Penjualan Oleh-oleh Pentingnya Kreativitas Kemasan

Penjualan Oleh-oleh Pentingnya Kreativitas Kemasan

  Sabtu, 14 May 2016 14:03
ARISTONO/PONTIANAK POST KEMASAN KREATIF: Cemilan khas Kalbar mulai banyak menggunakan kemasan menarik. Hal ini terlihat dari berbagai produk yang dijual di Pameran Unggulan Khas Daerah di PCC.

Berita Terkait

Kalimantan Barat terkenal dengan berbagai cemilan khasnya. Namun banyak pelaku usaha cemilan yang masih menggunakan kemasan seadanya. Beberapa mencoba lebih kreatif dengan bungkus simpel dan menarik. Ternyata cukup digemari.

 
 
Aristono, Pontianak

PAMERAN produk unggulan nusantara di Gedung PCC, Jalan Sultan Syarif Abdurrahman, Pontianak tampak ramai pengunjung. Di sana berdiri berbagai stand produk daerah Kalbar dan provinsi lainnya, seperti sandang, pangan, kerajinan dan lain-lain. Banyak pula produk cemilan khas Kalbar yang dijual di sana. Masing-masing punya brand sendiri.

Dalam dunia usaha, nama produk atau lebih kita kenal sebagai merk/brand merupakan ujung tombak sebuah pemasaran produk. Ketika suatu produk dipasarkan, dan diterima masyarakat dengan baik, maka yang akan diingat pertama kali oleh konsumen adalah namanya. Tentu, pastinya harus ditunjang dengan kualitas produk dan kekuatan rasa.

Selain nama yang menarik, design kemasan produk juga perlu diperhatikan. Semakin unik design produk, bisa jadi hal tersebut menjadi nilai tambah bagi produk tersebut. dengan hal tersebut maka konsumen pun akan lebih mudah mengenali produk cemilan, karena desain produk yang dijual punya ciri khas yang tidak biasa.

Para pelaku UMKM Pontianak sudah mulai memahami arti penting brand dan kemasan. Salah satunya adalah Ngatoria (35 tahun). Dia adalah pemilik Kritem, sebuah produk keripik tempe dalam kemasan. Sudah tiga tahun dia membuat dan menjual kripik tempe. Produknya di rumahnya, Jalan Suwignyo, Pontianak. Hanya saja baru belakangan ini dia menggunakan kemasan khusus untuk produknya. Kemasan itu berupa kotak dari karton yang diprint berwarna kuning. Satu kota Kritem berisi 100 gram keripik tempe.

“Selama ini saya kurang paham untuk pemasaran, jadinya hanya jual keripik tanpa kemasan saja dan dijual ke dekat-dekat rumah. Tetapi teman-teman dari Himpu (Himpunan Pengusaha UMKM) Pontianak menyarankan untuk membuat kemasan dan brand. Alhamdulillah ada peningkatan penjualan,” ungkapnya.

Dalam sehari, kata dia, Kritem mampu terjual 30 kotak, alias 3 kilogram. Sementara satu kotak Kritem dihargai Rp13.000,-. Sekarang produknya sudah nangkring di pusat oleh-oleh Pontianak di kawasan PSP, Jalan Patimura. Produknya juga mulai dijual di Bandar Udara Supadio.

Hal serupa dilakukan Mardiyah. Pemilik brand Amplang Ikan Tenggiri ini juga mengandalkan penjualan produk dengan kemasan yang mirip dengan Kritem. Kemasan ini khusus dipesannya di pabrik printing di Jakarta. Ongkos produksinya sekira Rp2000 per kotak. “Tetapi ternyata menjual dalam kemasan seperti ini tidak rugi. Saya malah bangga punya brand sendiri,” sebutnya.

Cemilan khas Kayong Utara ini, sebut dia mampu terjual 30 kota per hari. Sementara harga setiap kotaknya adalah Rp17.000. “Permintaannya lumayan besar. Saya juga sudah titip jual ke PSP dan Bandara. Beberapa toko juga sudah,” sebut dia. Warga Jalan Gusti Hamzah, Pontianak ini sendiri memesan amplang langsung dari masyarakat Kayong Utara. “Tetapi saya memesannya dari satu tempat, sehingga kualitas rasa setiap produknya sama,” sebut dia.

Produk kopi juga tak mau kalah. Beberapa anak muda berusaha untuk membuat kopi khas Pontianak yang punya kemasan menarik. Mereka ingin menjadikan produk tersebut, selain untuk konsumsi masyarakat Pontianak, juga untuk oleh-oleh para tamu dan wisatawan dari luar.

Abdurrahman adalah salah satunya. Dia membuat merek dagang sendiri, yaitu Kopi Sepok. Kopi ini dikemas dalam kantong kertas dengan ukuran 100 gram.Kemasan kopi yang sudah popular digunakan adalah kantung kemasan dengan lipatan samping. Merek dagang Kopi Sepok dan informasi produk yang berseri dan terlihat jelas terpampang di kantung tersebut.

Keinginan yang sama juga ada di diri Zainur Rasyikin. Dia bersama teman-temannya menciptakan merek dagang Kopi Wak Somet. Wak adalah panggilan akrab bagi sesama teman di kalangan Melayu Kalbar. Sementara Somet artinya adalah kumis, melihat kebanyakan pendiri kopi ini berkumis. (*)

 

 

 

Berita Terkait