maksud yang diharapkan untuk dipahami dapat tersampaikan. 

*) Penulis adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura