Pensiun Messi? Mengapa?

Pensiun Messi? Mengapa?

  Selasa, 28 June 2016 09:30
Lionel Messi

Berita Terkait

Ada beberapa alasan mengapa Messi menyatakan mundur dari karir internasionalnya.

Komitmen Messi pada timnas Argentina memang tidak pernah dipertanyakan. Tak ada indikasi pula dia mengakhiri karirnya di timnas Argentina.

Ryan Rosenblatt dalam foxsports.com mengulas bahwa ada beberapa kemungkinan yang melatarbelakangi keputusan Messi itu.

1. Seringnya kalah di final.

Argentina belum memenangkan trofi sejak 1993, kekeringan yang dimulai jauh sebelum Messi mulai dengan tim nasional hingga 2016 ini. Messi kecewa, dan mungkin dia tidak mau merasakan kekecewaan itu lagi. Mungkin dia tidak berpikir, dia bisa memenangkan piala untuk Argentina.

"Itu yang saya rasakan sekarang. Ini adalah kesedihan besar yang terjadi padaku lagi, fakta bahwa saya melewatkan tendangan penalti yang sangat penting. Ini untuk kebaikan semua orang. Ini tidak cukup hanya sampai ke final dan tidak menang,” katanya.

2. Bermain untuk tim nasional menjadi semacam tugas 

Di beberapa titik, ada hal yang membuat sulit bagi pemain. Sulit untuk menemukan sukacita dalam bermain kemudian tidak memenangkan gelar dianggap gagal dan anda bertanggung jawab atas kegagalan itu.

3. Masalah dengan Federasi Sepak bola Argentina

Messi menentang cara Federasi Sepakbola Argentina karena perlakuan mereka  terhadap tim. 

4. Dia tidak pensiun

Messi bisa kembali dalam beberapa hari mendatang ketika kekecewaan telah sedikit hilang, dan menyadari bahwa ia masih ingin bermain untuk negaranya. Ini bukan pertama kalinya seorang pemain mengatakan sesuatu segera setelah pertandingan yang sulit.

Sementara itu Yudha Danujatmika dalam ulasannya di Goal.com menyebutkan sosok Messi sebagai dewa tampaknya sudah pudar bersama dengan menetesnya air mata di final Copa, tapi sekarang bukan saat yang tepat untuk mundur.

Lionel Messi hanyalah manusia biasa. Pernyataan  yang klise, tapi sepertinya perlu diulang lagi dan lagi agar publik sepakbola tidak lupa.

Selama ini Messi terlalu didewakan. Ia dibingkai dengan sejuta frasa “terbaik dunia” dan “makhluk luar angkasa” oleh media atau pakar sepakbola. Ia dimahkotai sebagai raja sepakbola Spanyol. Ia dipuja dengan deretan Ballon d’Or, lalu diarak keliling Eropa bersama trofi-trofi Barcelona. Sangat jarang diungkap tentang kelemahan penyerang 29 tahun itu. Seolah-olah, cacat bukanlah bagian dari kehidupan Lionel Messi.

Namun di partai puncak Copa America Centenario, kemanusiaan kembali Messi menyeruak ke permukaan. Messi tidak hanya memikul beban Argentina, tetapi beban yang dilimpahkan seluruh dunia. Statusnya bukan sekadar bintang Argentina, melainkan pemain terbaik dunia. Ia menyokong harapan dan tuntutan dunia, kecuali Cile, untuk memenangkan gelar internasional perdananya setelah maju ke tiga final dalam tiga tahun terakhir. Apa daya, harapan tersebut berubah jadi kemalangan bagi La Pulga.

Sang raja, dewa, atau apa pun yang dipuja itu akhirnya memutuskan untuk mundur. Keputusan yang masih bisa diperdebatkan, namun kata-kata sudah keluar dari mulut La Pulga. Empat final sudah dilalui oleh Messi (Copa America 2007, 2015, 2016, dan PD 2014) dan semuanya berakhir buruk. Sekali lagi kemanusiaan Messi tampil, ia tidak bisa menahan kesedihan yang berlebih dan mengibarkan bendera putih di usia puncak pesepakbola. Tidak ada lagi Lionel Messi di kancah internasional.

Adapun Messi juga perlu mengingat bahwa dirinya adalah manusia. Air mata dan kegagalan merupakan bagian dari hidup yang normal. Sakit hati yang dirasakan pun melengkapi itu semua, tapi menyerah seringkali bukan jalan terbaik.

Di usia 29 tahun, disertai dengan bakat-bakat muda dalam diri Tiago Casasola, Geronimo Rulli, Emanuel Mammana, dan Paulo Dybala, Messi masih punya kesempatan bersama Argentina. Kekalahan dalam adu penalti dua kali hanyalah nasib malang. Dan tugas manusia adalah menghadapi kemalangan itu dengan perjuangan tanpa akhir.(**)

Berita Terkait